Jumat, 10/4/26 | 19:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Berbincang dengan Diri Sendiri

Minggu, 04/9/22 | 07:38 WIB

Oleh: Rizki Junando Sandi
(Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Kehidupan adalah suatu kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang terlahir di muka bumi. Setiap manusia diberikan berbagai macam anugerah oleh Tuhan, salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi. Manusia sebagai makhluk sosial yang bergantung pada manusia lainnya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan sebuah komunikasi yang dapat menciptakan sebuah jejaring atau relasi. Berbicara mengenai komunikasi, tentu saja memiliki konteks di dalamnya. Adapun konteks-konteks dalam komunikasi yaitu tidak berlangsung dalam ruang hampa-sosial, melainkan dalam konteks atau situasi tertentu dan secara luas konteks berarti semua faktor di luar orang-orang terdiri dari fisik, psikologis, sosial, dan waktu. Selain hal itu, komunikasi tidak terlepas dari tipe-tipe di dalamnya, yaitu komunikasi antarpribadi (interpersonal communication), komunikasi kelompok, komunikasi massa (mass communication), komunikasi publik (public communication), komunikasi organisasi (organizational communication), dan komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication).

Berbicara mengenai tipe-tipe komunikasi, tentu saja setiap manusia telah melakukan semua tipe komunikasi di dalam pengalaman hidupnya. Komunikasi tersebut dapat terjadi di bangku pendidikan, pergaulan, dan lainnya. Namun, semakin berkembangnya zaman, manusia semakin disibukkan dengan persaingan dan kompetisi. Adanya kompetisi ini dikarenakan dunia semakin menuntut manusia untuk terus berkembang dan bersaing agar dapat mencapai sebuah keberhasilan. Hal tersebut patut dicontoh jika seseorang mampu untuk menciptakan kestabilan antara kompetisi dan kehidupannya. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir jika manusia terlalu ambisius untuk memenangkan kompetisi tersebut tanpa memikirkan kestabilan dirinya sendiri? Menurut World Health Organization (WHO), setiap detiknya terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh penjuru dunia.

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Angka orang kehilangan nyawa akibat bunuh diri, bahkan lebih parah dibandingkan jumlah orang yang terbunuh akibat perperangan. Total terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Banyak faktor yang menyebabkan manusia kehilangan arah dan memutuskan untuk bunuh diri, salah satunya depresi. Depresi dapat didefinisikan sebagai gangguang jiwa manusia yang ditandai dengan perasaan yang merosot. Perasaan muram, sedih, tertekan, stres, dan lainnya merupakan tanda adanya depresi. Hal ini dikarenakan manusia tersebut kurang berbincang dan berkomunikasi dengan diri sendiri.

Ketika seseorang mengalami depresi akan terlihat jelas bentuk tingkah laku dan perasaan yang ditimbulkan. Kompetisi dalam karir dan dunia kerja biasanya merupakan penyumbang terbesar orang-orang yang mengalami depresi hingga memutuskan untuk bunuh diri. Pengendalian emosi dan psikologi sangat sukar dilakukan ketika seseorang mengalami depresi. Bunuh diri pun menjadi jalan terakhir untuk menyembuhkan depresi, tetapi tidak dapat menyembuhkan penyesalan nantinya. Kurangnya berkomunikasi dengan diri sendiri adalah pendukung utama depresi untuk menguasai jiwa manusia.

Sejatinya, ketika manusia mampu melakukan komunikasi intrapersonal, depresi pun dapat dikontrol. Hal ini menyangkut tentang berbincang dengan jiwa dan hati. Sebuah kasus terjadi di Korea Selatan, ketika salah satu personel girlband ternama di sana memutuskan untuk bunuh diri setelah mengalami tekanan dan depresi dalam dunia kerjanya. Keputusan tersebut diambilnya karena perasaan yang semakin tertekan dan tidak mampu berbincang dengan diri sendiri. Jika bunuh diri menjadi keputusan, tidak akan ada obat untuk menyembuhkan penyesalannya.

Berbincang dengan diri sendiri merupakan jalan terbaik untuk menyembuhkan perasaan sedih, tertekan, muram, dan depresi tersebut. Sebagai manusia yang diciptakan sempurna oleh Tuhan harus mampu menjadi komunikator dan komunikan sekaligus lewat berbincang dengan diri sendiri. Kita harus mampu mengetuk jiwa dan perasaan agar mencari jalan terbaik dalam memecahkan setiap permasalahan. Selain itu, refleksi diri dan memberikan pesan positif kepada jiwa dan hati merupakan penyembuhan yang ampuh agar perasaan semakin membaik. Tatkala sadar bahwa kita membutuhkan teman dan sahabat agar dapat mendengar keluh kesah, tetapi hal tersebut tidak akan maksimal ketika kita tidak menyeimbangkan komunikasi dengan diri sendiri. Berbincang dengan diri sendiri dan merefleksikan diri merupakan jalan ampuh yang disediakan oleh Tuhan agar setiap permasalahan kita dapat diselesaikan. Menghargai setiap kerja keras dengan merendahkan ego juga menjadi alternatif untuk menyampaikan pesan positif kepada jiwa dan pikiran. Cobalah berbincang dengan diri sendiri dan rasakan betapa rindunya perasaan dan jiwa kita terhadap cerita dan keluh kesah kehidupan.

Tags: #Rizki Junando Sandi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Melek Bahaya Pestisida, Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat

Berita Sesudah

Sambat dan Kawan-Kawannya

Berita Terkait

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa merupakan sistem tanda yang tidak hanya berfungsi sebagai...

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Belakangan ini, di...

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Berita Sesudah
Beragam Kemungkinan Seseorang Tidak Bisa Pegang Omongan

Sambat dan Kawan-Kawannya

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026