Lelaki Medang Batu

Cerpen: Putra Santoso Dan ketika gerimis senja mulai merinai di pangkal tebing, tiba-tiba selaksa luka kembali menyeruak dengan semenah-mena. Luka atas kenangan

Serumit Nayya

Cerpen : Condra Antoni   From: Garuh To: “Nayya” Date:  Sat, Feb 16, 2019 at 7:18 PM Subject:  Apa Kabar Hai Nayya.

Anak Ibu

Cerpen: Azwar Sutan Malaka Suara adzan yang merdu tak sanggup menjawab pertanyaan di kepala Sri. Pertanyaan yang sudah lama ada dalam kepalanya.

Azka Sofa

Ia menatap jam tangan gold-white yang meringkuk manis di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan 8.30 waktu Korea Selatan. Mereka harus segera berlari jika tidak mau ketinggalan jihacol atau kereta bawah tanah jalur Seoul Station-City Hall. Kereta akan tiba dalam waktu 5 menit. Pemberitahuannya terpampang jelas di layar LCD besar yang ada di ruang tunggu. Pemberitahuan itu akurat sesuai dengan sistem perkalian matematika yang rumit hingga membentuk sebuah akurasi sistem yang berlaku di salah satu negara maju di Asia Timur Raya ini.

Eighteen

“Usia 18 tahun bukanlah usia yang bebas, karena kami akan selalu merasa serius untuk setiap momen” Namaku Hanaira, biasa dipanggil dengan sebutan

That Dazzling Day

“Nal neomu neomu neomu johahamyeon geuttae malhaejwo.” “Naega jakku jakku jakku tteoorumyeon geuttae bulleojwo.” Suara Somi dan kawan-kawan bernyanyi dengan semangat memenuhi

LIFE RIDDLE

Kupikir manusia itu menyukai hal-hal yang tinggi. Pendidikan yang tinggi, gaji yang tinggi, derajat yang tinggi, segala yang tinggi. Kupikir manusia juga

“Last Birthday”

    “Lee Hana!” panggil ibuku terus menerus.  Aku yang tadinya tengah fokus di depan meja rias sedikit menoleh ke arah pintu kamarku.