Rabu, 27/5/26 | 21:03 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Berbincang dengan Diri Sendiri

Minggu, 04/9/22 | 07:38 WIB

Oleh: Rizki Junando Sandi
(Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Kehidupan adalah suatu kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang terlahir di muka bumi. Setiap manusia diberikan berbagai macam anugerah oleh Tuhan, salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi. Manusia sebagai makhluk sosial yang bergantung pada manusia lainnya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan sebuah komunikasi yang dapat menciptakan sebuah jejaring atau relasi. Berbicara mengenai komunikasi, tentu saja memiliki konteks di dalamnya. Adapun konteks-konteks dalam komunikasi yaitu tidak berlangsung dalam ruang hampa-sosial, melainkan dalam konteks atau situasi tertentu dan secara luas konteks berarti semua faktor di luar orang-orang terdiri dari fisik, psikologis, sosial, dan waktu. Selain hal itu, komunikasi tidak terlepas dari tipe-tipe di dalamnya, yaitu komunikasi antarpribadi (interpersonal communication), komunikasi kelompok, komunikasi massa (mass communication), komunikasi publik (public communication), komunikasi organisasi (organizational communication), dan komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication).

Berbicara mengenai tipe-tipe komunikasi, tentu saja setiap manusia telah melakukan semua tipe komunikasi di dalam pengalaman hidupnya. Komunikasi tersebut dapat terjadi di bangku pendidikan, pergaulan, dan lainnya. Namun, semakin berkembangnya zaman, manusia semakin disibukkan dengan persaingan dan kompetisi. Adanya kompetisi ini dikarenakan dunia semakin menuntut manusia untuk terus berkembang dan bersaing agar dapat mencapai sebuah keberhasilan. Hal tersebut patut dicontoh jika seseorang mampu untuk menciptakan kestabilan antara kompetisi dan kehidupannya. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir jika manusia terlalu ambisius untuk memenangkan kompetisi tersebut tanpa memikirkan kestabilan dirinya sendiri? Menurut World Health Organization (WHO), setiap detiknya terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh penjuru dunia.

BACAJUGA

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Angka orang kehilangan nyawa akibat bunuh diri, bahkan lebih parah dibandingkan jumlah orang yang terbunuh akibat perperangan. Total terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Banyak faktor yang menyebabkan manusia kehilangan arah dan memutuskan untuk bunuh diri, salah satunya depresi. Depresi dapat didefinisikan sebagai gangguang jiwa manusia yang ditandai dengan perasaan yang merosot. Perasaan muram, sedih, tertekan, stres, dan lainnya merupakan tanda adanya depresi. Hal ini dikarenakan manusia tersebut kurang berbincang dan berkomunikasi dengan diri sendiri.

Ketika seseorang mengalami depresi akan terlihat jelas bentuk tingkah laku dan perasaan yang ditimbulkan. Kompetisi dalam karir dan dunia kerja biasanya merupakan penyumbang terbesar orang-orang yang mengalami depresi hingga memutuskan untuk bunuh diri. Pengendalian emosi dan psikologi sangat sukar dilakukan ketika seseorang mengalami depresi. Bunuh diri pun menjadi jalan terakhir untuk menyembuhkan depresi, tetapi tidak dapat menyembuhkan penyesalan nantinya. Kurangnya berkomunikasi dengan diri sendiri adalah pendukung utama depresi untuk menguasai jiwa manusia.

Sejatinya, ketika manusia mampu melakukan komunikasi intrapersonal, depresi pun dapat dikontrol. Hal ini menyangkut tentang berbincang dengan jiwa dan hati. Sebuah kasus terjadi di Korea Selatan, ketika salah satu personel girlband ternama di sana memutuskan untuk bunuh diri setelah mengalami tekanan dan depresi dalam dunia kerjanya. Keputusan tersebut diambilnya karena perasaan yang semakin tertekan dan tidak mampu berbincang dengan diri sendiri. Jika bunuh diri menjadi keputusan, tidak akan ada obat untuk menyembuhkan penyesalannya.

Berbincang dengan diri sendiri merupakan jalan terbaik untuk menyembuhkan perasaan sedih, tertekan, muram, dan depresi tersebut. Sebagai manusia yang diciptakan sempurna oleh Tuhan harus mampu menjadi komunikator dan komunikan sekaligus lewat berbincang dengan diri sendiri. Kita harus mampu mengetuk jiwa dan perasaan agar mencari jalan terbaik dalam memecahkan setiap permasalahan. Selain itu, refleksi diri dan memberikan pesan positif kepada jiwa dan hati merupakan penyembuhan yang ampuh agar perasaan semakin membaik. Tatkala sadar bahwa kita membutuhkan teman dan sahabat agar dapat mendengar keluh kesah, tetapi hal tersebut tidak akan maksimal ketika kita tidak menyeimbangkan komunikasi dengan diri sendiri. Berbincang dengan diri sendiri dan merefleksikan diri merupakan jalan ampuh yang disediakan oleh Tuhan agar setiap permasalahan kita dapat diselesaikan. Menghargai setiap kerja keras dengan merendahkan ego juga menjadi alternatif untuk menyampaikan pesan positif kepada jiwa dan pikiran. Cobalah berbincang dengan diri sendiri dan rasakan betapa rindunya perasaan dan jiwa kita terhadap cerita dan keluh kesah kehidupan.

Tags: #Rizki Junando Sandi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Melek Bahaya Pestisida, Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat

Berita Sesudah

Sambat dan Kawan-Kawannya

Berita Terkait

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Minggu, 24/5/26 | 18:09 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Pesisir Selatan)   Pesisir Selatan merupakan salah satu kabupaten di Sumatera...

Batu dan Zaman

Seksisme dalam Judul Buku-buku Islami: Analisis Kritis Norman Fairclough

Minggu, 17/5/26 | 15:01 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Seksisme dalam media dan komunikasi massa berasal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Minggu, 17/5/26 | 14:34 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Razia Tambang Timah Ilegal Hutan Lindung Belitung

Minggu, 17/5/26 | 14:11 WIB

Oleh: Derry Sanjaya (Mahasiswa Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Andalas)   Ada yang aneh ketika sebuah kawasan hutan lindung bisa...

Berita Sesudah
Beragam Kemungkinan Seseorang Tidak Bisa Pegang Omongan

Sambat dan Kawan-Kawannya

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sapi Qurban Bantuan Presiden Jadi Sejarah Baru di Jorong Pasar Lama Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Penggunaan Tanda Garis Miring

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wujudkan Progul Padang Juara Pemko Padang Jalin Kerjasama dengan Universiti Kuala Lumpur (UniKL) Malaysia Wujudkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HI UNAND dan Muhammadiyah Sumbar Bahas ABS-SBK dan Global Values

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026