Selasa, 11/8/26 | 03:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas
(Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)

 

Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia. Sejak era reformasi, pemilu dipandang sebagai mekanisme paling sah untuk menyalurkan kedaulatan rakyat. Namun, di balik gegap gempita pesta demokrasi, pertanyaan mendasar terus mengemuka adalah; apakah pemilu di Indonesia telah mencerminkan demokrasi yang substantif, atau sekadar berhenti pada demokrasi yang prosedural?

BACAJUGA

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB
Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Secara prosedural, Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan. Pemilu dilaksanakan secara periodik, melibatkan banyak partai politik, diawasi oleh lembaga independen, dan memberikan ruang partisipasi luas bagi masyarakat. Rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpin dan wakilnya secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Dari sisi ini, Indonesia patut diapresiasi sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Namun, demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering pemilu diselenggarakan, melainkan juga dari kualitas proses dan hasilnya. Dalam praktiknya, pemilu masih diwarnai berbagai persoalan klasik seperti politik uang, politisasi identitas, penyebaran hoaks, hingga rendahnya literasi politik masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemilu sering kali dipahami sebatas ajang kompetisi merebut suara, bukan sebagai sarana pendidikan politik dan pembentukan kepemimpinan yang berintegritas.

Selain itu, dominasi elite politik dan oligarki ekonomi dalam kontestasi pemilu juga menjadi tantangan serius. Biaya politik yang tinggi membuat hanya segelintir orang dengan modal besar yang mampu bersaing. Akibatnya, representasi rakyat sering kali tereduksi menjadi representasi kepentingan elite. Demokrasi pun berisiko menjadi formalitas belaka, di mana rakyat hanya berperan sebagai pemberi suara tanpa memiliki pengaruh nyata dalam proses pengambilan kebijakan.

Di sisi lain, peran masyarakat sipil, media, dan lembaga pendidikan sangat krusial dalam memperkuat kualitas pemilu. Pendidikan politik harus diarahkan pada pembentukan pemilih rasional, kritis, dan beretika. Media massa dan media sosial perlu menjalankan fungsi edukatif, bukan sekadar sensasional. Sementara itu, penyelenggara pemilu harus terus meningkatkan integritas, transparansi, dan profesionalisme agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Pemilu sejatinya bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Demokrasi substantif hanya akan terwujud apabila pemilu melahirkan pemimpin yang responsif, kebijakan yang pro-rakyat, serta sistem politik yang adil dan inklusif. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi rutinitas lima tahunan yang kehilangan makna.

Akhirnya, pemilu di Indonesia harus dipandang sebagai proses berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas demokrasi. Tantangan yang ada tidak boleh membuat kita pesimis, melainkan menjadi dorongan untuk terus melakukan reformasi politik. Rakyat, partai politik, pemerintah, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pemilu benar-benar menjadi sarana perwujudan kedaulatan rakyat, bukan sekadar prosedur formal yang hampa substansi.

Tags: #Firnanda Amdimas
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dorong Kemajuan Peternakan Daerah, DPRD Sumbar Kaji Potensi Pakan Maggot

Berita Sesudah

Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

Berita Terkait

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB

Oleh: Devi Analia (Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Akses pembiayaan kerap menjadi hambatan utama bagi petani kecil...

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Oleh: Kevin Amnur Jonata (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Buka X sekarang dan hampir dapat dipastikan ada...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Minangkabau merupakan sebuah suku bangsa di Sumatera Barat...

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga...

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Oleh: Aruusalkhofiqoni Bahri Chaniago, Lc. (Alumni Dirasat Islamiyah, Ibn Tofail University, Kenitra, Maroko dan Aktif Mengkaji Hadis, Tradisi Keilmuan Islam,...

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Berita Sesudah
Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran saat meresmikan jembatan Helsheim di Batang Arau

    Wali Kota Padang Resmikan Jembatan Hildesheim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026