Rabu, 18/2/26 | 16:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas
(Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)

 

Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia. Sejak era reformasi, pemilu dipandang sebagai mekanisme paling sah untuk menyalurkan kedaulatan rakyat. Namun, di balik gegap gempita pesta demokrasi, pertanyaan mendasar terus mengemuka adalah; apakah pemilu di Indonesia telah mencerminkan demokrasi yang substantif, atau sekadar berhenti pada demokrasi yang prosedural?

BACAJUGA

No Content Available

Secara prosedural, Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan. Pemilu dilaksanakan secara periodik, melibatkan banyak partai politik, diawasi oleh lembaga independen, dan memberikan ruang partisipasi luas bagi masyarakat. Rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpin dan wakilnya secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Dari sisi ini, Indonesia patut diapresiasi sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Namun, demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering pemilu diselenggarakan, melainkan juga dari kualitas proses dan hasilnya. Dalam praktiknya, pemilu masih diwarnai berbagai persoalan klasik seperti politik uang, politisasi identitas, penyebaran hoaks, hingga rendahnya literasi politik masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemilu sering kali dipahami sebatas ajang kompetisi merebut suara, bukan sebagai sarana pendidikan politik dan pembentukan kepemimpinan yang berintegritas.

Selain itu, dominasi elite politik dan oligarki ekonomi dalam kontestasi pemilu juga menjadi tantangan serius. Biaya politik yang tinggi membuat hanya segelintir orang dengan modal besar yang mampu bersaing. Akibatnya, representasi rakyat sering kali tereduksi menjadi representasi kepentingan elite. Demokrasi pun berisiko menjadi formalitas belaka, di mana rakyat hanya berperan sebagai pemberi suara tanpa memiliki pengaruh nyata dalam proses pengambilan kebijakan.

Di sisi lain, peran masyarakat sipil, media, dan lembaga pendidikan sangat krusial dalam memperkuat kualitas pemilu. Pendidikan politik harus diarahkan pada pembentukan pemilih rasional, kritis, dan beretika. Media massa dan media sosial perlu menjalankan fungsi edukatif, bukan sekadar sensasional. Sementara itu, penyelenggara pemilu harus terus meningkatkan integritas, transparansi, dan profesionalisme agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Pemilu sejatinya bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Demokrasi substantif hanya akan terwujud apabila pemilu melahirkan pemimpin yang responsif, kebijakan yang pro-rakyat, serta sistem politik yang adil dan inklusif. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi rutinitas lima tahunan yang kehilangan makna.

Akhirnya, pemilu di Indonesia harus dipandang sebagai proses berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas demokrasi. Tantangan yang ada tidak boleh membuat kita pesimis, melainkan menjadi dorongan untuk terus melakukan reformasi politik. Rakyat, partai politik, pemerintah, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pemilu benar-benar menjadi sarana perwujudan kedaulatan rakyat, bukan sekadar prosedur formal yang hampa substansi.

Tags: #Firnanda Amdimas
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Wajib Halal Berlaku 2026, Kemenag Dorong Penguatan Ekosistem

Berita Sesudah

Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Minggu, 25/1/26 | 15:00 WIB

Oleh: Nurvita Wijayanti (Pemerhati bahasa dari Kepulauan Bangka Belitung) Apakah Anda pernah menemukan postingan di Instagram tentang bahasa lokal yang...

Berita Sesudah
Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

POPULER

  • Temuan Bakteri, BGN Hentikan Operasional Dapur Sang Surya Sungai Rumbai

    Temuan Bakteri, BGN Hentikan Operasional Dapur Sang Surya Sungai Rumbai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puluhan Siswa SMA di Sungai Rumbai Dharmasraya Diduga Keracunan MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 13 Prodi FISIP UNAND Berhasil Raih Predikat “Unconditional” Akreditasi Internasional ACQUIN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Ramadan 1447 H, PD Muhammadiyah Pariaman Ikuti Maklumat Pimpinan Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024