Senin, 13/7/26 | 20:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani
(Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)

 

Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan Universitas Andalas mengikuti kegiatan Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 yang diselenggarakan oleh Times Higher Education (THE). Kegiatan ini berlangsung pada 22-25 Juni 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Sebagai forum akademik internasional, kegiatan ini tentu memberi banyak catatan penting tentang kerja sama, reputasi perguruan tinggi, dan isu-isu pembangunan berkelanjutan. Namun, di luar agenda besar itu, ada satu pengalaman kecil yang justru tertinggal cukup lama dalam ingatan saya. Pengalaman itu berkaitan dengan bahasa.

BACAJUGA

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB
Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Ceritanya bermula pada hari pertama ketika kami hendak menuju lokasi acara. Di dalam mobil, perjalanan menuju ICE BSD berlangsung santai. Beberapa di antara kami berbincang ringan tentang rute, lokasi penginapan, dan nama-nama tempat di sekitar Jakarta dan Tangerang. Dalam percakapan itulah, saya menangkap beberapa pelafalan yang menarik. Ada teman yang menyebut “Tangerang” dengan bunyi e tebal. Ada pula yang terdengar menyebutnya menjadi “Tanggerang”, seolah-olah ada penyisipan bunyi /g/ di tengah kata tersebut.

Seketika suasana mobil menjadi riuh. Beberapa teman lain tertawa karena merasa ada yang janggal dari pengucapan itu. Bukan karena nama kota tersebut asing, melainkan karena bunyi yang muncul terdengar berbeda dari pelafalan yang biasa mereka dengar. Saya pun ikut tertawa. Akan tetapi, sebagai orang yang pernah belajar linguistik, saya merasa ada baiknya peristiwa kecil itu dilihat bukan sekadar sebagai bahan tawa, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami cara kerja bunyi dalam bahasa. Dari kejadian sederhana itu, tampak bahwa pelafalan sebuah kata tidak hanya ditentukan oleh huruf yang tertulis, tetapi juga oleh kebiasaan bunyi yang telah lama melekat pada diri penuturnya.

Dalam kasus “Tangerang”, setidaknya ada dua hal yang terdengar menarik. Pertama, bunyi e yang berubah menjadi lebih tebal. Kedua, munculnya bunyi /g/ tambahan sehingga kata itu terdengar seperti “Tanggerang”. Dari sini tampak bahwa satu nama tempat pun dapat berubah bunyinya ketika berpindah dari tulisan ke lisan.

Dalam bahasa tulis, persoalan seperti ini memang tidak terlihat. Kita hanya melihat satu bentuk, yaitu “Tangerang”. Namun, ketika kata itu diucapkan, persoalannya menjadi lebih menarik. Huruf e dalam bahasa Indonesia tidak selalu berbunyi sama. Ada e yang berbunyi /ə/, seperti dalam kata besar, benar, dekat, lemah, kemarin, dan Tangerang. Ada pula e yang berbunyi /e/ atau /ɛ/, seperti dalam kata sate, lele, bebek, nenek, meja, dan merah. Perbedaan ini sering tidak disadari karena ejaan bahasa Indonesia tidak memberi tanda khusus untuk membedakan bunyi-bunyi tersebut.

Bagi penutur yang sejak kecil terbiasa membedakan bunyi /ə/ dan /e/, pengucapan kata “Tangerang” mungkin tidak terasa sulit. Akan tetapi, bagi penutur bahasa daerah yang sistem bunyinya tidak mengenal /ə/ sebagai fonem yang kuat atau lazim, pelafalan tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri. Bunyi yang kurang akrab di telinga dan lidah penutur cenderung disesuaikan dengan bunyi yang lebih dikenal. Akibatnya, bunyi /ə/ dapat terdengar berubah menjadi e tebal.

Hal serupa dapat kita dengar pada nama-nama tempat lain. Kata “Tebet”, “Senen”, “Depok”, “Kemang”, “Menteng”, “Serang”, “Semarang”, “Cengkareng”, “Kebayoran”, “Kebon Jeruk”, “Pesanggrahan”, dan “Petamburan” juga dapat menimbulkan variasi pelafalan. Ada orang yang mengucapkannya sesuai dengan pelafalan yang umum terdengar di wilayah tersebut. Ada pula yang mengucapkannya dengan pola bunyi yang lebih dekat dengan bahasa pertama atau bahasa daerahnya. Nama tempat ternyata tidak selalu “netral” ketika berpindah dari tulisan ke lisan.

Untungnya, ilmu bahasa menyediakan cara untuk membaca gejala kecil seperti ini dengan lebih tenang. Dalam linguistik, persoalan semacam ini dapat dibahas melalui fonologi, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji sistem bunyi. Fonologi tidak hanya membicarakan bunyi apa saja yang ada dalam suatu bahasa, tetapi juga bagaimana bunyi itu digunakan dan bagaimana bunyi tersebut membedakan makna.

Dalam konteks bahasa Minangkabau, bunyi /ə/ tidak memiliki posisi yang sama seperti dalam bahasa Indonesia. Sistem vokal bahasa Minangkabau tidak menjadikan /ə/ sebagai fonem yang lazim berdiri sendiri seperti dalam bahasa Indonesia. Karena itu, ketika penutur Minangkabau berbahasa Indonesia dan harus mengucapkan kata-kata yang mengandung bunyi /ə/, mereka cenderung menyesuaikannya dengan bunyi yang lebih akrab. Maka, tidak mengherankan jika “Tangerang” dapat terdengar dengan e tebal ketika diucapkan oleh penutur tertentu.

Lalu, bagaimana dengan “Tanggerang”? Gejala ini juga menarik. Dalam fonologi, penyisipan bunyi di antara dua bunyi lain dikenal dengan istilah epentesis. Secara sederhana, epentesis adalah penambahan bunyi agar sebuah kata terasa lebih mudah atau lebih nyaman diucapkan. Dalam kasus “Tanggerang”, bunyi /g/ seolah-olah disisipkan setelah bunyi /ŋ/ sehingga kata “Tangerang” terdengar berubah menjadi “Tanggerang”. Penyisipan semacam ini tidak selalu disadari oleh penuturnya. Sering kali, penutur merasa ia mengucapkan kata itu secara biasa saja, padahal telinga orang lain menangkap adanya bunyi tambahan.

Fenomena ini tentu bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu berbahasa Indonesia. Justru, hal seperti ini menunjukkan bahwa bahasa pertama memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara seseorang menggunakan bahasa lain. Dalam linguistik, gejala tersebut dikenal dengan istilah transfer bahasa. Robert Lado menjelaskan bahwa penutur cenderung membawa bentuk dan makna dari bahasa pertamanya ketika mempelajari atau menggunakan bahasa lain. Pengaruh itu tidak hanya muncul dalam tata bahasa atau pilihan kata, tetapi juga dalam pelafalan.

Dalam kasus “Tangerang”, penutur Minangkabau tidak sedang menciptakan pelafalan yang berbeda tanpa sebab. Ia membawa kebiasaan fonologis dari bahasa pertamanya ke dalam bahasa Indonesia. Hal serupa sering terjadi ketika penutur Indonesia belajar bahasa asing. Banyak penutur Indonesia, misalnya, kesulitan mengucapkan bunyi /θ/ dalam kata think atau bunyi /ð/ dalam kata this. Bunyi-bunyi itu sering diganti dengan /t/, /d/, atau /s/ karena tidak terdapat dalam sistem bunyi bahasa Indonesia.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan Eckman bahwa unsur bahasa yang berbeda dari bahasa pertama penutur cenderung lebih sulit dikuasai. Dengan kata lain, kesulitan pelafalan sering kali dapat diperkirakan dari jarak antara sistem bunyi bahasa ibu dan bahasa yang sedang digunakan. Jadi, persoalan pelafalan bukan semata-mata soal kemauan, kebiasaan buruk, atau kurang teliti. Ada sistem bahasa yang bekerja di baliknya.

Namun, perbedaan pelafalan tidak selalu harus dipandang sebagai kesalahan. Dalam banyak situasi, variasi pelafalan justru menjadi bagian dari kekayaan bahasa. Dari sisi mikrolinguistik, perbedaan itu dapat dilihat sebagai gejala fonologis, yakni bagaimana seseorang membunyikan vokal, konsonan, tekanan, dan intonasi tertentu. Akan tetapi, dari sisi makrolinguistik, pelafalan juga berkaitan dengan identitas sosial, asal daerah, lingkungan pergaulan, dan pengalaman berbahasa seseorang.

Logat Minangkabau, Jawa, Batak, Sunda, Bugis, atau daerah lain merupakan identitas kebahasaan yang memperkaya bahasa Indonesia. Kita dapat mengenali latar daerah seseorang bukan hanya dari pilihan katanya, melainkan juga dari irama, tekanan, dan caranya membunyikan vokal atau konsonan tertentu. Kadang-kadang, satu bunyi kecil saja sudah cukup memberi petunjuk dari mana seseorang berasal atau bahasa apa yang paling akrab dengannya sejak kecil.

Tentu saja, dalam situasi tertentu, pelafalan baku tetap diperlukan. Dalam pembacaan berita, pidato resmi, pembelajaran bahasa, atau komunikasi lintas daerah yang menuntut kejelasan tinggi, penutur perlu berusaha menyesuaikan pelafalannya dengan bentuk yang lebih umum dipahami. Akan tetapi, dalam percakapan sehari-hari, pengaruh bahasa pertama adalah sesuatu yang sangat alami.

Pada akhirnya, cara kita berbicara tidak pernah benar-benar lepas dari tempat kita tumbuh. Lidah kita menyimpan sejarah: bahasa ibu yang kita dengar sejak kecil, keluarga yang membentuk kebiasaan bicara, lingkungan sosial yang memperkuat logat, dan pengalaman baru yang perlahan-lahan mengubah cara kita berbahasa. Oleh karena itu, ketika seseorang menyebut “Tangerang” dengan e tebal atau terdengar seperti “Tanggerang”, kita tidak perlu buru-buru menganggapnya keliru secara mutlak.

Dari peristiwa kecil di perjalanan menuju ICE BSD itu, saya belajar kembali bahwa bahasa selalu menyimpan penjelasan ilmiah di balik hal-hal yang tampak sederhana. Satu kata “Tangerang” saja dapat membawa kita pada pembahasan tentang fonologi, bahasa ibu, transfer bahasa, epentesis, dan keragaman logat di Indonesia. Oleh sebab itu, mendengar perbedaan pelafalan sebaiknya tidak hanya membuat kita tertawa, tetapi juga membuat kita lebih peka: setiap bunyi yang keluar dari lidah seseorang sering kali membawa jejak perjalanan bahasa yang panjang.

Tags: #Mita Handayani
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Polres Dharmasraya Ringkus Tersangka Curanmor AH Alias Kencun, Hasil Pengembangan Kasus

Berita Sesudah

Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

Berita Terkait

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

Senin, 13/7/26 | 07:19 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti (Mahasiswa Sastra Indonesia  FIB Universitas Andalas)   Apa jadinya kalau matematika yang rumit harus bertarung melawan...

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin rapat pertemuan lanjutan dengan Foshan Polytechnic, Selasa (7/7).

    Wali Kota Padang Kunjungi Fosan Polytechnic

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026