Senin, 13/7/26 | 20:19 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

 

Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat diperlukan. Kreativitas menjadi  sesuatu pembeda dalam kehidupan manusia. Dengan adanya kreativitas, peradaban manusia tidak pernah berjalan di tempat, selalu berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Kreativitas itu sendiri memberikan banyak warna dalam kehidupan manusia sehingga manusia selalu dituntut kreatif dalam hidupnya guna meningkatkan kualitas hidup. Salah satu bentuk kreativitas manusia dalam kehidupannya, yaitu; kreativitas dalam berbahasa. Peran bahasa dalam kehidupan manusia selain sebagai alat komunikasi, juga sebagai media untuk melakukan dan melahirkan pikiran kreatif.

BACAJUGA

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB
Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Mari sekilas kita perhatikan penamaan makanan mie yang dijual di kota Padang! Penamaan makanan ini merupakan wujud dari kreativitas berbahasa masyarakat Minang, seperti penamaan makanan mie: mie nerako, mie nuklir, mie becek, mie judes neraka, mie pedas gila, mie setan, mie setan galau, mie raja setan broken heart, mie lebe, mie jutek. mie setan sadis, mie gilo, mie api narako, mie padeh jeletot, mie caruik, mie padeh taparogok mantan, mie pelakor, mie sakau, dan masih banyak lagi penamaan mie-mie  lainnya yang bisa kita jumpai di banyak warung dan cafe di kota Padang.

Kreativitas (dalam KBBI Daring) adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pada konteks kreativitas dalam berbahasa, tentu saja maksudnya adalah kemampuan manusia menciptakan hal-hal yang baru dalam suatu bahasa. Manusia menciptakan bentuk-bentuk kebahasaan baru dari bentuk-bentuk bahasa sebelumnya dengan tujuan tertentu maupun hanya untuk gaya-gayaan saja, seperti; idiom, jargon, argot, slang, singkatan, penamaan, bahasa gaul, bahasa alay, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu di kota Padang, pokok pembicaraan mengenai nama-nama mie menjadi jadi buah bibir di kalangan masyarakat luas sampai hari ini.. Hal tersebut telah menjadi fenomena kebahasaan tersendiri di ranah Minang. Memang, penamaan makanan bisa dikategorikan ke dalam bentuk kreativitas berbahasa. Namun, kreativitas berbahasa demikian dibingkai ke dalam bentuk kreativitas berbahasa yang anomali. Berbahasa yang anomali merupakan aktivitas berbahasa yang menyimpang dari kaidah-kaidah sosial-budaya berbahasa masyarakat dan tidak ada sama sekali acuannya.

Hal ini terlihat dari contoh  penamaan mie setan sadis. Penamaan ini tidak ada acuannya dan sulit sekali menemukan relasi kata dengan maknanya terhadap makanan mie. Kata setan bermakna roh jahat yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat, dan kata sadis bermakna tidak mengenal rasa kasihan; kejam; ganas; kasar (KBBI Daring). Kemudian kata setan dan sadis dilekatkan pada kata mie menjadi mie setan sadis. Apakah mie ini diperuntukkan untuk para setan yang sadis? atau kata ini hadir tanpa makna begitu saja, atau kata ini ingin menggambar rasa pedas pada mie yang begitu sangat?  Dari beberapa diskusi dengan para penikmat mie ini, penamaan mie setan sadis itu sebenarnya untuk menggambarkan rasa pedas yang terlalu,   menarik perhatian para pelanggan, serta  mudah untuk diingat namanya karena beda dari yang lain. Sama halnya dengan penamaan mie narako. Narako adalah bahasa Minang dari  ‘neraka’. Neraka adalah kata yang ranah pemakaiannya berada dalam bidang agama.

Tidak ada seorang pun di dunia ini ingin merasakan panasnya api neraka dan tidak pula ada orang yang pernah merasakannya. Tiba-tiba kata tersebut dipersandingkan dengan mie, terasa agak asing dan aneh rasanya makan mie narako. Betul-betul tidak ada acuannya yang jelas atas penamaan ini. Sifatnya hanya manasuka saja. Akan tetapi, muncul tanda tanya besar, apakah boleh kita menggunakan kata-kata negatif atau konotasi negatif  untuk penamaan sesuatu makanan yang akan kita makan?  Jawabannya tidak boleh.

Dasar jawaban tidak  boleh tersebut merujuk dari ajaran agama Islam yang mengatakan bahwa setiap kata yang kita ucapkan ataupun tuliskan itu adalah doa. Secara pemaknaan bisa diasumsikan sebagai salah satu alasan mengapa sangat dikhwatirkan akan keluarnya ucapan yang tidak  diinginkan karena bisa saja berbuah kenyataan. Apalagi, masyakarat Minang terkenal berpegang teguh pada adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah, dalam penjabarannya adat yang ditopang  oleh syariat agama Islam, yang syariat tersebut berdasarkan  pada al-Quran dan Hadist. Untuk penamaan nama- nama anak saja di Minangkabau, masyarakat Minang merujuk pada nama-nama dalam Islam yang memiliki makna atau pengharapan yang baik. Lalu, terkadang dilekatkan pula nama suku untuk identitas kelompok/kesukuan. Begitulah, kebiasan orang Minang dalam memberikan nama anak ataupun nama lainnya. Kalau gejala berbahasa yang anomali ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan akan muncul nama-nama anak ke depannya, seperti; Dajjal, Kafir, Murtad, Putri Api Narako, Putra Setan Sadis, Putri Pelakor, Bujang Lebe, Gadis Putri Sakau, Buyung Caruik Sadis, Upik Putri Jin, dan sebagainya.

Dalam kajian semantik/makna, fenomena penamaan mie di kota Padang tersebut dapat diklasifikasi ke dalam makna konotatif negatif dan makna emotif. Makna konotatif itu ialah  makna tidak sebenarnya atau kiasan yang muncul akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar, sedangkan makna emotif ialah makna yang melibatkan perasaan (pembicara, penulis, dan pembaca) ke arah yang positif. Makna emotifnya merujuk sesuatu yang lain yang tidak sepenuhnya sama dengan dunia yang terdapat dalam kenyataan (Djajasudarma, 1993:6).

Terkait dari pemaknaannya, fenomena bahasa yang  anomali ini bisa kita diklasifikasi ke dalam anomali semantik. Anomali semantik sederhana bisa formulasikan sebagai ketidaksesuaian kata dengan makna sebenarnya. Gejala berbahasa anomali ini merupakan petanda bahwa telah tergerusnya budaya berbahasa masyarakat Minangkabau. Begitu mudah, lemah dan latahnya kita terhadap budaya berbahasa orang lain yang belum tentu sesuai dengan lingkungan sosial budaya kita. Untuk itu, perlu adanya penguatan budaya berbahasa masyarakat Minang dengan jalan selalu menyaring dan membentengi diri, serta melestarikan budaya berbahasa kita dalam komunikasi sehari-hari. Adanya kontrol berbahasa yang baik, kesadaran dari kita bersama selaku masyarakat Minang  menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal berbahasa demi menjaga budaya berbahasa kita tidak terkontaminasi dari budaya lain yang dapat mengaburkan dan menghancurkan identitas budaya berbahasa orang Minang. Terakhir, penting adanya beragam asosiasi pedagang Minang di ranah Minangkabau yang menjadi kontrol dari barameter rasa, penamaan makanan, restoran, harga, dan sebagainya, sehingga identitas budaya Minang terjaga dan berakar semakin kuat. Semoga.

Tags: #Alex Darmawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Berita Sesudah

Ikuti Kejuaraan di UNP, Atlet Silat Benteng Murni Manfaatkan Rumah Singgah Sahabat Donizar

Berita Terkait

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

Senin, 13/7/26 | 07:19 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti (Mahasiswa Sastra Indonesia  FIB Universitas Andalas)   Apa jadinya kalau matematika yang rumit harus bertarung melawan...

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Berita Sesudah
Ikuti Kejuaraan di UNP, Atlet Silat Benteng Murni Manfaatkan Rumah Singgah Sahabat Donizar

Ikuti Kejuaraan di UNP, Atlet Silat Benteng Murni Manfaatkan Rumah Singgah Sahabat Donizar

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin rapat pertemuan lanjutan dengan Foshan Polytechnic, Selasa (7/7).

    Wali Kota Padang Kunjungi Fosan Polytechnic

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026