Minggu, 05/7/26 | 17:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI PUISI

Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

Minggu, 05/7/26 | 16:25 WIB

 

Gambar dbuat dengan googlegemini

Untuk Hujan yang Turun di Penghujung Juni

Rintik yang turun kali ini,
seperti biasa seolah menjadi rutinitas dengan jadwalnya sendiri
Dalam pikirannya ia tenggelam,
Seperti genangan air terus terisi oleh delusi
Terkadang gemuruh datang,
seperti alunan lagu berdendang

Kelabu,
Langit hari ini tak secerah kemarin,
Meski tak semua sisi abu-abu
Dan puncaknya hari ini,
Semakin berat, semakin berisik, semakin mengajak perang
“Bolehkah puan mengumpat?”
Menahan suara-suara bising terkurung dalam tempurung sunyi
Bahkan seperkian detik, alurnya berubah-ubah
Dan ketika hujan mencurahkan rasanya pada bumi hari ini
Tiba-tiba sepasang mata saling beradu
Ada ungkapan kata yang tak mampu terucapkan,
Karena sejak awal keduanya telah berbeda penafsiran

Lalu hujan,
Kembali turun persis di bulan kelahiran
Menyisakan kata ‘biru’ penuh makna
Tersimpan rapat-rapat, kuncinya pun dibuang entah kemana
Namun tenang saja, senyumnya tetap berhias
Di penghujung Juni ini,
Dekaplah aku sekali lagi

BACAJUGA

Puisi-Puisi Elly Delfia

Puisi-Puisi Elly Delfia

Minggu, 29/3/26 | 16:59 WIB
Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Minggu, 15/3/26 | 16:09 WIB

 

Seperti Hujan yang Jatuh Kali Ini

Seperti hujan yang jatuh berulang kali dengan irama yang sama
Hadir setelah saban waktu mulai gersang
Seperti hujan yang mengalir dari hulu hingga menggapai hilir
Alirannya semula kecil, hanya menyisakan genangan biasa
Sebagai tanda jika hujan benar-benar menyapa bumi

Untuk sesaat,
ada sesuatu yang kian hari mengusik
Berbisik amat pelan, lalu menjadi erangan
Mengobrak-abrik, lagi dan lagi

Munculnya tiba-tiba, tanpa aba-aba juga
Seharusnya memberi ruang, menafsirkan apa yang baru saja menimpa
Seperti potongan adegan yang sama,
Iya, alurnya kembali sama
Hanya mengulang dengan latar berbeda
Benar-benar sama, bagai prolog tanpa epilog
Padahal kelananya terlalu melelahkan,
Mudah ditebak jujur saja, namun terlalu kusut;ambigu
Saling kontra ketika tebakan dan realitanya tak sama,
Begitulah katanya

Asanya, meminta sekali saja, benar-benar memiliki ‘akhir’
Seperti orang-orang yang sudah sampai di pertengahan episode
Setidaknya biarkan kupu-kupu itu menemukan nektarnya
Lalu dibalik jendela
Ketika hujan perlahan menyentuh permukaan kulitnya
Dia hanya berharap kali ini benar adanya
Ketika kakinya melangkah, saling pandang seperkian detik
Ini untaian entah ke berapanya ketika penanya mulai berbicara
“Anurakti prakriti hi aatma” benarkah demikian seharusnya?
Karena pintu itu telah diketuk, beberapa kali,
Tanpa sengaja, tanpa diminta
Teruntuk goresan yang hanya meninggalkan jejak hitam dan ujung pena tumpul
Hatinya meragu untuk mereka yang diam-diam mengetuk
Dengan halaman yang kembali sama,
Untuk beberapa yang pernah datang dan singgah,
Hujan itu menyenangkan, bukan?
Teruntuk sorot mata yang melihat ke bawah
Dan kupu-kupu yang kembali menemukan warnanya
Bahwa ia tengah menikmati basmara sejenak yang dia damba
Sebelum dipatahkan seperti semula

 

Jika Saja Ia…

Wajahnya menghangat ketika arunika menyapa
Akarnya belumlah kuat, menopang dahan yang siap diterjang
Baru saja ia ditanam
Masih terlihat pekatnya tanah menyelimutinya
Baru saja ia menarik dedaunan
Tapi sekelilingnya tak begitu ingin, apa karena enggan?
Rantingnya masih rapuh
Namun sang bayu selalu tak sabaran
Dan ketika lembayung menutup asanya
Sesaat dia tertegun
Memandang sekumpulan bunga matahari rerumputan sana,
dan pasukan lebah yang hinggap diantaranya,
dan pohon-pohon rindang, melindungi dari pantulan cahaya
Lantas ia kemana jika semua bersama?
Jika cendramawa memberikan makna abu-abu,
bisakah sejenak ia diberi waktu untuk bertumbuh?

Biodata Penulis:
Eliza Nuzul Fitria hobi menulis dan menonton film. Lahir di Pekanbaru namun besar di ranah Minang, Kab. Padang Pariaman. Karya-karya tulis seperti artikel, puisi dan cerpen sudah dimuat dalam beberapa buku antologi, media cetak, dan sebuah novel. Memiliki nama pena Enura dan aktif di media sosial @elizanuzulftria.
Tags: #Eliza Nuzul Fitria
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Berita Terkait

Puisi-Puisi Elly Delfia

Puisi-Puisi Elly Delfia

Minggu, 29/3/26 | 16:59 WIB

Gambar: GeminiAI Sebuah Petang di 5 Maret Pada sebuah petang di 5 Maret Aku membaca hatimu dalam kisah Yang kau...

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Minggu, 15/3/26 | 16:09 WIB

Gambar: Meta AI Ketenangan Apa yang Kau Cari Oleh: Delivia Nazwa Syafiariza Ketenangan apa yang kau cari Ketenangan dunia yang...

Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

Minggu, 25/1/26 | 13:00 WIB

Gambar:GeminiAI Sore di Bulan Juni Aku tidak tahu mengapa semuanya begitu pelan dan bahkan begitu cepat, bulan yang di mana...

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Minggu, 18/1/26 | 19:35 WIB

Sumber gambar: GeminiAI Tanpa Ingin Menjadi Utama Oleh: Arza Kailla Chaerani Kau hadir tanpa gegap gempita Seperti lagu yang tak...

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Minggu, 11/1/26 | 09:26 WIB

  Sumber: Google GeminiAI Di Kota yang Berbeda Oleh: Aliftia Nabila Putri Di sini aku masih sibuk dengan hariku, Sama...

Puisi-puisi Furkon Patani

Puisi-puisi Furkon Patani

Minggu, 28/12/25 | 14:15 WIB

Gambar: Meta AI Jadikanlah Aku Perindu Oleh: Furkon Patani Aku adalah pemabuk cinta Dan aku juga perindu setia Banyak yang...

POPULER

  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Angkat Budaya Piaman Lewat Film Dokumenter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Bawa Sabu, Buruh Harian Ditangkap Polisi di Padang Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Sambut Kunjungan Bekas Timbalan Menteri Kesihatan I Malaysia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026