
Untuk Hujan yang Turun di Penghujung Juni
Rintik yang turun kali ini,
seperti biasa seolah menjadi rutinitas dengan jadwalnya sendiri
Dalam pikirannya ia tenggelam,
Seperti genangan air terus terisi oleh delusi
Terkadang gemuruh datang,
seperti alunan lagu berdendang
Kelabu,
Langit hari ini tak secerah kemarin,
Meski tak semua sisi abu-abu
Dan puncaknya hari ini,
Semakin berat, semakin berisik, semakin mengajak perang
“Bolehkah puan mengumpat?”
Menahan suara-suara bising terkurung dalam tempurung sunyi
Bahkan seperkian detik, alurnya berubah-ubah
Dan ketika hujan mencurahkan rasanya pada bumi hari ini
Tiba-tiba sepasang mata saling beradu
Ada ungkapan kata yang tak mampu terucapkan,
Karena sejak awal keduanya telah berbeda penafsiran
Lalu hujan,
Kembali turun persis di bulan kelahiran
Menyisakan kata ‘biru’ penuh makna
Tersimpan rapat-rapat, kuncinya pun dibuang entah kemana
Namun tenang saja, senyumnya tetap berhias
Di penghujung Juni ini,
Dekaplah aku sekali lagi
Seperti Hujan yang Jatuh Kali Ini
Seperti hujan yang jatuh berulang kali dengan irama yang sama
Hadir setelah saban waktu mulai gersang
Seperti hujan yang mengalir dari hulu hingga menggapai hilir
Alirannya semula kecil, hanya menyisakan genangan biasa
Sebagai tanda jika hujan benar-benar menyapa bumi
Untuk sesaat,
ada sesuatu yang kian hari mengusik
Berbisik amat pelan, lalu menjadi erangan
Mengobrak-abrik, lagi dan lagi
Munculnya tiba-tiba, tanpa aba-aba juga
Seharusnya memberi ruang, menafsirkan apa yang baru saja menimpa
Seperti potongan adegan yang sama,
Iya, alurnya kembali sama
Hanya mengulang dengan latar berbeda
Benar-benar sama, bagai prolog tanpa epilog
Padahal kelananya terlalu melelahkan,
Mudah ditebak jujur saja, namun terlalu kusut;ambigu
Saling kontra ketika tebakan dan realitanya tak sama,
Begitulah katanya
Asanya, meminta sekali saja, benar-benar memiliki ‘akhir’
Seperti orang-orang yang sudah sampai di pertengahan episode
Setidaknya biarkan kupu-kupu itu menemukan nektarnya
Lalu dibalik jendela
Ketika hujan perlahan menyentuh permukaan kulitnya
Dia hanya berharap kali ini benar adanya
Ketika kakinya melangkah, saling pandang seperkian detik
Ini untaian entah ke berapanya ketika penanya mulai berbicara
“Anurakti prakriti hi aatma” benarkah demikian seharusnya?
Karena pintu itu telah diketuk, beberapa kali,
Tanpa sengaja, tanpa diminta
Teruntuk goresan yang hanya meninggalkan jejak hitam dan ujung pena tumpul
Hatinya meragu untuk mereka yang diam-diam mengetuk
Dengan halaman yang kembali sama,
Untuk beberapa yang pernah datang dan singgah,
Hujan itu menyenangkan, bukan?
Teruntuk sorot mata yang melihat ke bawah
Dan kupu-kupu yang kembali menemukan warnanya
Bahwa ia tengah menikmati basmara sejenak yang dia damba
Sebelum dipatahkan seperti semula
Jika Saja Ia…
Wajahnya menghangat ketika arunika menyapa
Akarnya belumlah kuat, menopang dahan yang siap diterjang
Baru saja ia ditanam
Masih terlihat pekatnya tanah menyelimutinya
Baru saja ia menarik dedaunan
Tapi sekelilingnya tak begitu ingin, apa karena enggan?
Rantingnya masih rapuh
Namun sang bayu selalu tak sabaran
Dan ketika lembayung menutup asanya
Sesaat dia tertegun
Memandang sekumpulan bunga matahari rerumputan sana,
dan pasukan lebah yang hinggap diantaranya,
dan pohon-pohon rindang, melindungi dari pantulan cahaya
Lantas ia kemana jika semua bersama?
Jika cendramawa memberikan makna abu-abu,
bisakah sejenak ia diberi waktu untuk bertumbuh?
Eliza Nuzul Fitria hobi menulis dan menonton film. Lahir di Pekanbaru namun besar di ranah Minang, Kab. Padang Pariaman. Karya-karya tulis seperti artikel, puisi dan cerpen sudah dimuat dalam beberapa buku antologi, media cetak, dan sebuah novel. Memiliki nama pena Enura dan aktif di media sosial @elizanuzulftria.








