Padang Pariaman, Scientia – Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Daerah Pemilihan Padang Pariaman, Firdaus, memilih cara berbeda untuk menjaga kelestarian budaya Minangkabau. Jika selama ini dukungannya diwujudkan melalui berbagai iven, kali ini ia memfasilitasi produksi empat film dokumenter yang mengangkat warisan budaya khas Padang Pariaman.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mendekatkan budaya kepada generasi muda melalui media digital yang dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan mereka saat ini.
“Kita menyadari bahwa minat generasi muda untuk mendalami budaya dan tradisi semakin mengkhawatirkan. Mereka membutuhkan ruang yang lebih relevan dan lebih dekat dengan dunia mereka. Karena itu, edukasi budaya juga harus masuk ke ruang digital,” kata Firdaus.
Ketua DPW Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumatera Barat itu mengatakan pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pembentukan sumber daya manusia yang berkarakter melalui pelestarian budaya.
Menurut dia, ajakan melestarikan budaya tidak akan efektif apabila disampaikan dengan cara yang tidak menarik bagi generasi muda.
“Kita sering menggaungkan pentingnya budaya untuk membentuk mental dan karakter generasi penerus. Tetapi pesan itu tidak akan sampai jika kita tidak mendekati mereka dengan cara yang mereka sukai,” ujarnya.
Firdaus menjelaskan, seluruh film dokumenter diproduksi dengan konsep sinematik, mulai dari pengambilan gambar, tata suara hingga musik yang dibuat secara orisinal agar lebih menarik dan mudah diingat.
Ia juga berencana memutar keempat film tersebut di berbagai nagari dalam kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, kebudayaan maupun kepemudaan.
Sementara itu, Kepala Bidang Warisan Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Asril, mengapresiasi dukungan Firdaus terhadap produksi film dokumenter tersebut.
Menurut Asril, film-film itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendukung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman yang tengah mengusulkan sejumlah objek budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
“Keempat film ini mengangkat objek-objek budaya yang sedang diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Dokumenter ini diharapkan menjadi referensi bagi kementerian dalam proses penilaian,” katanya.
Empat dokumenter yang diproduksi tersebut masing-masing mengangkat Palangkahan, Silek Sunua, Main Padang jo Galombang Sicincin, serta Kitab Naskah Panjang Syekh Mato Aia.
Asril menilai setiap objek budaya memiliki nilai sejarah, filosofi, dan kekhasan yang kuat sehingga layak memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Ia juga mengajak organisasi kemasyarakatan, kelompok pemuda, hingga lembaga pendidikan memanfaatkan film-film tersebut sebagai media edukasi.
“Film-film ini layak diputar dalam berbagai kegiatan budaya, pendidikan maupun kepemudaan. Kalau ada komunitas yang ingin mengadakan nonton bersama juga kami persilakan,” ujarnya.
Keempat film dokumenter tersebut dapat diakses masyarakat melalui kanal YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat.
Sutradara film, Muhammad Fadhli atau yang dikenal sebagai Ajo Wayoik, mengatakan proses produksi berlangsung lancar berkat dukungan masyarakat di setiap lokasi pengambilan gambar.
“Kami mendapat dukungan besar dari niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, hingga para pelaku budaya. Antusiasme mereka menunjukkan kesadaran bahwa promosi budaya di ruang digital memang sangat penting,” kata dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang yang kini sedang menempuh studi doktoral tersebut.(yrp)




![Anggota DPRD Sumbar, Donizar.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/Screenshot_2025-08-28-15-45-10-19_1c337646f29875672b5a61192b9010f92-350x250.jpg)
![Ketua fraksi PKB Ummat, Yusri Latif.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/09/IMG-20250728-WA00342-350x250.jpg)

![Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif.[foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_5991-rotated-e1762746522212-350x250.jpg)