Senin, 29/6/26 | 22:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode baru podcast The Catch Club. Selain mendengar ketiga host, Agatha Pricilla, Ify Alyssa, dan Sivia Azizah saling berbagi cerita tentang pengalaman mereka ketika masih tergabung di girl group BLINK hingga kegiatan sehari-hari mereka saat ini, ketiganya juga senantiasa membangun running jokes (candaan yang terus diulang) tanpa membuat para catchers (sebutan host bagi pendengar setia The Catch Up Club) merasa tersisih. Tidak hanya itu, ketiganya juga kerap membuat saya, sebagai catchers, geleng-geleng kepala sekaligus gemas mendengar kemunculan berbagai kosakata baru dari para host.

BACAJUGA

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB
Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

The Catch Club merupakan salah satu podcast yang sedang ramai diperbincangkan. Sejak penayangan perdananya pada 26 Januari 2026, podcast ini telah menayangkan 22 episode. Pada episode awal, para host menjelaskan alasan mereka meluncurkan The Catch Up Club. Ketika menceritakan kebiasaan mereka yang masih sering bertemu walau sudah tidak lagi aktif sebagai anggota BLINK, beberapa kali Sivia melontarkan istilah HO. Kemudian, barulah saya paham bahwa hal itu merupakan singkatan dari frasa hang out. Hampir di setiap episode muncul berbagai istilah atau kosakata baru dari percakapan para host dengan Sivia sebagai penyumbang istilah terbanyak, seperti kuker (kulit kering), Mia (berasal dari panggilan anaknya, “Mama Ia”), hingga jargon yang sempat viral di media sosial “ah, bagaimana mau sakses kalau kebanyakan ah tapi?”. Selain Sivia, Ify dan Pricil juga turut menambah perbendaharaan kata dalam kamus The Catch Up Club melalui istilah seperti papine (running jokes tentang kehidupan percintaan Ify), RGI (Ratu Game Indonesia), KP (kayu putih), inse (insecure), dan sebagainya.

Kesuksesan podcast The Catch Up Club juga menarik perhatian peneliti untuk mengkajinya dalam ranah akademik. Salah satunya Wanna, dkk. (2026) yang meneliti penggunaan campur kode dalam podcast. Penelitian ini berangkat dari kemunculan gejala sosiolinguistik pada media digital. Dalam hal ini, podcast tidak hanya berfungsi sebagai medium penyebaran informasi, tetapi juga menjadi ruang produksi dan penyebaran variasi bahasa di era digital. Variasi bahasa dalam podcast The Catch Up Club tidak hanya muncul melalui fenomena campur kode, tetapi juga melalui kreativitas para host dalam menciptakan kosakata baru yang kemudian diadopsi oleh komunitas pendengarnya. Potongan-potongan klip podcast ini kemudian beredar melalui Tiktok, Instagram, dan Youtube, sehingga mempercepat penyebaran kosakata baru The Catch Up Club dan menjangkau audiens yang lebih luas.

Variasi kosakata dan istilah dalam podcast The Catch Up Club muncul melalui berbagai proses pembentukan kata baru. Sebagian berbentuk pemendekan kata seperti HO, inse (insecure), KP (kayu putih), BLG (belang), OL (orang lapangan). Bentuk-bentuk tersebut menunjukkan kecenderungan efisiensi dalam bahasa lisan, yaitu penggunaan kata yang disingkat tanpa menghilangkan makna. Selain itu, terdapat pula akronim seperti CM (catcher members), RGI (Ratu Game Indonesia). Dalam konteks The Catch Up Club, bentuk-bentuk tersebut tidak hanya berfungsi untuk mempersingkat ujaran, tetapi juga menjadi penanda identitas dan membuat para catchers merasa menjadi bagian dari komunitas.

Sementara pemenggalan suku kata seperti kuker (kulit kering) dan kemi (kertas minyak) tidak hanya menunjukkan kreativitas berbahasa, tetapi juga menghadirkan efek humor. Adapun modifikasi bunyi dan bentuk seperti papine, mia, serta sakses merupakan bentuk-bentuk yang lahir dari pengalaman personal para host, permainan bunyi, maupun running jokes yang berkembang di setiap episodenya. Dalam hal ini, bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara host dan pendengar, serta menghadirkan pengalaman yang menyegarkan sehingga setiap episodenya selalu layak untuk dinanti.

Selanjutnya, selain faktor media sosial dan perkembangan era digital, apa saja yang turut berperan dalam mempercepat penyebaran kosakata dan istilah baru dalam podcast The Catch Up Club?

Pertama, istilah-istilah seperti HO, OL, kuker, kemi, dan sebagainya selalu muncul secara spontan sebagai bagian dari percakapan para host dan bukan sesuatu yang sengaja diciptakan agar viral. Oleh sebab itu, istilah-istilah tersebut terasa mengalir, mudah diingat, dan menghadirkan nuansa yang segar bagi para pendengar.

Kedua, keakraban para host yang telah terjalin selama belasan tahun. Bahkan, Sivia dan Ify sudah berteman sejak berusia enam tahun sebelum kembali dipertemukan dalam ajang pencarian bakat Idola Cilik. Setelah itu, Pricil pun bergabung dan mereka bersama-sama mendirikan girl group BLINK. Kedekatan yang telah dibangun selama itu membuat mereka saling memahami karakter, kebiasaan, dan cara berpikir masing-masing. Tidak heran jika mereka mampu menyelesaikan kalimat satu sama lain hingga saling meledek tanpa menimbulkan konflik. Ketika istilah-istilah baru muncul, kata-kata tersebut langsung dipahami oleh sesama host dan percakapan tetap mengalir seru. Dalam podcast ini, permainan bahasa yang mereka lakukan seolah membuka ruang bagi pendengar untuk melihat sisi lain kepribadian mereka yang jarang terekspos kamera.

Ketiga, running jokes yang kemudian berkembang menjadi kosakata komunitas. Inilah salah satu faktor terpenting yang berperan dalam proses produksi sekaligus penyebaran bahasa dalam The Catch Up Club. Sebagai contoh, istilah papine muncul ketika para host membahas kehidupan percintaan Ify. Ketika Sivia pertama kali mengucapkan kata papine di podcast, terdapat kesan bahwa istilah tersebut telah hadir dalam percakapan sehari-hari mereka, jauh sebelum penayangan perdana The Catch Up Club. Kata papine terus diulang pada episode-episode selanjutnya, kemudian direproduksi oleh pendengar melalui potongan-potongan klip yang beredar di media sosial. Dari sana, istilah tersebut tidak lagi hanya menjadi milik para host, tetapi juga diadopsi oleh para catchers. Menariknya, kata papine bahkan muncul pada unggahan media sosial Ify yang sama sekali tidak berkaitan dengan The Catch Up Club, misalnya ketika ia mempromosikan karya terbarunya. Fenomena serupa juga terjadi pada jargon “ah bagaimana mau sakses kalau kebanyakan ah tapi” yang diucapkan Sivia. Jargon tersebut kemudian diadopsi menjadi meme dan audio di berbagai platform media sosial, konteksnya pun meluas sebagai ungkapan untuk menyindir kebiasaan netizen yang gemar menunda serta mencari alasan ketika ingin memulai sesuatu.

Keempat, keberhasilan The Catch Up Club juga tidak terlepas dari kemampuan para host membangun interaksi dua arah dengan para pendengarnya. Bahasa tidak hanya diproduksi oleh ketiga host, tetapi juga oleh audiensnya. Hal ini turut memperkuat identitas mereka melalui berbagai sebutan dan atribut yang dilekatkan pada ketiganya. Salah satunya adalah julukan Cewek-Cewek Mantep (CCM) yang kemudian diasosiasikan dengan para host, terlepas dari apakah istilah tersebut muncul sebelum atau sesudah kemunculan podcast. Demikian pula dengan berbagai persona yang dilekatkan netizen kepada para host. Sivia identik dengan kemahirannya dalam membuat jargon-jargon unik; Ify diasosiasikan dengan celetukan-celetukan yang kerap dinilai asbun oleh netizen, tetapi justru di sanalah letak kelucuannya; sementara Pricil sering diposisikan sebagai penengah di antara spontanitas Sivia dan Ify. Hal ini menunjukkan bahwa identitas para host tidak hanya dibangun melalui apa yang mereka tampilkan di dalam podcast, tetapi juga merupakan hasil interaksi yang terus berlangsung di antara ketiganya dan para pendengar.

Dengan demikian, The Catch Up Club memperlihatkan bahwa podcast tidak hanya hadir sebagai medium penyampaian informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi tempat bahasa diproduksi, diadopsi, direproduksi, dan dimaknai ulang. Istilah-istilah yang awalnya muncul sebagai celetukan spontan kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas komunitas, menyebar di berbagai platform media sosial, dan digunakan kembali oleh para pendengar dengan konteks yang lebih luas. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan senantiasa memiliki ruang untuk berkembang seiring dengan perubahan cara berinteraksi di era digital.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Donizar: Kekerasan terhadap Anak Sudah Darurat

Berita Sesudah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

POPULER

  • Firdaus: Kader PMII Harus Profesional Bergerak dan Hidupkan Semangat Organisasi di Kampus

    Firdaus Desak Pemprov Sumbar dan Pertamina Atasi Antrean Panjang di SPBU

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kreativitas Berbahasa yang Anomali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026