Selasa, 06/10/26 | 16:18 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani
(Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)

 

Hidup di abad ke-21 rasanya semua berubah cukup drastis, ya? Dahulu, dalam transaksi jual beli konsepnya adalah “ada uang, ada barang”. Namun, di masa yang serba canggih saat ini, konsep seperti itu sepertinya tidak selalu berlaku. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, bagi sebagian orang konsep tersebut berubah menjadi “ada barang, bayar belakangan”. Kira-kira, apa yang menyebabkan adanya pergeseran dalam konsep transaksi jual beli ini? Mari kita telusuri hal ini agar kita dapat terhindar dari jahatnya momok paylater!

BACAJUGA

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB
Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Paylater sebenarnya adalah pinjaman digital jangka pendek. Sesuai dengan namanya, alat ini memungkinkan untuk membeli barang atau menggunakan jasa sekarang, tetapi membayarnya nanti di kemudian hari sesuai dengan waktu yang disepakati. Pergeseran konsep transaksi jual beli sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan belaka. Hal ini salah satunya dipicu oleh adanya rasa sakit dalam membayar atau “pain of paying”. Beberapa orang merasakan ‘sakit’ karena uang langsung berpindah kepemilikan di depan mata ketika bertransaksi. Uang di dompet pun menipis seketika. Dengan hadirnya model pembayaran paylater, bagi mereka fitur ini merupakan “malaikat penyelamat” yang membantu mereka terhindar dari rasa sakit tersebut. Transaksi terasa mudah, tanpa ada drama saldo yang tiba-tiba habis.

Namun, benarkah paylater memang perwujudan dari malaikat penyelamat itu? Sayangnya, tidak. Paylater nyatanya merupakan jebakan yang mengancam stabilitas keuangan di masa depan. Ia hadir dengan biaya bunga, biaya administrasi, serta biaya lainnya. Banyak orang keliru menganggap paylater sebagai bentuk “dana darurat”, padahal sejatinya ia adalah utang yang harus dilunasi di masa depan dengan pendapatan tetap kita.

Dalam akuntansi, paylater adalah golongan utang jangka pendek yang harus diakui dan dilunasi sebelum jatuh tempo. Untuk melunasinya, maka kita harus memiliki aset lancar seperti kas atau tabungan yang setara atau lebih banyak agar finansial kita tetap aman. Masalahnya, tidak semua orang memetakan aset lancar mereka di masa depan untuk membayar cicilan paylater ini. Mereka telah dibutakan dengan kemudahan di ujung jari, bahkan tanpa pikir panjang menggunakan paylater untuk memenuhi keinginannya, tidak lagi terbatas pada memenuhi kebutuhan saja.   

Hal inilah yang menyebabkan paylater menjadi sangat mengerikan. Mereka menjadikannya sebagai senjata untuk memuaskan hasrat konsumtif mereka. Dengan beberapa klik saja, mereka bisa mendapatkan barang yang mereka inginkan tanpa mempertimbangkan apakah barang itu memang berguna atau tidak. Juga, tanpa memikirkan apakah cicilannya mampu ia lunasi sebelum jatuh tempo di masa yang akan datang.

Kondisi ini tidak hanya mengubah gaya transaksi masyarakat, namun juga mengubah perspektif mereka terhadap nilai uang itu sendiri. Mereka cenderung berpikir bahwa untuk membeli sesuatu, jumlah uang di dompet ataupun saldo di rekening pribadi tidak lagi penting. Asal limit paylater masih ada, transaksi pun dapat terus dilakukan. Ini jelas menyimpang dari prinsip jual beli yang seharusnya. Mengapa? Karena seharusnya daya beli diukur dari jumlah aset atau pendapatan yang dimiliki, bukan dari seberapa besar utang yang mampu diajukan.

Nah, jika paylater memang seberbahaya itu, mengapa iklan paylater sangat banyak berseliweran? Jawabannya sangat simpel. Perusahaan penyedia layanan paylater meraup banyak keuntungan dari perilaku konsumtif penggunanya tadi. Semakin banyak pengguna melakukan transaksi, semakin banyak pula keuntungan yang mereka peroleh dari biaya bunga dan administrasi. Sedangkan penggunanya yang malang, terjebak dalam skema “gali lubang tutup lubang”. Pendapatan bulan depan seketika habis untuk membiayai kesenangan bulan ini. Menutup celah dan peluang untuk menabung dan berinvestasi. Lalu, bagaimana cara menyikapi persoalan ini?

Pertama, jika telah terlanjur bergantung pada paylater, sedikit demi sedikit cobalah untuk membangun self awareness dalam berbelanja. Berpikirlah dulu sebelum men-check out barang dan pertimbangkan dengan matang apakah barang ini benar-benar worth it untuk dibeli. Selanjutnya, buat komitmen untuk keluar dari kecenderungan belanja berlebihan dengan paylater ini.

Kedua, stop beli barang-barang yang tidak penting. Berhenti belanja akan membuat tagihan jadi tidak bertambah, sehingga kita bisa fokus untuk melunasi semua tagihan yang sudah ada. Apabila ada barang yang memang dibutuhkan, usahakan untuk membelinya di toko-toko offline. Tujuannya supaya tidak memancing keinginan untuk belanja online dengan paylater kembali.

Jika langkah-langkah di atas tidak berhasil, sebaiknya bicarakan pada orang yang dipercaya yang bisa menuntun kita keluar dari jeratan tak kasat mata ini. Cobalah untuk meminta saran dari teman ataupun keluarga. Jangan takut dan ragu untuk membicarakan hal ini sebelum tagihan membeludak. Kalau perlu, konsultasikan hal ini kepada tenaga profesional supaya bisa memberikanmu solusi dan nasehat yang lebih baik.

Pemerintah juga memegang peranan penting dalam hal ini. Pengawasan dan aturan mengenai batas bunga yang bisa dikenakan terhadap pengguna sangat dibutuhkan agar penyedia layanan paylater tidak memeras habis setiap uang yang dimiliki oleh penggunanya. Meskipun begitu, kendali utamanya tetap adalah diri kita sendiri. Jika kita tidak kritis sebelum menyetujui untuk menggunakan layanan paylater, maka yang rugi juga diri kita sendiri. Apabila memang belum mampu membeli secara tunai, maka menabung adalah jalan keluar yang paling mulia.

Teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia, bukan untuk menyulitkannya dengan segala tagihan yang tidak berujung. Paylater apabila digunakan untuk membeli kebutuhan yang benar-benar mendesak di kala uang tunai tidak mencukupi, bisa membawa kemudahan yang besar. Namun, jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang impulsif, paylater akan berubah menjadi pisau yang bermata dua. Semuanya kembali pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita bisa mengendalikan diri kita agar tidak menjadi manusia dengan gaya hidup yang konsumerisme.

Tags: #Puty Mahira Zahrani
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Berita Sesudah

Kadis Pendidikan Dharmasraya Lepas Kontingen O2SN 2026, Targetkan Lolos ke Tingkat Nasional

Berita Terkait

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Apa yang terjadi ketika perempuan kehilangan pekerjaan, tetapi tetap...

Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

Minggu, 04/10/26 | 12:23 WIB

Oleh: Alfitri (Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas)   Kendati sempat delay sekitar 45 menit dari jadwal take off 16:25, akhirnya...

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB

Oleh: Kanaya Putri Sifa (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Perkembangan dunia fashion saat...

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan sesuatu yang mungkin cukup...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Berita Sesudah
Kadis Pendidikan Dharmasraya Lepas Kontingen O2SN 2026, Targetkan Lolos ke Tingkat Nasional

Kadis Pendidikan Dharmasraya Lepas Kontingen O2SN 2026, Targetkan Lolos ke Tingkat Nasional

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Lepas Atlet Kota Padang Ikuti Porprov Sumbar  ke-XVI Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026