
Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)
“Kata yang tepat adalah kata yang membuat pembaca merasa bahwa pengarang tidak bisa memilih kata lain
selain itu.” — Gustave Flaubert
Karya sastra merupakan tulisan kreatif manusia yang bersifat menghibur sekaligus mendidik. Bahasa dalam karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi biasa, tetapi juga sebagai sarana membangun keindahan, suasana, dan makna yang mendalam. Untuk mengkaji penggunaan bahasa dalam karya sastra secara ilmiah, diperlukan pendekatan stilistika, yaitu cabang ilmu yang mempelajari gaya bahasa dan fungsi estetikanya dalam sebuah teks (Keraf, 2009). Ratna (2009) menegaskan bahwa stilistika tidak hanya berbicara soal keindahan bahasa, tetapi juga soal bagaimana setiap pilihan kebahasaan berkontribusi terhadap makna keseluruhan karya. Salah satu karya yang menarik untuk dikaji melalui pendekatan ini adalah cerpen Beki Bebek karya Vanda Parengkuan yang diterbitkan di Majalah Bobo pada tahun 1991. Cerpen ini mengisahkan seekor bebek bernama Beki yang merasa rendah diri karena menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan istimewa seperti penghuni hutan lainnya.
Gaya bahasa pertama yang menonjol dalam cerpen ini adalah penggunaan diksi atau pilihan kata yang bernuansa emosional. Vanda Parengkuan secara konsisten memilih kata-kata yang tidak sekadar mendeskripsikan situasi, tetapi langsung menyentuh kondisi batin tokoh. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
“Beki termenung sendiri di tepi danau, menyesali dirinya yang tak punya kemampuan apa-apa.”
Kata termenung dipilih bukan untuk menyatakan bahwa tokoh sedang diam biasa, melainkan untuk menggambarkan keheningan yang penuh beban pikiran. Kata menyesali jauh lebih kuat secara emosional dibandingkan sekadar merasa sedih karena mengandung arah yang spesifik, yaitu tokoh sedang mempermasalahkan keberadaannya sendiri. Menurut Nurgiyantoro (2014), diksi yang tepat mampu memperkuat penggambaran karakter sekaligus membangun empati pembaca. Frasa tak punya kemampuan apa-apa bekerja sebagai hiperbola halus yang memperlihatkan betapa dalamnya rasa rendah diri yang menyelimuti Beki sehingga pembaca langsung terhanyut ke dalam kegelisahan tokoh sejak awal cerita.
Gaya bahasa berikutnya yang mewarnai cerpen ini adalah personifikasi, yakni pemberian sifat atau perilaku manusiawi kepada tokoh nonmanusia. Dalam cerpen ini seluruh tokoh adalah hewan yang diberi kemampuan berbicara, berperasaan, dan berinteraksi sosial layaknya manusia. Salah satu contohnya tampak pada kutipan berikut.
“Beno Beruang menghampiri Beki dengan langkah pelan, lalu berkata dengan suara yang hangat dan penuh perhatian.”
Frasa “suara yang hangat dan penuh perhatian” adalah atribut yang sepenuhnya manusiawi yang dilekatkan pada seekor beruang. Pengarang tidak hanya membuat hewan bisa berbicara, tetapi juga memberinya nada bicara yang mengandung kelembutan emosional. Menurut Ratna (2009), personifikasi seperti ini memungkinkan pengarang membicarakan kondisi emosional yang kompleks dengan cara yang terasa lebih dekat dan tidak menggurui bagi pembaca.
Selain diksi dan personifikasi, cerpen ini juga memanfaatkan citraan untuk memperkonkret kondisi batin tokoh. Leech dan Short (1981) menyatakan bahwa citraan berfungsi mengubah gagasan abstrak menjadi pengalaman indrawi yang dapat dirasakan pembaca. Citraan gerak tampak jelas dalam kutipan berikut.
“Beki berendam sendirian, menjauh dari riuh rendah tawa penghuni hutan yang tengah bermain.”
Tindakan berendam dan menjauh bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan representasi visual dari kondisi psikologis tokoh. Frasa menjauh dari riuh rendah tawa secara tidak langsung menggambarkan bahwa kegembiraan terasa asing dan tidak terjangkau bagi Beki. Citraan ini menghasilkan efek dramatik yang lebih kuat dibanding pernyataan langsung tentang perasaan tokoh karena pembaca diajak merasakan sendiri kesepian itu melalui gambaran yang hidup.
Gaya bahasa simile atau perbandingan eksplisit juga ditemukan dalam cerpen ini. Simile adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung menggunakan kata penghubung seperti atau bagaikan (Nurgiyantoro, 2014). Penggunaannya tampak pada kutipan berikut.
“Suara nyanyian kutilang itu terdengar seperti melodi pagi yang mengalir dari tempat yang jauh.”
Perbandingan antara suara nyanyian dengan melodi pagi yang mengalir dari tempat yang jauh menghasilkan citraan pendengaran yang kaya sekaligus memuat jarak emosional. Frasa dari tempat yang jauh memperkuat perasaan Beki yang merasa tidak mampu mencapai keindahan yang dimiliki makhluk lain. Simile ini tidak berdiri sendiri, melainkan berfungsi sebagai kontrapoin terhadap kekosongan yang Beki rasakan, sehingga kontras dua kondisi itu terasa hidup dalam imajinasi pembaca.
Gaya bahasa repetisi atau perulangan kata juga digunakan secara strategis dalam cerpen ini. Sudjiman (1993) menyatakan bahwa repetisi digunakan untuk memberikan penekanan terhadap gagasan tertentu sehingga lebih membekas di benak pembaca. Dalam dialog tokoh utama, pola pengulangan ini muncul secara mencolok.
“Aku tidak cantik, tidak pandai menyanyi, dan tidak pandai menari.”
Kata tidak diulang tiga kali dalam satu kalimat membentuk pola anafora yang menciptakan ritme seperti litani keluhan. Pengulangan ini meniru cara pikiran yang terjebak dalam rasa rendah diri bekerja, yaitu berputar terus pada hal yang sama tanpa jalan keluar. Efek kumulatif dari tiga pengulangan tersebut membangun kesan keputusasaan yang semakin dalam pada diri Beki sehingga pembaca tidak hanya memahami, tetapi benar-benar merasakan bobot tekanan batin yang dialami tokoh.
Gaya bahasa terakhir yang paling berpengaruh dalam cerpen ini adalah antitesis. Keraf (2009) mendefinisikan antitesis sebagai gaya bahasa yang mempertemukan dua gagasan bertentangan dalam satu struktur kalimat untuk menghasilkan efek kontras yang menegaskan makna. Antitesis ini muncul pada bagian klimaks cerita melalui ujaran Beno Beruang.
“Burung kutilang pandai bernyanyi, tetapi tidak kuat. Gajah memang kuat, tetapi tidak bisa bernyanyi semerdu kutilang.”
Pola pandai bernyanyi tetapi tidak kuat dan kuat tetapi tidak bisa bernyanyi tersusun secara paralel dan simetris. Kesimetrisan struktur kalimat ini menciptakan kesan keseimbangan yang menjadi inti pesan stilistika cerpen: tidak ada makhluk yang sempurna. Antitesis yang rapi secara gramatikal menghasilkan efek persuasif yang jauh lebih kuat dibanding pernyataan biasa (Keraf, 2009), dan dalam konteks cerpen ini ia menjadi titik balik yang paling menentukan dalam perjalanan batin tokoh Beki.
Dari analisis gaya bahasa di atas, dapat dilihat bahwa Vanda Parengkuan membangun cerpen Beki Bebek dengan menggunakan diksi emosional, personifikasi, citraan gerak, simile, repetisi, dan antitesis secara terpadu. Setiap unsur gaya bahasa tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi untuk membentuk totalitas estetis yang utuh. Diksi dan repetisi bekerja pada lapisan batin tokoh, citraan, dan simile memperjelas kondisi yang abstrak, sementara personifikasi dan antitesis membangun kedekatan sekaligus menyampaikan pesan secara elegan. Keseluruhan pilihan kebahasaan ini membuktikan bahwa bahasa yang sederhana pun mampu menghadirkan kedalaman estetis yang kuat jika digunakan dengan cermat dan penuh kesadaran tentang gaya bahasa.









