
Oleh: Noor Alifah
(Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah sekarang. Hanya dengan beberapa sentuhan di layar, seseorang dapat membagikan poster tentang perubahan iklim, mengunggah infografik mengenai sampah plastik, atau menuliskan ajakan untuk menjaga bumi. Media sosial telah menjadi ruang yang sangat efektif untuk menyebarkan informasi sekaligus membangun kesadaran publik mengenai berbagai persoalan lingkungan.
Namun, di balik maraknya kampanye tersebut, terdapat ironi yang semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang aktif menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan di media sosial, tetapi belum tentu menerapkannya dalam tindakan nyata. Unggahan tentang pentingnya menjaga bumi sering kali tidak sejalan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti membuang sampah sembarangan, menggunakan plastik sekali pakai secara berlebihan, atau mengabaikan praktik-praktik sederhana yang sebenarnya dapat membantu mengurangi kerusakan lingkungan.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang ditampilkan di ruang digital dan apa yang dilakukan di dunia nyata. Media sosial memang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk menyuarakan pandangannya, tetapi pada saat yang sama juga memungkinkan seseorang membangun citra tertentu tanpa harus benar-benar menjalankan nilai yang ditampilkan. Kepedulian terhadap lingkungan pun berisiko berubah menjadi identitas yang dipertontonkan, bukan komitmen yang diwujudkan dalam tindakan.
Dalam kajian media digital, kondisi semacam ini sering dikaitkan dengan istilah slacktivism, yaitu bentuk partisipasi sosial yang lebih banyak dilakukan melalui tindakan-tindakan sederhana di ruang digital, seperti menyukai, membagikan, atau mengomentari suatu kampanye. Aktivitas tersebut memang dapat membantu memperluas jangkauan informasi, tetapi tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku yang nyata. Seseorang dapat merasa telah berkontribusi terhadap suatu isu hanya karena telah membagikan sebuah unggahan, padahal kontribusi tersebut belum tentu berdampak pada kehidupan sehari-hariTentu saja, aktivisme digital tidak dapat sepenuhnya dianggap negatif.
Banyak gerakan lingkungan berhasil menjangkau masyarakat luas berkat media sosial. Informasi mengenai krisis iklim, pencemaran laut, atau deforestasi dapat diakses dengan lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Berbagai komunitas lingkungan juga memanfaatkan platform digital untuk mengorganisasi kegiatan dan mengajak masyarakat terlibat dalam aksi nyata. Dengan kata lain, masalahnya bukan terletak pada media sosial itu sendiri, melainkan pada kecenderungan sebagian orang yang berhenti pada tahap menunjukkan kepedulian tanpa melanjutkannya dalam bentuk tindakan.
Ironi tersebut semakin terlihat ketika kepedulian lingkungan menjadi bagian dari budaya pencitraan digital. Di media sosial, seseorang dapat dengan mudah membangun kesan sebagai individu yang sadar lingkungan melalui unggahan, komentar, atau dukungan terhadap berbagai kampanye. Namun, citra yang ditampilkan tidak selalu mencerminkan perilaku yang sesungguhnya. Tidak jarang seseorang yang aktif mengingatkan orang lain tentang pentingnya menjaga lingkungan justru masih melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan nilai yang mereka kampanyekan.
Salah satu faktor yang mendorong kondisi ini adalah kebutuhan akan pengakuan sosial. Platform media sosial dirancang dengan sistem yang memberikan apresiasi dalam bentuk tanda suka, komentar, dan jumlah pengikut. Dalam situasi seperti itu, menunjukkan kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan sering kali menjadi cara untuk memperoleh legitimasi moral di hadapan publik. Akibatnya, fokus dapat bergeser dari upaya menciptakan perubahan menuju keinginan untuk terlihat peduli.
Selain itu, ada perbedaan mendasar antara mengetahui dan melakukan. Banyak orang memahami bahwa penggunaan plastik sekali pakai berdampak buruk terhadap lingkungan. Banyak pula yang mengetahui bahaya pencemaran dan perubahan iklim. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu otomatis mengubah perilaku. Mengurangi konsumsi plastik, membawa wadah sendiri, memilah sampah, atau menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan membutuhkan konsistensi dan komitmen. Sebaliknya, membagikan unggahan tentang lingkungan hanya membutuhkan waktu beberapa detik.
Kemudahan inilah yang sering membuat kepedulian berhenti pada tingkat simbolik. Ketika tindakan nyata menuntut usaha, sementara ekspresi digital dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, banyak orang tanpa sadar memilih bentuk partisipasi yang paling sederhana. Akibatnya, ruang digital menjadi penuh dengan narasi kepedulian, sementara perubahan perilaku yang diharapkan berlangsung jauh lebih lambat.
Fenomena tersebut juga menimbulkan persoalan lain, yaitu munculnya perhatian yang bersifat sementara. Di media sosial, isu lingkungan sering menjadi tren yang ramai diperbincangkan dalam waktu singkat, lalu perlahan menghilang ketika muncul topik baru yang lebih menarik. Perhatian publik bergerak mengikuti arus algoritma, bukan berdasarkan tingkat urgensi suatu persoalan. Padahal, kerusakan lingkungan tidak berhenti ketika sebuah tagar tidak lagi populer. Sampah tetap menumpuk, polusi tetap terjadi, dan krisis iklim terus berlangsung meskipun perhatian masyarakat telah beralih ke isu lain.
Jika kondisi ini terus berlanjut, gerakan lingkungan berisiko kehilangan makna. Kampanye yang seharusnya mendorong perubahan dapat berubah menjadi sekadar rutinitas simbolik. Masyarakat mungkin semakin sering membicarakan lingkungan, tetapi tanpa menghasilkan dampak yang signifikan. Pada akhirnya, yang berkembang bukan budaya menjaga lingkungan, melainkan budaya menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
Karena itu, penting untuk mengingat bahwa kepedulian yang sesungguhnya tidak selalu terlihat di media sosial. Membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya, atau mendukung kegiatan pelestarian lingkungan mungkin tidak menghasilkan banyak tanda suka dan komentar. Namun, tindakan-tindakan kecil tersebut justru memiliki dampak yang lebih nyata dibandingkan unggahan yang berhenti sebagai slogan.
Media sosial tetap dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk membangun kesadaran publik. Akan tetapi, kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada layar gawai. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi bagaimana membuat orang mengetahui persoalan lingkungan, melainkan bagaimana mengubah pengetahuan tersebut menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Sebab pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan lebih banyak unggahan tentang kepedulian. Bumi membutuhkan lebih banyak tindakan nyata yang dilakukan setiap hari.









