
“Mengapa orang yang pensiun harus sering berjalan?”
Semua orang di Gedung Poerbatjaraka Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada diam. Tidak ada yang menjawab. Kalau dijawab, mereka yakin, profesor linguistik yang berdiri di hadapan mereka akan menjawab salah.
“Orang pensiun harus berjalan karena kalau disuruh merangkak, dia sudah tidak bisa.”
Itulah jawaban dari seorang Profesor Linguistik Indonesia dari Universitas Gadjah Mada, Prof. I Dewa Putu Wijana. Tahun ini beliau berusia 70 tahun. Sudah saatnya beliau beristirahat dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam valediktori atau pidato pamit pensiun, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana menghiasi pidatonya dengan humor. Dalam sejarah linguistik Indonesia, Prof. Putu—panggilan akrabnya—memang dikenal sebagai sosok yang humoris. Setiap perjumpaan di kelas, selalu saja menghasilkan humor segar yang dengan mudah diingat oleh mahasiswa.
“Karena itu, saya malas mahasiswa yang mengulang mata kuliah,” ujarnya.
Namun, jangan pernah serius menanggapi apa yang disampaikan oleh Prof. Putu. Beliau malas pada mahasiswa yang mengulang mata kuliah karena humornya sudah mudah ditebak oleh mahasiswa yang mengulang tersebut. Inilah punchline-nya. Sebuah kalimat serius yang kadang kita tunggu sebagai nasihat atau kalimat penting, ternyata hanya humor untuk menghidupkan suasana.
Dalam kajian linguistik, humor merupakan salah satu strategi yang dapat dipakai untuk berkomunikasi dengan lawan tutur. Jika seseorang ingin menyampaikan sesuatu yang amat menyakitkan dan akan melukai lawan tutur, seseorang dapat menggunakan humor sebagai strategi. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Putu kepada 93 orang alumni Magister Linguistik Universitas Gadjah Mada yang hadir pada acara pamit pensiun Prof. Putu.
“Menulislah,” kata beliau, “dan kalau menulis, pergilah ke restoran.”
Prof. Putu sadar betul bahwa Gen Z memiliki cara baru dalam melahirkan karya, yakni dengan duduk di kedai kopi untuk berdiskusi dan menuangkan ide ke dalam tulisan. Namun, budaya yang diciptakan Gen Z melalui nongkrong di kedai kopi tidak menjadi isu hangat bagi Prof. Putu. Sebaliknya, beliau bertanya, “Mengapa kalau mau menulis harus ke restoran?”
Para mahasiswa pascasarjana beserta alumni S-2 Linguistik UGM mencoba menjawab secara normatif. Namun, siapa sangka, dengan santai beliau menjawab, “Karena di restoran ada menu list,” alias daftar menu yang bisa diorder sebelum makan. Lagi-lagi, aula di Gedung Poerbatjaraka FIB UGM ini pecah oleh humor Prof. Putu. Pasalnya, mereka yang sedang sungguh-sungguh mendengar pidato pamit Prof. Putu datang dengan harapan akan mendapatkan nasihat atau kuliah umum terakhir yang diadakan secara formal oleh universitas. Setelah ini, para mahasiswa atau kolega dosen tentu akan berdiskusi dalam ruang informal dengan Prof. I Dewa Putu Wijana.
Valediktori ini menjadi penanda bahwa dunia linguistik Indonesia akan kehilangan sosok Prof. I Dewa Putu Wijana dan sosok seorang profesor humor. Tidak akan ada lagi yang melahirkan humor-humor yang bernuansa akademis yang kadang dikaitkan dengan istilah atau praktik yang dilakukan seorang mahasiswa atau dosen di perguruan tinggi. Namun, meskipun ini pertemuan terakhir di ruang kelas, setiap orang yang hadir berharap bisa menyaksikan karya terbaik Prof. I Dewa Putu Wijana melalui buku-buku yang dihasilkan.
“Buku baru saya akan terbit, yakni Metonimia”.
Metonimia merupakan majas yang menggunakan sebuah kata yang terkait erat dengan objek atau konsep tertentu untuk mewakili objek tersebut. Biasanya, majas ini menggunakan merek, bagian dari sesuatu, atau hal lain yang sering diasosiasikan dengan benda atau konsep yang dimaksud.
“Ruangan Ber-AC dilarang merokok,” ujar Prof. Putu, “Dalam kajian linguistik, apa namanya?” Orang-orang bergeming, agak mikir karena Prof. Putu sudah memasukkan kajian linguistik dalam valediktorinya.
“Namanya metonimia. Sebuah istilah umum mewakili sebagian hal, seperi ruangan ber-AC yang mewakili sebagian orang yang merokok dalam ruangan,” ujar Prof. Putu.
Selain itu, Prof. Putu juga senang sekali memplesetkan nama-nama mahasiswa dan kolega dengan nama-nama artis. Bahkan, dalam sambutan panitia, para dosen bertanya, “Apa nama julukan saya?” Biasanya yang sudah diberi nama senyum sendiri, seperti Dr. Hayatul Cholsy yang dipanggil Tamara Bleszynski karena perawakannya mirip.
Dalam pertemuan di luar pidato pamit ini pun, Prof. Putu bertanya, “Mana temanmu yang manis itu?” Pertanyaan Prof. Putu merujuk kepada mantan mahasiswa beliau.
“Elly Delfia?” jawab orang yang ditanya.
“Ya, dia manis sekali karena namanya delfi, Elly Delfi alias coklat Elly,” terang Prof. Putu.
Dalam kajian linguistik, Prof. Putu menggunakan strategi majas asosiasi. Majas asosiasi adalah gaya bahasa yang membentuk hubungan suatu hal dengan hal lain yang berbeda namun dianggap sama. Dalam hal ini, sebenarnya tidak ada yang diasosiakan, tetapi Prof. Putu menggunakannya karena ada kemiripan pada huruf yang merangkai nama mantan mahasiswa beliau tersebut.
Kompleksitas yang digunakan Prof. Putu dalam berbicara sehari-hari melalui humor dan linguistik itulah yang kemudian beliau menjadi profesor humor. Beliau memanfaatkan humor sebagai strategi linguistik untuk menyampaikan pesan kepada para pendengar. Berakhirnya masa tugas beliau sebagai profesor tentu menjadi kekhawatiran bagi dunia linguistik. Akankah ada lagi profesor linguistik yang menggunakan humor sebagai strategi untuk berkomunikasi? Kita tentunya berharap dari mahasiswa yang pernah diajarkan atau dibimbing Prof. Putu. Ilmu yang diberikan Prof. Putu diharapkan melekat dalam penelitian linguistik yang akan dilakukan.






