
Ada yang menarik dari konten yang dihasilkan oleh tiga orang kreator, yaitu @ibongtalks, @ceritaocid, dan @semakindidevan. Mereka membahas ejaan, khususnya yang berkenaan dengan tanda baca, seperti tanda titik, tanda koma, tanda tanya, dan tanda bintang, serta berkenaan dengan spasi, huruf kapital, dan huruf kecil. Namun, yang dibahas tidak sekadar mana ejaan benar atau mana ejaan yang salah, tetapi bagaimana ejaan tersebut menjadi humor kritik terhadap perusahaan yang mengeksploitasi karyawannya dalam bekerja.
Pertama, mereka membahas soal spasi. Spasi biasanya digunakan untuk memisahkan sebuah kata dengan kata lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh ketiga kreator konten melalui sebuah kalimat “Apa yang harus diperbaiki dalam tulisan ini?”. Berikut tulisan yang dimaksud.
(1) WORKLIFE
(2) KARYAWANCUTI
Bentuk worklife dan karyawancuti kemudian dianalisis dengan menegaskan kalimat bahwa:
(1a) Work sama life gak boleh digabung, harusnya dipisah.
(2a) Karyawan sama cuti harusnya dikasih space.
Secara kebahasaan, penulisan worklife dan karyawancuti merupakan penulisan yang salah. Namun, humor yang dihasilkan bukan semata-mata untuk menjelaskan bahwa tulisannya salah, melainkan menjadi kritik bahwa telah terjadi relasi kuasa yang tidak benar atau terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Dalam praktiknya, humor tidak hanya meredakan ketegangan, tetapi juga menyampaikan kritik sosial (Webb, 1981; Wijana, 2018) dan sebagai sarana perlawanan (Dubberley, 1988; Sorensen, 2008).
Dalam konten tersebut, spasi tidak semata-mata digunakan untuk memisahkan kata work dan life dan memisahkan kata karyawan dan cuti, tetapi juga untuk menjadi kritik sosial atau sarana perlawanan seorang karyawan terhadap atasan di kantornya. Seorang atasan di kantor seharusnya tahu bahwa seorang karyawan berhak hidup layak dan berhak melaksanakan pekerjaan secara wajar. Mengapa demikian? Selama ini atasan di kantor sering mengabaikan hak karyawan sehingga banyak karyawan yang bekerja di luar kewajaran, bekerja pada hari minggu, bekerja saat cuti, sementara gajinya tidak sebanding dengan apa yang telah dikerjakan.
Berdasarkan kondisi tersebut, kreator konten ini ingin menegaskan bahwa harus ada spasi antara work ‘pekerjaan’ dan life ‘kehidupan’. Kalau tidak ada spasi, seorang karyawan akan menderita karena mereka dituntut bekerja tanpa mendapatkan kehidupan yang layak. Begitu juga dengan spasi antara karyawan dan cuti. Spasi tidak semata-mata untuk memisahkan kata karyawan dan cuti, tetapi untuk menunjukkan bahwa seorang karyawan harus diberi space atau jeda dalam pekerjaan berupa cuti ‘meninggalkan pekerjaan beberapa waktu secara resmi untuk beristirahat’.
Kedua, pentingnya membedakan huruf kapital dan huruf kecil atau huruf biasa. Huruf kapital dan huruf kecil tidak semata-mata dilihat sebagai huruf, tetapi dilihat bagaimana besar dan kecil penggunaan huruf tersebut mampu memengaruhi hidup seseorang. Hal ini bisa dilihat pada data berikut.
(3) SAYA MENGERJAKAN BANYAK JOBDESC & MENDAPATKAN gaji
Dalam kalimat tersebut, tulisan “SAYA MENGERJAKAN BANYAK JOBDESC” tidak semata-mata dibahas karena menggunakan huruf kapital, tetapi menjelaskan telah terjadi ketimpangan dalam dunia kerja. Seorang karyawan yang diwakili oleh pronomina saya dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa sebagai karyawan, ia telah mengerjakan banyak pekerjaan. Namun, apakah pekerjaan tersebut berdampak baik terhadap ekonominya? Apakah ia mendapatkan gaji atau honor yang layak? Hal tersebut bisa dilihat pada kalimat selanjutnya bahwa “SAYA MENGERJAKAN BANYAK JOBDESC & MENDAPATKAN gaji”. Adanya perbedaan huruf kapital dan huruf kecil pada kata gaji menunjukkan kritikan bahwa seorang karyawan telah melakukan banyak pekerjaan, tetapi gaji yang diterima ternyata jauh lebih kecil. Oleh karena itu, keluarlah kritikan terkait tulisan tersebut dengan tuturan:
SAYA MENGERJAKAN BANYAK JOBDESC & MENDAPATKAN gaji. Ini gajinya kecil, harusnya besar, biar sesuai.
Ketiga, pentingnya membedakan penggunaan tanda baca, seperti tanda titik, tanda koma, tanda tanya, dan tanda bintang dalam sebuah kalimat. Tanda baca yang dimaksud tidak semata-mata untuk menjelaskan tanda titik dipakai pada akhir kalimat deklaratif dan tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya, tetapi untuk menjelaskan bahwa dalam dunia kerja, sering kali pimpinan bersikap tidak adil terhadap karyawannya. Hal ini ditunjukkan oleh para kreator konten pada data berikut.
(5) ATASAN TOXIC MENDENGARKAN KARYAWAN.
Menurut para kreator konten, tanda titik (.) harus diganti dengan tanda tanya (?). Mengapa? Atasan toxic yang mendengarkan karyawan, itu hal yang perlu dipertanyakan. Dalam kondisi yang wajar, seorang atasan harusnya mendengarkan karyawan. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada atasan toxic karena mereka cenderung tidak mau mendengarkan karyawan. Akibatnya, jika ada atasan toxic yang mendengarkan karyawan, itu sebenarnya menjadi hal-hal yang tidak mungkin terjadi sehingga keluarlah kalimat, “Atasan toxic yang mendengarkan karyawan, itu hal yang perlu dipertanyakan”.
Selain mengubah tanda titik (.) menjadi tanda tanya (?), humor kritik berbasis ejaan juga digunakan untuk menjelaskan bahwa dalam sebuah penulisan, ada maknanya mengapa tanda titik (.) harus diubah menjadi tanda bintang (*). Hal ini dapat dilihat pada data berikut.
(4) KERJAAN BARU.
Bentuk KERJAAN BARU. dijadikan humor oleh kreator konten dengan menghasilkan tuturan, “Harusnya tanda titik diganti koma”. Namun, makna yang dimaksud bukan semata-mata mengubah tanda titik (.) menjadi tanda koma (,), tetapi sebagai kritik bahwa yang terjadi selama ini adalah pekerjaan baru selalu berlanjut. Penggunaan tanda titik (.) bermakna bahwa sesuatu harus berakhir. Namun bagi para karyawan, pekerjaan baru justru tidak pernah cepat berakhir. Pekerjaan baru pasti terus berlanjut.
Selain humor kritik yang menunjukkan harus ada perubahan dari tanda titik (.) menjadi tanda koma (,) dan tanda tanya (?), juga ada humor yang menjelaskan bahwa tanda titik (.) juga bisa diubah menjadi tanda bintang (*). Hal tersebut dapat dilihat pada bentuk berikut.
(6) KARYAWAN BOLEH AMBIL CUTI.
Pada data (6), para kreator konten menghasilkan humor kritikan dengan kalimat “Tanda titik (.) harus diganti dengan tanda bintang (*) karena kalau mau ambil cuti, syarat dan ketentuan berlaku.” Kalimat tersebut tidak semata-mata menunjukkan perubahan penggunaan tanda baca, tetapi menjadi kritik terhadap para atasan di berbagai perusahaan bahwa selama ini karyawan tidak pernah mendapatkan hak cuti sepenuhnya. Para karyawan yang mengambil cuti cenderung mengikuti syarat dan ketentuan berlaku.
Dari kritikan-kritikan tersebut, tampak bahwa konten yang dihasilkan tidak semata-mata bertujuan untuk membahas kesalahan ejaan dalam kalimat, tetapi menunjukkan bahwa dengan berbasis ejaan, seseorang bisa menunjukkan perlawanan terhadap apa yang telah dilaluinya. Perlawanan tidak selamanya dengan demonstrasi, kekerasan, atau perusakan aset, tetapi bisa juga dengan tanda baca. Tanda baca yang salah yang dipakai dalam humor kritik justru menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahan dalam kekuasan seorang pimpinan selama ini.






