Senin, 13/4/26 | 09:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Minggu, 28/4/24 | 10:20 WIB

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Di dalam bahasa Indonesia, ada kata berfoto dan memfoto, belajar dan mengajar, berjemur dan menjemur, berendam dam merendam, bersisir dan menyisir, berbaju dan memakai baju, bersatu dan menyatu, berdua dan mendua, berubah dan mengubah, bergeser dan menggeser, bertinju dan meninju, berangkat dan mengangkat, berbuka dan membuka, dan sebagainya. Ketika membaca contoh-contoh kata tersebut, kita tentu mengetahui sebenarnya kata-kata itu berbeda meskipun berasal dari satu kata dasar yang sama. Kita bisa merasakan nuansa yang tidak sama, tetapi terkadang cukup sulit untuk mendeskripsikannya. Untuk itu, mari kita lihat perbedaannya.

Sebelum kita masuk ke perbedaan makna awalan dari kata-kata tersebut, kita akan memulainya dengan mengenal dua awalan yang akan kita bahas secara singkat. Pertama adalah awalan ber-. Awalan ber- memiliki tiga alomorf yaitu, be-, ber-, dan bel-. Ketiga alomorf ini digunakan sesuai dengan kata yang mengikutinya. Alomorf ber- diikuti oleh kata-kata yang tidak dimulai dengan huruf r atau kata-kata yang tidak memiliki banyak huruf r, seperti: ber- + kata (berkata), ber- + sepatu (bersepatu), dan ber- + selancar (berselancar). Alomorf be- diikuti oleh kata-kata yang dimulai dengan huruf r atau memiliki banyak huruf r seperti: be- + rambut (berambut), be- + renang (berenang), be- + kerja (bekerja), dan be- + cermin (becermin). Alomorf bel- hanya diikuti oleh kata ajar menjadi belajar.

Tidak jauh berbeda dengan awalan ber-, awalan me- (sebagian ahli bahasa lain menyebutnya awalan meN- atau awalan me-). Dalam artikel ini kita akan menggunakan awalan me-. Awalan me- juga memiliki alomorf, tetapi jumlahnya lebih banyak. Awalan me- memiliki enam alomorf, yaitu me-, mem-, men-, meng-, menge-, dan meny-. Sama halnya dengan awalan ber-, berbagai variasi alomorf me- juga digunakan sesuai dengan kata yang mengikutinya. Alomorf me- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama l, m, n, r, w, dan y (melihat, memasak, menikah, merawat, dan mewisuda). Alomorf mem- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama b, f, p, dan v, tetapi huruf p akan lesap atau hilang (membuka, memfoto, memakai, dan memveto). Alomorf men- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama c, d, j, t, dan z, tetapi huruf t akan lesap atau hilang (mencari, mendata, menjual, dan menutup). Alomorf meng- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama a, i, u, e, o, g, h, dan k, tetapi huruf k akan lesap atau hilang (mengajak, mengikat, mengulang, mengeja, mengobrol, menggoreng, menghapus, dan mengejar). Alomorf menge- digunakan untuk kata yang hanya memiliki satu suku kata, seperti tes (mengetes), lap (mengelap), bom (mengebom), dan cat (mengecat). Alomorf meny- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama s, tetapi huruf s menjadi lesap atau hilang, seperti simpan (menyimpan), satu (menyatu), dan sikat (menyikat).  Ini adalah penjelasan mengenai penggunaan awalan ber- dan me-. Selanjutnya, kita akan masuk ke dalam makna-maknanya.

Halaman 1 dari 5
12...5Next
Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kunjungan Wisatawan ke Sumbar Meningkat, Program Pariwisata Berbasis Masyarakat Dinilai Layak Dipertahankan

Berita Sesudah

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Idiom “keras kepala” menjadi viral karena diucapkan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Berita Sesudah
Gaya Bahasa pada Lagu Satu-Satu oleh Idgitaf

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Discussion about this post

POPULER

  • Pemerintah Perkuat Diplomasi Terkait Travel Warning Korea Selatan untuk Bali

    Pemerintah Perkuat Diplomasi Terkait Travel Warning Korea Selatan untuk Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BK DPRD Sumbar Perkuat Disiplin Anggota, Kehadiran dan Etika Berpakaian Jadi Sorotan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Maigus Nasir Resmi Lepas Peserta Grand Launching BOM Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026