Senin, 14/9/26 | 05:17 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Minggu, 28/4/24 | 10:20 WIB

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Di dalam bahasa Indonesia, ada kata berfoto dan memfoto, belajar dan mengajar, berjemur dan menjemur, berendam dam merendam, bersisir dan menyisir, berbaju dan memakai baju, bersatu dan menyatu, berdua dan mendua, berubah dan mengubah, bergeser dan menggeser, bertinju dan meninju, berangkat dan mengangkat, berbuka dan membuka, dan sebagainya. Ketika membaca contoh-contoh kata tersebut, kita tentu mengetahui sebenarnya kata-kata itu berbeda meskipun berasal dari satu kata dasar yang sama. Kita bisa merasakan nuansa yang tidak sama, tetapi terkadang cukup sulit untuk mendeskripsikannya. Untuk itu, mari kita lihat perbedaannya.

Sebelum kita masuk ke perbedaan makna awalan dari kata-kata tersebut, kita akan memulainya dengan mengenal dua awalan yang akan kita bahas secara singkat. Pertama adalah awalan ber-. Awalan ber- memiliki tiga alomorf yaitu, be-, ber-, dan bel-. Ketiga alomorf ini digunakan sesuai dengan kata yang mengikutinya. Alomorf ber- diikuti oleh kata-kata yang tidak dimulai dengan huruf r atau kata-kata yang tidak memiliki banyak huruf r, seperti: ber- + kata (berkata), ber- + sepatu (bersepatu), dan ber- + selancar (berselancar). Alomorf be- diikuti oleh kata-kata yang dimulai dengan huruf r atau memiliki banyak huruf r seperti: be- + rambut (berambut), be- + renang (berenang), be- + kerja (bekerja), dan be- + cermin (becermin). Alomorf bel- hanya diikuti oleh kata ajar menjadi belajar.

Tidak jauh berbeda dengan awalan ber-, awalan me- (sebagian ahli bahasa lain menyebutnya awalan meN- atau awalan me-). Dalam artikel ini kita akan menggunakan awalan me-. Awalan me- juga memiliki alomorf, tetapi jumlahnya lebih banyak. Awalan me- memiliki enam alomorf, yaitu me-, mem-, men-, meng-, menge-, dan meny-. Sama halnya dengan awalan ber-, berbagai variasi alomorf me- juga digunakan sesuai dengan kata yang mengikutinya. Alomorf me- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama l, m, n, r, w, dan y (melihat, memasak, menikah, merawat, dan mewisuda). Alomorf mem- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama b, f, p, dan v, tetapi huruf p akan lesap atau hilang (membuka, memfoto, memakai, dan memveto). Alomorf men- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama c, d, j, t, dan z, tetapi huruf t akan lesap atau hilang (mencari, mendata, menjual, dan menutup). Alomorf meng- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama a, i, u, e, o, g, h, dan k, tetapi huruf k akan lesap atau hilang (mengajak, mengikat, mengulang, mengeja, mengobrol, menggoreng, menghapus, dan mengejar). Alomorf menge- digunakan untuk kata yang hanya memiliki satu suku kata, seperti tes (mengetes), lap (mengelap), bom (mengebom), dan cat (mengecat). Alomorf meny- digunakan untuk kata-kata dengan huruf pertama s, tetapi huruf s menjadi lesap atau hilang, seperti simpan (menyimpan), satu (menyatu), dan sikat (menyikat).  Ini adalah penjelasan mengenai penggunaan awalan ber- dan me-. Selanjutnya, kita akan masuk ke dalam makna-maknanya.

Halaman 1 dari 5
12...5Next
Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kunjungan Wisatawan ke Sumbar Meningkat, Program Pariwisata Berbasis Masyarakat Dinilai Layak Dipertahankan

Berita Sesudah

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat ini, AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies) Kata pas, cocok, sesuai, dan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kali ini, kita akan membahas bentuk terikat...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Linguistik FIB Universitas Andalas) Ada yang menarik dari konten...

Berita Sesudah
Gaya Bahasa pada Lagu Satu-Satu oleh Idgitaf

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Benarkah Onomatope Arbitrer?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 34 Calon Ketua Tanfidz Bersaing Pimpin DPAC PKB Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026