
Oleh: Rosidatul Arifah
(Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada dunia perpuisian Sumatera Barat. Naskah manuskrip puisi Belajar Menanggalkan Bulan karya Dandri Hendika yang masuk kategori lima naskah pilihan pada Payakumbuh Poetry Festival 2025 silam, mulai mencuri pandangan dengan muncul ke permukaan sebagai sebuah buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Rumahkayu Pustaka.
Buku dengan tebal 70 halaman ini mengemas puisi-puisi yang ditulis oleh penyair Dandri Hendika dari tahun 2022 hingga 2025. Puisi-puisi yang terhimpun tidak berdiri dalam sajian kontemplatif ataupun hermetis, melainkan berangkat dari tema-tema yang amat dekat dan domestik. Dari ayunan, dapur, sajian tungku ibu, berkenalan dengan ayah, hingga kuburan.
Penulis membuka kumpulan puisi ini dengan mengajak pembaca untuk terlahir kembali dari rahim seorang wanita, lalu siap mengembara, mencicipi segala aroma kepedihan. Dimulai dari pengembaraan dalam buaian, memasuki taman kanak-kanak hingga gerbang sekolah, bermain dengan boneka, menjadi komentator liga yang memandu pertandingan, melihat cara orang dewasa bekerja, berebutan bola dengan anjing, hingga bertetangga dengan ayah dan ibu. Perjalanan tersebut membuat buku ini terasa seperti sebuah pengembaraan yang panjang, di mana pembaca tidak sekadar diajak berpindah dari satu puisi ke puisi lainnya, tetapi turut mengikuti pertumbuhan seorang anak dan dunia yang perlahan-lahan dikenalnya.
Menjadi kanak-kanak tidak selalu bercerita tentang banyak hal yang menyenangkan, berlibur di rumah nenek, kembali ke kampung halaman, maupun berbelanja mainan dengan ayah. Sebaliknya, penulis malah menyajikan kehidupan sebagai kanak-kanak yang mesti menunggangi banyak percikan kegagalan menjadi orang dewasa dalam bola mata anak-anak. Masa kanak-kanak yang biasanya dipahami sebagai ruang untuk bermain, dalam buku ini justru menjadi ruang pertama bagi seorang anak untuk menyaksikan kepedihan orang-orang dewasa. Apa yang bagi orang dewasa merupakan persoalan, pertengkaran, kehilangan, bahkan luka, dapat hadir sebagai sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami oleh seorang anak. Dari sana, kepolosan kanak-kanak dalam buku ini perlahan berhadapan dengan dunia orang dewasa.
Penulis tampaknya membagi tiga komponen kefokusan dalam kumpulan puisi-puisi ini. Kefokusan utama adalah pada tokoh anak. Jika disandingkan dalam pengkajian prosa, dapatlah dikatakan penulis ini memakai teknik aku sertaan dalam menyusun bagian ini. Kefokusan aku sertaan anak ini digambarkan melalui serangkaian peristiwa mulai dari hari keluncurannya dari rahim, mencicipi segala sajian dari menjadi bayi, hingga bergerak menjadi anak-anak yang kemudian tak berminat ia lanjutkan ke fase berikutnya.
Kefokusan berikutnya ialah tokoh Ayah. Cerita-cerita yang dihadirkan mulai menuai ragam konflik. Dalam banyak puisi, Ayah digambarkan serupa pembuas liar yang siap menerkam sesiapa yang lemah darinya. Bagian-bagian ini menuai banyak pandangan aku terhadap Ayah dan Ibu yang mesti menahan kecut. Ayah tidak hanya hadir sebagai sosok dalam keluarga, tetapi menjadi bagian dari ingatan masa kanak-kanak yang terus membentuk cara pandang aku terhadap rumah dan orang-orang di dalamnya.
Selanjutnya kefokusan pada Ibu. Ibu digambarkan sebagai tokoh yang menghadapi kekalahan dominasi. Mulai dari puisi “Cara Ibu Bekerja” hingga “Penyakit Mata”, Ibu digambarkan tidak semendetail Ayah. Tidak ada persepsi khusus yang dilihat dari pandangan anak ke Ibu. Umumnya kanak-kanak, memandang kecintaan pertamanya memang pada ibunya sebelum bapaknya. Namun, dalam kumpulan puisi ini, kecintaan tersebut tidak sepenuhnya hadir dalam bentuk kehangatan. Ibu justru hadir bersama kelelahan, pekerjaan, air mata, dan kekalahan yang turut disaksikan oleh mata seorang anak.
Sekumpulan puisi ini dapat dianggap sebagai suatu rangkaian kereta, dari satu gerbong menuju gerbong lain, dan saling berikat antarsesamanya. Bukan hanya terhimpun atas puisi-puisi dengan tema yang sama, namun, saya malah seperti membaca suatu prosa yang dirancang memiliki empat runtutan, yakni paparan, tikaian, rumitan, dan selesaian.
Paparan dimulai dari hari kelahiran sang anak, drama mulai dimainkan semenjak anak bergerak dari ayunan. Anak mencermati seluruh keadaan. Mulai dari bantalnya yang ditumbuhi pohon kapuk karena gemar menyedekahi linangan air yang menyuburkan kesedihan, melihat taman kanak-kanak dan gerbang sekolah dalam kobaran kesengsaraan, hingga menjadi komentator di rumah.
Bagian menjadi komentator di rumah, saya rasa memiliki citraan yang amat menarik. Anak digambarkan menjadi komentator pertandingan fisik antara Ayah dan Ibu, yang kemudian dapat dimaknai dengan KDRT, namun dikemas dalam sajian yang amat menarik sekaligus memilukan. Umpatan demi pukulan yang berlaga di antara keduanya disajikan sebagai pertandingan yang mengasyikkan di mata sang anak. Di titik ini, permainan sudut pandang menjadi salah satu kekuatan yang menarik. Peristiwa yang bagi orang dewasa merupakan kekerasan, justru diterima oleh seorang anak melalui bahasa permainan dan pertandingan. Anak belum sepenuhnya memiliki bahasa untuk memahami kekerasan yang disaksikannya, sehingga apa yang mengerikan justru tampil sebagai sesuatu yang seolah-olah biasa.
Beberapa sajian puisi di buku ini memang runtun dalam menuangkan alur. Sehingga pembaca dapat menerka bagian tikaian yang hadir ketika kehidupan sang anak mulai berhadapan dengan kenyataan orang dewasa, terutama melalui perkenalan dengan sosok Ayah. Ketika membahas Ayah, citraan tentang kekasaran, kepedisan, dan gambaran duka dihadirkan mulai mendalam. Ayah yang enggan bekerja, Ayah yang senang bermain pukul-pukulan, menjadi suatu lanskap potret pemandangan Ayah dalam bola mata kecil anak.
Dari sinilah tikaian kemudian bergerak menjadi rumitan. Tokoh Ibu turut menyumbang dengan mulai diperkenalkannya persoalan lain yang tidak kalah getir. Tokoh Ibu yang dihadirkan sebagai peran kekalahan dalam pertandingan, kelabatan pasar yang memenuhi tiap jengkal pikiran Ibu demi memenuhi kewajiban yang sempat dilalaikan Ayah menjadi bagian-bagian yang menyokong kesengsaraan berikutnya.
Bagian yang paling menarik sekaligus ironi di sini ialah Ibu dan abu dapur yang basah, sementara tanah di halaman hampir retak menghadang panasnya matahari. Yang pada akhirnya didapati kesimpulan, abu tersebut basah dikarenakan aliran sungai dari kelopak mata Ibu. Citraan semacam ini membuat kesedihan tidak hadir secara terus terang, melainkan melalui benda-benda yang amat dekat dengan kehidupan rumah. Dapur, abu, tanah, panas, dan air mata kemudian menjadi semacam lanskap yang memperlihatkan keadaan Ibu tanpa harus mengatakan bahwa Ibu sedang bersedih.
Tidak satu atau dua hal saja yang membuat anak tidak ingin umurnya menjadi bertambah dewasa. Rentetan kehidupan yang dihadirkan dari mulai meluncur dari rahim hingga mengenal gerbang sekolah ternyata cukup memberi rasa empedu. Semakin jauh anak berjalan menuju kedewasaan, semakin banyak pula kegagalan orang dewasa yang mesti ia saksikan.
Maka dari itu, penulis mengakhiri pengenalan dengan gerbong terakhir serangkaian kereta ini dengan kematian. “Telur Ayam Puskesmas” dan “Kain Hitam” telah menyelesaikan kesengsaraan berikutnya. Tokoh Aku kehilangan Ibunya dalam dua puisi ini, lalu diakhiri dengan Aku yang “Bertetangga dengan Ibu dan Ayah” di pemakaman mereka berdua.
Kematian kemudian menjadi semacam selesaian, tetapi bukan selesaian yang benar-benar menyelesaikan. Anak memang telah kehilangan Ayah dan Ibu, tetapi kehilangan tersebut justru membawa kembali ingatan kepada awal mula keberadaannya. Semuanya ditutup dengan kembali ke rahim. Aku tidak ingin melanjutkan usianya.
Di sinilah judul Belajar Menanggalkan Bulan menjadi semakin menarik untuk dibaca setelah seluruh rangkaian puisi selesai ditelusuri. Perjalanan dari rahim menuju kehidupan, dari bayi menuju kanak-kanak, lalu dari kehidupan menuju kubur, membuat buku ini seperti perjalanan yang tidak sepenuhnya bergerak maju. Seakan berputar, kembali, dan mencari tempat mula-mula.
Pada akhirnya, Belajar Menanggalkan Bulan tidak hanya menghadirkan puisi-puisi tentang seorang anak dan keluarganya. Buku ini menghadirkan bagaimana seorang anak menyaksikan dunia orang dewasa dari jarak yang kecil, melalui bahasa yang kadang bermain, kadang getir, dan kadang begitu dekat dengan benda-benda sehari-hari, dan tak jarang juga menggelitik tawa. Rumah, dapur, sekolah, permainan, Ayah, Ibu, hingga kubur membawa pembaca menuju satu perjalanan yang semakin lama semakin muram. Dan barangkali, setelah seluruh gerbong itu sampai pada pemberhentian terakhir, kita akan memahami mengapa Aku tidak ingin melanjutkan usianya. Sebab menjadi dewasa, dalam buku ini, bukan sekadar bertambah angka pada umur, melainkan ikut mewarisi seluruh luka yang sejak kanak-kanak telah diam-diam disaksikan.
Tentang Penulis:
Rosidatul Arifah lahir pada 12 Juni 2004 dan berdomisili di Padang Pariaman. Ia pernah bergiat di Labor Penulisan Kreatif, LPK Unand dan pernah menjuarai lomba PISBN cabang Penulisan Lakon. Aktif mengikuti beberapa residensi kepenulisan sastra, salah satunya Belajar Bersama Maestro Ahmad Tohari, yang diselenggarakan oleh Kementrian Kebudayaan RI. Beberapa karyanya yang sudah terbit di berbagai koran cetak dan platform digital, seperti Suara Merdeka, Koran Singgalang, Scientia.id, Langgampustaka.com, dll. Akun instagramnya: @rosidatul_arifah dan email rosidatularifah578@gmail.com






