Senin, 07/9/26 | 08:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)

Saat ini, AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan artifisial semakin populer digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk membantu kegiatan tulis-menulis bagi kalangan akademisi. Berbagai kegiatan akademik dan pembelajaran dipermudah oleh keberadaan AI. Namun, kemudahan yang ditawarkan oleh AI juga mesti didukung oleh kecerdasan pengguna dalam membuat prompt.

Prompt berasal dari bahasa Latin, yaitu promptus yang arti awalnya adalah ‘siap sedia untuk bertindak atau siaga’. Dalam dunia komputer, arti prompt kemudian berkembang menjadi ‘tanda atau baris teks pada layar (command line) yang menandakan sistem siap menerima masukan atau perintah dari pengguna. Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), arti prompt berubah menjadi instruksi, pertanyaan, atau teks masukan yang diberikan kepada sistem kecerdasan buatan untuk menghasilkan respons atau luaran tertentu.

Prompt berfungsi sebagai jembatan komunikasi agar AI memahami apa yang diinginkan oleh pengguna, mulai dari menjawab pertanyaan, menulis teks, membuat gambar, hingga menganalisis data. Jika pengguna tidak dapat membuat prompt yang tepat, kecerdasan AI juga tidak dapat digunakan untuk membantu pengguna dalam menyelesaikan pekerjaan. Di sinilah kelihaian manusia tidak tergantikan. Prompt menjadi bukti bahwa kecerdasan berbahasa yang dimiliki oleh manusia sebagai ciptaan Tuhan tetap menjadi andalan. Prompt terkait dengan kemampuan linguistik seseorang dalam mengarahkan AI untuk mencarikan solusi dan menyelesaikan pekerjaan yang diinginkan.

Untuk dapat membuat prompt yang efektif dan spesifik, pengguna mesti memperhatikan empat cara, yaitu 1. Instruksi yang spesifik  atau perintah yang jelas dengan kata-kata kunci  (buatkan, terjemahkan, analisis). 2. Konteks yang berisi informasi terkait dengan latar belakang agar hasil yang diberikan sesuai dengan situasi yang diinginkan oleh pengguna, 3. Format luaran berbentuk sajian jawaban yang diinginkan, contohnya tabel, daftar poin, gambar, atau paragraf pendek,  dan 4. Peran atau nada bicara yang perlu diadopsi oleh AI adalah peran pengguna, apakah pengguna bertindak sebagai seseorang dengan profesi tertentu, seperti konsultan, dokter, perawat, guru, atau orang tua.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Pengguna yang tidak paham dengan prompt akan memerintahkan AI dengan perintah yang terlalu umum atau asal-asalan. Hal itu tidak akan membantu karena prompt yang terlalu umum tidak menghasilkan teks yang bersih dan spesifik tentang sebuah wacana. Contoh prompt yang terlalu umum di antaranya:

  1. Buatlah sebuah paragraf tentang letusan Gunung Anak Krakatau.
  2. Jelaskan tentang Elon Musk
  3. Ubahlah teks berikut menjadi paragraf pendek.
  4. Buatlah sebuah gambar tentang anak kecil.
  5. Terjemahkan email ini ke dalam bahasa Inggris

Bentuk yang spesifik dan efektif dari prompt di atas adalah:

  1. Bertindaklah sebagai penulis sejarah dan tulis artikel 200 kata tentang letusan Gunung Anak Krakatau sejak pertama kali meletus hingga erupsi kembali pada 5 September 2026, dan sajikan dalam tiga poin utama.
  2. Bertindaklah sebagai penulis profil orang terkenal dan jelaskan tentang siapa Elon Musk, perusahaannya, dan kiprah bisnisnya di bidang teknologi.
  3. Bertindaklah sebagai penulis jurnal, ubahlah teks berikut menjadi paragraf pendek yang disertai dengan tabel dan grafik.
  4. Bertindaklah sebagai desainer grafis, lalu buatlah gambar animasi seorang gadis kecil untuk puisi anak berikut dengan warna yang cerah.
  5. Bertindaklah sebagai manajer akreditasi internasional, lalu terjemahkan email ini ke dalam bahasa Inggris yang formal dan sopan.

Semakin jelas dan terstruktur instruksi dalam prompt, semakin akurat dan relevan hasil yang diberikan oleh AI. Prompt AI bukan sekadar instruksi teknis, melainkan tindakan wacana yang sarat ideologi, relasi kuasa, dan kontestasi pengetahuan. Dalam kerangka analisis wacana kritis, instruksi yang diberikan kepada prompt berfungsi sebagai mekanisme pembingkaian yang menentukan batasan realitas, norma, dan perspektif yang diproduksi ulang oleh AI.

Dari perspektif analisis wacana kritis, prompt dapat dilihat melalui tiga dimensi yang dikonsepkan oleh Fairclough (1995), yaitu dimensi tekstual, praktik diskursif, dan praktik sosiokultural. Dimensi tekstual menjelaskan pilihan kata, nada, struktur perintah, dan penetapan peran dalam sebuah instruksi, yang secara langsung membatasi ruang respons AI. Framing yang spesifik dari suatu prompt akan memandu sistem AI untuk mengadopsi sudut pandang tertentu yang terbatas dan mengabaikan narasi alternatif lainnya sehingga tercipta hasil yang spesifik sesuai dengan keinginan pengguna.

Dimensi praktik diskursif merupakan rekayasa instruksi yang menciptakan hierarki kemampuan baru dalam masyarakat digital. Pengguna (aktor) yang memiliki  kemampuan teknis dalam teknologi komunikasi terkait prompt AI memegang kontrol yang lebih besar terhadap cara pengetahuan diproduksi, disaring, dan didistribusikan kepada pembaca.

Dimensi praktik sosiokultural dapat dilihat melalui model AI yang dilatih untuk menggunakan data korpus yang didominasi oleh wacana arus utama. Perintah atau instruksi berbentuk prompt tertentu dapat berfungsi untuk memperkuat hegemoni (dominasi) budaya tertentu (Fairclough, 1989). Sebaliknya, prompt juga dapat berfungsi sebagai instrumen untuk membongkar bias dan narasi pinggiran atau pihak-pihak yang termarjinalkan untuk diekspos ke permukaan (Noble, 2018).

Prompt dapat  dibuat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Prompt yang tepat akan menghasilkan teks yang tepat dan dapat menunjukkan dominasinya terhadap pihak tertentu dalam menghasilkan kebenaran tunggal (Foucault, 1980). Kalau prompt yang diminta tentang sejarah letusan Anak Gunung Krakatau, teks yang tercipta dari prompt adalah semua informasi yang disimpan dalam korpus data internet terkait dengan sejarah letusan Anak Gunung Krakatau sejak pertama kali meletus yang memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa hingga erupsi saat ini. Informasi tersebut adalah sebuah kebenaran tunggal. Mengapa demikian? Karena prompt yang dibuat, teks tidak akan memberikan informasi tentang letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah ataupun letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat.

Prompt AI merupakan bukti dari dinamika kuasa dalam praktik instruksi yang ditawarkan oleh wacana digital. Penyusunan instruksi prompt adalah arena negosiasi kuasa antara manusia dan algoritma, seperti disampaikan oleh Van Dijk (2008) bahwa wacana merupakan kontrol elite atas produksi pengetahuan dan ketimpangan diskursif. Prompt merupakan kontrol yang dilakukan oleh pengguna sebagai tataran elite yang menguasai ilmu pengetahuan dalam memerintah, mengatur, dan mendikte keluaran sistem algoritma korpus data linguistik yang tersimpan di dalam sistem.

Namun di sisi lain, perusahaan penyedia data internet, seperti Google, Microsoft, dan lainnya juga mempunyai aturan keselamatan perusahaan dengan membatasi apa yang boleh dan tidak boleh diutarakan melalui internet ataupun media sosial dengan cara memblokir informasi yang dianggap sensitif. Prompt merupakan eksplorasi terhadap pembatasan etika sistem tersebut. Secara tidak langsung, fungsi prompt berlawanan dengan kontrol sistem yang dilakukan oleh perusahaan digital pencipta AI seperti Google, Microsoft, dan sebagainya.

Dari kacamata analisis wacana kritis, dapat disimpulkan prompt AI berfungsi untuk mengungkapkan pilihan struktur kebahasaan yang secara teknis bekerja untuk melanggengkan atau menguji relasi kekuasaan pengguna terhadap pembaca dan pengguna terhadap perusahaan pencipta AI. 

Catatan: Sebagian data dan referensi dalam artikel ini dibuat dengan menggunakan AI (google gemini). 

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

Berita Sesudah

Warga Mega Permai 3 Minta Cekdam dan Perbaikan Drainase pada Zalmadi

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies) Kata pas, cocok, sesuai, dan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kali ini, kita akan membahas bentuk terikat...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Linguistik FIB Universitas Andalas) Ada yang menarik dari konten...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Bahasa didefinisikan sebagai...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Berita Sesudah
Warga Mega Permai 3 Minta Cekdam dan Perbaikan Drainase pada Zalmadi

Warga Mega Permai 3 Minta Cekdam dan Perbaikan Drainase pada Zalmadi

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026