
Oleh: Maharani Syifa Ramadhan
(Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)
Modernisme lahir dari sebuah paradoks, berupa “kemajuan yang dijanjikan oleh dunia modern telah menimbulkan kegelisahan baru bagi manusia”. Industrialisasi, pembangunan modern, dan perubahan sosial yang berlangsung sejak abad ke-19 memang membawa manusia menuju kehidupan yang semakin maju, tetapi juga membentuk pengalaman keterasingan, ketidakpastian, bahkan hilangnya orientasi. Perubahan tersebut telah mengubah cara manusia hidup dan memahami realitas di sekitarnya. Dalam konteks ini, sastra modernis menolak anggapan bahwa bentuk-bentuk realistis masih memadai untuk menjelaskan pengalaman manusia modern tersebut. Karya sastra modernis mencari cara baru untuk merepresentasikan dunia modern melalui eksperimen bentuk, bahasa, dan sudut pandang.
Eksperimen tersebut melahirkan modernisme sebagai gerakan yang mengkritik cara-cara lama dalam memahami realitas. Sebagaimana dijelaskan Holub dalam Knellwolf and Norris (2001) bahwa modernisme berkembang dari pengalaman manusia menghadapi perubahan sosial, industrialisasi, urbanisasi, serta krisis nilai yang menyertainya. Lebih konkret, Stevenson (1992) mengemukakan karya sastra modernis menunjukkan dunia sebagai sesuatu yang terfragmentasi, ambigu, dan terus berubah, berbeda dari sastra sebelumnya yang mengandalkan keteraturan narasi dan makna yang stabil. Oleh karena itu, modernisme tidak hanya dapat dipahami sebagai periode sastra, tetapi juga sebagai perubahan cara sastra melihat hubungan antara manusia, realitas, dan representasi.
Jejak Modernisme dalam Sastra Dunia
Perubahan cara sastra menyajikan hubungan tersebut mulai tampak pada puisi-puisi Charles Baudelaire, terutama dalam Les Fleurs du Mal (1868). Berbeda dengan penyair romantik yang memandang alam sebagai ruang merenung dan penuh ketenangan, Baudelaire’s (1868) mengarahkan pandangannya ke jalan-jalan kota yang hiruk-pikuk dan menyimpan rasa sepi. Les Fleurs du Mal (1868) menunjukkan kehidupan urban sebagai ruang yang dipenuhi hasrat, kebosanan, dan kehampaan secara spiritual. Ia merepresentasikan kota modern sebagai pengalaman baru yang mengubah hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pergeseran tersebut memperlihatkan munculnya sensibilitas terhadap modernis, karena dunia berubah menjadi ruang yang dipenuhi kontradiksi sehingga menuntut cara baru untuk merepresentasikannya.
Karya Baudelaire’s (1868) menunjukkan cara modernitas mengubah pengalaman manusia terhadap ruang, Kafka (1915) kemudian memperlihatkan dampak yang lebih jauh, yaitu ketika pengalaman tersebut mulai menggoyahkan identitas manusia itu sendiri. Dalam The Metamorphosis (1915), Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa. Narasi tersebut menunjukkan salah satu ciri paling mendasar dari modernitas yang membiarkan absurditas menjadi bagian dari kenyataan. Tubuh Gregor yang berubah menjadi serangga merepresentasikan rapuhnya identitas manusia ketika nilai dirinya ditentukan oleh fungsi ekonomi dan tuntutan sosial. Absurditas menjadi cara The Metamorphosis (1915) untuk merepresentasikan krisis identitas akibat dunia modern. Dalam konteks tersebut, pengalaman manusia modern tidak lagi dapat dipahami melalui logika realisme yang mengandalkan dunia sebagai sesuatu yang teratur dan dapat dijelaskan.
Jika terjadi pergeseran pengalaman dalam kehidupan manusia modern seperti yang direpresentasikan oleh The Metamorphosis (1915) maka tentu pandangan terhadap dunia sulit dipahami sebagai sesuatu yang objektif. Wallace Stevens melangkah lebih jauh, ia mempertanyakan cara manusia modern memahami realitas tersebut yang terlihat dalam Thirteen Ways of Looking at a Blackbird (1917) dan The Man the Blue Guitar (1937). Melalui satu objek sama yang dihadirkan oleh tiga belas sudut pandang berbeda, Thirteen Ways of Looking at a Blackbird (1917) tidak sedang menampilkan perspektif paling benar, tetapi menunjukkan bahwa setiap perspektif selalu menghasilkan dunia berbeda. Pandangan tersebut diperkuat oleh metafora gitar biru dalam The Man the Blue Guitar (1937) yang menunjukkan bahwa realitas tidak pernah muncul secara langsung di hadapan manusia, tetapi selalu dibentuk oleh imajinasi, bahasa, dan pengalaman subjektif. Eksperimen multiperspektif yang digunakan Stevens menjadi bentuk kritik terhadap keyakinan bahwa realitas dapat direpresentasikan secara utuh dan objektif.
Ketika realitas tidak lagi menjadi satu pusat makna melalui strategi multiperspektif Stevens (1917); (1937), krisis identitas yang digambarkan Kafka (1915) tentu tidak berhenti pada tingkat persepsi individu. Krisis tersebut merembet ke dalam realitas kebudayaan yang mulai kehilangan sejarah, nilai, dan tradisi. Persoalan tersebut dinarasikan melalui bentuk estetika yang radikal dalam puisi The Waste Land (1922) karya T.S. Eliot. Melalui struktur puisi terfragmentasi yang dipenuhi alusi terhadap mitologi, sejarah, agama, dan berbagai tradisi sastra, The Waste Land (1922) merepresentasikan dunia modern sebagai ruang yang tercerai-berai dan sulit dipahami secara utuh.
Eliot (1922) tidak menyusun narasi secara linear dan koheren, ia memilih menggunakan berbagai suara, waktu, dan ruang yang saling bertubrukan sehingga pengalaman membaca ikut merefleksikan rasa putus asa yang dibangun puisi tersebut. Fragmentasi dalam puisi tersebut tidak sepenuhnya berfungsi untuk menampilkan estetika tertentu, tetapi merepresentasikan sesuatu yang lebih filosofis terkait pengalaman manusia yang hidup pada runtuhnya berbagai kepastian setelah Perang Dunia I. Dengan demikian, The Waste Land (1922) menunjukkan bahwa ketika kebudayaan kehilangan pusat makna, bentuk sastra pun tidak lagi bergantung pada kesatuan dan keteraturan sebagaimana tradisi sebelumnya.
Apabila Eliot (1922) masih berupaya menyusun kembali serpihan-serpihan kebudayaan melalui jejaring alusi dan simbol, Hemingway (1924) mengambil arah berbeda. Ia tidak lagi memperbanyak suara dan referensi, tetapi mengurangi bahasa sehingga menyisakan sesuatu yang paling esensial untuk mengungkap pengalaman manusia modern. Dalam cerpen Indian Camp (1924), pengalaman Nick Adams ketika menyaksikan peristiwa persalinan darurat dan bunuh diri dinarasikan dengan tenang, ringkas, dan nyaris tanpa penjelasan emosional.
Gaya penceritaan tersebut sebagaimana The Iceberg Theory yang diuraikan oleh Shipra (2023), yaitu keyakinan bahwa makna terpenting dalam sebuah cerita berada di balik hal-hal yang tidak diungkapkan secara langsung. Dengan mengurangi penjelasan, Indian Camp (1924) menunjukkan bahwa penderitaan, trauma, dan absurditas kehidupan modern tidak selalu dapat dijelaskan sepenuhnya melalui bahasa. Minimalisme dalam karya Hemingway (1924) tersebut menjadi strategi representasi yang mengajak pembaca mengisi sendiri ruang-ruang makna yang sengaja dibiarkan kosong.
Meskipun memiliki bentuk estetika yang berbeda, karya-karya Hemingway, Baudelaire, Kafka, Stevens, dan Eliot memperlihatkan kecenderungan yang sama, yaitu meninggalkan cara-cara representasi yang menganggap dunia sebagai sesuatu yang utuh dan mudah dipahami. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa pengalaman manusia modern menuntut bentuk-bentuk estetika baru yang mampu mengakomodasi kontradiksi, ketidakpastian, dan kompleksitas dalam realitas. Estetika baru tersebut membentuk modernisme yang mempertanyakan kemampuannya sendiri dalam merepresentasikan dunia yang telah berubah secara radikal.
Apakah eksperimen-eksperimen estetika modernisme benar-benar menyelesaikan persoalan representasi?
Berbagai eksperimen estetika tersebut memperlihatkan bahwa modernisme tidak sebatas menawarkan cara baru dalam merepresentasikan dunia, tetapi juga membuka diskusi baru tentang batas-batas representasi itu sendiri. Misalnya, ketika Thirteen Ways of Looking at a Blackbird (1917) dan The Man the Blue Guitar (1937) menolak adanya satu perspektif yang mutlak, maka sejauh mana sastra dapat menyampaikan kritik sosial yang bersifat ‘bersama’ jika setiap pengalaman dipahami secara subjektif. Demikian pula, dengan eksperimen penulisan puisi berupa fragmentasi dan jejaring alusi dalam The Waste Land (1922), apakah bentuk estetika yang semakin rumit mampu menjangkau pembaca secara luas? Pertanyaan lain juga muncul terhadap gaya cerita minimalis dalam Indian Camp (1924) tentang pengalaman-pengalaman yang mungkin luput karena tidak pernah direpresentasikan dalam narasi. Modernisme memang tidak menghadirkan jawaban final terhadap krisis representasi. Tidak masalah, karena salah satu fokus modernisme; memperlihatkan bahwa setiap upaya memahami dunia modern selalu menghadirkan kemungkinan dan batas-batas baru bagi sastra.
Dalam konteks dunia yang terus berubah dan dipenuhi ketidakpastian, modernisme mengingatkan bahwa tugas sastra tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga terus menemukan cara-cara baru untuk memahami kompleksitas pengalaman manusia dan mencerminkan realitasnya. Membaca karya sastra modern sama halnya dengan menyaksikan bagaimana sastra terus menguji batas-batas representasi ketika berhadapan dengan kehidupan dunia yang dinamis.
Referensi
Baudelaire’s, C. (1868). Fleurs du mal. University Press, 1993. https://fleursdumal.org/poem/099
Eliot, T. S. (1922). The Waste Land. Poetry Foundation. https://www.poetryfoundation.org/poems/47311/the-waste-land
Hemingway, E. (1924). Indian Camp. HarperCollins Canada.
Kafka, F. (1915). The Metaporphosis (D. Wyllie, Ed.). Gutenberg.
Knellwolf, C., & Norris, C. (2001). The history of feminist criticism. Cambridge University Press, 275–288.
Shipra. (2023). The Iceberg Theory and Ernest Hemingway. International Journal for Multidisciplinary Research (IJFMR), 5.
Stevens, W. (1917). Thirteen Ways of Looking at a Blackbird. Poetry Foundation. https://www.poetryfoundation.org/poems/45236/thirteen-ways-of-looking-at-a-blackbird
Stevens, W. (1937). The Man with the Blue Guitar. Writing Upenn Edu. https://www.writing.upenn.edu/~afilreis/88v/blueguitar.html
Stevenson, R. (1992). Modernist Fiction an Introduction. University Press of Kentucky.
Biodata Penulis
Penulis merupakan pegiat literasi dan teater dari Kota Padang. Pernah mendapatkan penghargaan Penata Artistik Terbaik dan Anugrah Juri bersama tim teater-nya di Festival Seni mahasiswa Nasional & ASEAN 2025 (SAGARA) di Universitas Indonesia. Ketertarikannya pada kajian feminisme tertuang dalam feature berjudul “Lintasan Dunia Perempuan” (2022) dan zine IWD 2026 yang diinisiasi oleh Pelita Padang “Memberi Ruang untuk Setara” (2026). Tulisan-tulisannya pernah terbit di Roehana Project dan Scientia Indonesia dan Presenter dalam The Third International Conference on Culture and the Performing Arts pada tahun 2025 dan Seminar Gender, Seksualitas dan Hegemoni Kebudayaan pada tahun 2026 di Universitas Padjajaran. Akun media sosial: @syifamaharani.r, TikTok @syfsky0







