Senin, 20/7/26 | 11:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Bahasa didefinisikan sebagai media yang digunakan seseorang untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, ide, gagasan, dan berbagai hal dalam wujud komunikasi dan interaksi. Dalam penggunaannya, bahasa memiliki bentuk lisan dan tulisan. Dalam hal konteks maknanya, bahasa juga bisa digunakan dalam tiga topik masa, yaitu masa lampau, masa kini, dan masa depan.

Di dalam bahasa Inggris, konteks masa lampau ini dikenal dengan istilah past tense (dengan ciri umumnya verba atau kata kerja diubah menjadi bentuk kedua, seperti go mejadi went dan visit menjadi visited), konteks masa kini dikenal dengan istilah present tense (dengan ciri umumnya verba atau kerja ditambah dengan –ing seperti read menjadi reading dan cook menjadi cooking), dan bentuk masa depan dikenal dengan istilah future tense (dengan ciri umumnya penambahan kata will sebelum verba atau kata kerja). Tentu saja, perubahan ini tidak ditulis secara detail (hanya secara umum) sebab fokus pembahasan pada edisi Klinik Bahasa kali ini adalah bentuk penjermahan di dalam bahasa Indonesia.

Di dalam bahasa Korea, konteks masa lampau, masa kini, dan masa depan juga memiliki penanda masing-masing. Verba atau kata kerja konteks masa lampau dalam bahasa Korea ditandai dengan 았/었다 seperti 하다 menjadi 했다 (melakukan atau mengerjakan) dan 사다 menjadi 샀다 (membeli), bentuk masa kini ditandai dengan penambahan -고 있다 seperti 하다 menjadi 하고 있다 (sedang melakukan atau sedang mengerjakan) dan 사다 menjadi 사고 있다 (sedang membeli), bentuk masa depannya ditandai dengan penambahan 을/ㄹ것이다 seperti 하다 menjadi 할 것이다 (akan melakukan atau akan mengerjakan) dan 사다 menjadi 살 것이다 (akan membeli).

Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia? Apakah benar bahwa konteks masa lampau, masa kini, dan masa depan di dalam bahasa Indonesia cukup menambahkan adverbia (kata keterangan) tertentu sebelum kata kerjanya? Bahasa Indonesia juga memiliki banyak adverbia dengan fungsinya masing-masing. Pada umumnya, pengguna bahasa Indonesia mengenal adverbia sudah dan telah untuk konteks pembicaraan tentang masa lampau, sedang untuk masa kini, dan akan untuk masa depan. Namun, apakah benar bahasa Indonesia juga memiliki konteks perbedaan masa (masa lampau, masa kini, dan masa depan) sama persis seperti bahasa asing lainnya?

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa konteks masa tersebut jika dipadankan ke dalam bahasa Indonesia, bisa ditambah dengan adverbia sudah, telah, sedang, dan akan. Adverbia ini selalu diletakkan sebelum verba (kata kerja). Namun, sekali lagi coba kita pahami, apakah adverbia ini benar-benar bisa akurat mewakili makna penanda masa lampau dari bahasa asing? Hal ini cukup rumit jika seseorang melakukan kegiatan penerjemahaan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Untuk itu, mari kita bahas lebih mendalam.

Pembahasan yang akan difokuskan pada edisi Klinik Bahasa Scientia kali ini adalah penanda untuk konteks masa lampau yang dianggap bisa diwakilkan dengan kata sudah dan telah. Oleh karena itu, pembahasan ini akan dimulai dengan pengecekan makna kata sudah dan telah yang tertera di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata sudah memiliki 8 makna, yaitu:

  1. telah jadi; telah sedia; selesai
  2. habis; berakhir
  3. telah lalu (lampau, terjadi); terdahulu
  4. telah (menyatakan perbuatan yang telah terjadi)
  5. cukuplah sekian saja
  6. memang demikian (halnya, keadaannya, dan sebagainya); begitulah (halnya) sejak semula
  7. sehabis; setelah
  8. telah berpihak

Berbeda dengan kata sudah, kata telah sebagai adverbia, di dalam KBBI hanya memiliki satu makna, yaitu “sudah (untuk menyatakan perbuatan, keadaan, dan sebagainya yang sempurna, lampau, atau selesai)”. Dari pemaparan makna berdasarkan KBBI tersebut, kita memahami bahwa kata sudah dan telah memang mengusung konteks lampau atau sesuatu yang sudah terjadi. Kalimat-kalimat yang umum terdengar di dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  1. Kakek dan neneknya sudah lama meningal dunia.
  2. Saya sudah menyelesaikan studi S-1 saya di universitas itu.
  3. Mereka sudah menikah.
  4. Kami sudah mengantar makanan itu.
  5. Semua murid sudah menyerahkan tugas.

Jika dilihat dari lima contoh kalimat tersebut, kata sudah memang dipahami memiliki konteks “telah terjadi” yang kemudian dipahami pasti berlangsung pada “masa lampau”. Akan tetapi, konteks masa lampau yang dibawa oleh kata sudah tidak seutuhnya sama dengan konsep tata bahasa “masa lampau” yang ada di dalam bahasa asing (seperti yang dicontohkan sebelumnya, di dalam bahasa Inggris dan bahasa Korea). Kita bisa melihat contoh berikut:

  1. Kemarin, saya bertemu Cilla.
  2. Kemarin, saya sudah bertemu Cilla.

Dua kalimat ini hanya dibedakan dengan keberadaan kata sudah. Meskipun pada kalimat pertama tidak ada kata sudah, kita menyadari bahwa dua kalimat ini memiliki situasi “bertemu” yang telah berlangsung pada masa lampau karena ada keterangan waktu kemarin. Dengan demikian, kita sepakat bahwa kata sudah tidak semata-mata berfungsi sebagai penanda konteks masa lampau yang bisa dipadankan dengan bentuk lampau dalam bahasa asing lainnya. Buktinya, tanpa keberadaan kata sudah pun, kalimat pertama tetap bernuansa “masa lampau”. Lalu, apa peran kata sudah di dalam kalimat kedua?

Kata sudah dalam penggunaannya (juga merangkum makna yang tertera di dalam KBBI), menandakan adanya suatu aktivitas, rencana, gagasan, dan sebagainya yang telah selesai dilaksanakan, telah tuntas dilaksankan, atau telah berhasil dilaksankan. Konteks kata sudah mengusung ketuntasan aktivitas tersebut, bukan mengusung nuansa “masa lampau”-nya. Mari kita perpanjang dua kalimat tersebut dengan dua situasi berikut:

Situasi pertama (tanpa kata sudah)

A : Kemarin, kamu ke mana? Kemarin, saya datang ke rumahmu, tapi kamu tidak ada.
B : Oh, kemarin, saya bertemu Cilla di kafe.

Situasi kedua (dengan kata sudah)

A : Hai, bagaimana? Kamu jadi bertemu Cilla? Dia bilang apa?
B : Ya, kemarin, saya sudah bertemu Cilla. Dia bilang, dia akan datang ke acara kita.

Dari dua situasi ini, kita tentu bisa memahami kekuatan kata sudah yang mengusung makna bahwa ada suatu rencana atau aktivitas yang “tuntas” atau “berhasil” dilakukan. Artinya, kata sudah memang mengindikasi suatu aktivitas telah terjadi, tetapi fungsinya bukan sebagai penanda masa lampau dalam sebuah informasi. Di dalam situasi pertama, kata sudah tidak digunakan karena pembicaraan hanya fokus pada aktivias. Pada situasi kedua, kata sudah digunakan karena ada rencana (akan bertemu Cilla) yang telah “tuntas” dilakukan. Untuk lebih jelasnya lagi, mari kita perhatikan dua situasi lainnya.

Situasi pertama
A : Apa saja kegiatanmu kemarin?
B : kemarin, saya pergi ke kafe, saya membeli jaket, lalu saya mencuci pakaian.

Siatuasi kedua
A : Ada kafe bagus di dekat pantai. Namanya Kafe Alam.
B : Ah, kemarin saya sudah pergi ke kafe itu.

Di dalam situasi pertama, jika menggunakan bahasa Inggris, semua verba (kata kerja) akan diubah dalam bentuk “masa lampau”. Akan tetapi, di dalam bahasa Indonesia, kita tidak mengenal tata bahasa demikian. Artinya, tidak semua verba (kata kerja) yang dilakukan pada masa lampau harus ditambah dengan kata sudah untuk membentuknya menjadi lampau, karena kata sudah tidak memiliki fungsi yang sama dengan penanda lampau. Kita tidak bisa menerima jawaban B, jika B mengatakan, “Kemarin, saya sudah pergi ke kafe, saya sudah membeli jaket, lalu saya sudah mencuci pakaian”. Penggunaan kata sudah di dalam tuturan ini tidak berterima dan terkesan tidak natural sebab fokus pertanyaan ada pada aktivitas yang dilakukan, bukan pada sudah tuntas atau belum aktivitas itu dilakukan. Akan tetapi, penggunaan kata sudah di dalam situasi kedua sangat berterima karena tuturan tersebut menyatakan ada suatu aktivitas yang “telah tuntas dilakukan” yaitu sudah pergi ke kafe Alam. Mari kita perhatikan contoh lainnya:

Di dalam bahasa Inggris:
A : Have you had lunch?
B : Yes, I have. Just now.
A : What did you eat?
B : I ate rice and grilled fish.

Di dalam bahasa Inggris, kata eat berubah menjadi ate karena aktivitas itu dilakukan pada masa lampau. Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia? Apakah kita harus menambahkan kata sudah menjadi sudah makan agar terkesan lampau juga? Jawabannya tidak. Percakapan yang natural di dalam bahasa Indonesia seperti ini:

A           : Kamu sudah makan siang?
B           : Ya, sudah. Barusan.
A           : Kamu makan apa tadi?
B           : Tadi, aku makan nasi dan ikan bakar.

Pertanyaan pertama A dan jawaban pertama B memang menggunakan kata sudah karena fokus informasinya apakah kegiatan makan itu telah tuntas dilakukan? Pertanyaan kedua A dan jawaban kedua B tidak menggunakan kata sudah karena fokus pembicaraan tidak terletak di tuntas atau belum sebuah kegiatan tetapi lebih fokus ke kegiatan itu sendiri. Oleh sebab itu, tidak perlu kata sudah. Tuturan A akan menjadi tidak natural jika A mengatakan, “Kamu sudah makan apa tadi?” lalu B menjawab, “Tadi, aku sudah makan nasi dan ikan bakar”. Oleh sebab itu, ketika kita menerjemahkan kata eat menjadi ate, kita tidak perlu menambah kata sudah karena bahasa Indonesia memang tidak memiliki bentuk lampau dalam satu formula kalimat utuh. Contoh lainnya di dalam bahasa Inggris: Yesterday, I couldn’t come because I went to my grandmother’s house. Bagaimana cara menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia? Apakah kata went harus diterjemahkan dengan sudah pergi atau hanya pergi? Jika hanya pergi, bukankah ini bentuk lampau? Tetapi, jika diterjemahkan “Kemarin, aku sudah tidak bisa datang karena aku sudah pergi ke rumah nenekku” terkesan sangat tidak natural karena kita menggunakan kata sudah tidak sesuai dengan fungsi sesungguhnya. Dengan demikian, kita bisa memahami, kegiatan terjemahan tidak harus dilakukan per kata, tetapi harus dilakukan sesuai konteks kalimat.

Kata sudah yang digabungkan dengan adjektiva (kata sifat) juga memiliki keunikan lain. Jika kata sudah digabung dengan verba akan bermakna “tuntas”, “selesai”, atau “berhasil”, ketika digabung dengan adjektiva akan bermakna “mulai menjadi” bukan “selesai”. Hal ini sangat berbeda dengan verba. Mari kita perhatikan dua kalimat berikut:

  1. Cuaca hari ini dingin.
  2. Cuaca hari ini sudah dingin.
  3. Kakak saya bahagia dengan kehidupan barunya.
  4. Kakak saya sudah bahagia dengan kehidupan barunya.
  5. Wah, dia kurus ya. Apakah dia sakit?
  6. Wah, dia sudah kurus ya. Dietnya berhasil!

Kalimat 1, 3, dan 5 tidak menggunakan kata sudah. Dengan demikian, kalimat 1, 3, dan 5 memiliki konteks yang berbeda dengan kalimat 2, 4, dan 6 yang memiliki kata sudah. Pada kalimat satu, makna yang dapat dipahami seseorang hanya mendeskripsikan cuaca hari itu. Kalimat kedua, seseorang menyatakan bahwa hari ini cuaca mulai menjadi dingin dan berlaku untuk seterusnya. Kalimat ini bisa saja dituturkan jika seseorang merasa bahwa musim dingin sudah tiba dan cuaca akan terus dingin sampai beberapa bulan ke depan. Kalimat ketiga, juga sebuah deskripsi, akan tetapi kalimat keempat menyatakan bahwa kakak si pembicara mulai menjadi bahagia sejak memasuki kehidupan barunya sampai seterusnya. Kalimat kelima juga deskripsi mengenai tubuh seseorang yang dilihatnya. Kalimat keenam memiliki makna sejak saat si pembicara melihat orang tersebut, pembicara menyadari bahwa orang itu mulai menjadi kurus. Artinya, di dalam adjektiva, kata sudah menegaskan adanya sebuah perubahan situasi yang pada saat itu telah dimulai. Mengapa ada kata sudah? Bukankah sudah dalam bentuk lampau? Benar sekali. Kata sudah memang mengusung makna lampau. Oleh sebab itu, makna lampau yang terdapat di dalam adjektiva adalah “permulaannya yang sudah terjadi, sudah berlangsung, sudah tuntas” dan ke depannya akan terus menjadi seperti itu. Jadi, makna lampaunya terdapat di dalam “permulaan yang telah berlangsung”, seperti pada kalimat kedua “Mulai hari ini, cuaca akan dingin sampai beberapa bulan seterusnya”.

Dari pemaparan ini, ada sebuah pesan penting yang bisa kita petik, yaitu dalam kegiatan penerjemahan sebuah bahasa, kita tidak bisa terlepas dari konteks bahasa. Hal ini disebabkan, akan ada situasi di mana suatu kata atau tata bahasa tidak memiliki padanan yang 100% sama dengan bahasa lain, akan tetapi, kita masih bisa menerjemahkan dengan tepat jika bisa memahami konteksnya. Semoga bermanfaat.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Berita Sesudah

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata bantu dan tolong...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku....

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Memahami Makna Peribahasa “Muluik Manih Kucindan Murah”

Senin, 01/6/26 | 08:57 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan)   Minangkabau memiliki banyak peribahasa. Peribahasa merupakan kelompok...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Berita Sesudah
Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

POPULER

  • Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

    Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026