Kamis, 21/5/26 | 17:34 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah
(Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)

 

Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya waktu, perubahan budaya dan sosial. Hal itu bisa dilihat dari kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi bahasa juga mencerminkan budaya dan nilai-nilai dari masyarakat itu sendiri. Makna kata yang digunakan sekarang belum tentu sama dengan makna kata pada zaman dahulu. Kali ini saya akan membahas tentang makna konotasi dan denotasi kata cabe-cabean, dengan menambahkan pendapat para peneliti sebelumnya.

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Seksisme dalam Judul Buku-buku Islami: Analisis Kritis Norman Fairclough

Minggu, 17/5/26 | 15:01 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Minggu, 17/5/26 | 14:34 WIB

Nah, apa pembaca sudah tahu apa itu makna konotasi dan denotasi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konotasi adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata, yang berarti kata tersebut memiliki makna lain di baliknya atau makna kiasan, bukan makna yang sebenarnya atau literalnya. Makna konotasi merupakan makna tambahan yang timbul akibat adanya emosi, nilai budaya, dan pandangan masyarakat terhadap suatu kata atau ungkapan. Makna konotasi juga dapat menunjukkan bagaimana bahasa berperan dalam membentuk persepsi seseorang dan stigma sosial suatu individu maupun kelompok.

Dalam semiotika, Barthes melihat konotasi sebagai tanda yang penandanya memiliki tingkat konvensi atau kesepakatan yang tinggi dalam sebuah budaya, meskipun tingkat keterbukaan maknanya rendah (Riwu & Pujiati, 2018). Dalam konteks linguistik,  konotasi tidak hanya mencerminkan makna dasar dari sebuah kata, tetapi juga menunjukkan nilai rasa, emosi, dan penilaian subjektif yang melekat pada kata tersebut. Konotasi terbentuk dari pengalaman budaya, pandangan sosial, serta konteks penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan makna konotasi sering kali memengaruhi cara seseorang menafsirkan pesan karena makna yang tersirat tidak selalu sejalan dengan makna sebenarnya dari kata tersebut.

Makna konotasi adalah makna tambahan yang melekat pada suatu kata atau ungkapan. Sebuah kata konotatif dapat menimbulkan nilai rasa atau asosiasi tertentu di luar makna objektifnya (Harimurti Kridalaksana, 2008). Makna konotasi tidak hanya mengacu pada  arti sebenarnya dari sebuah kata, tetapi juga pada makna tambahan yang ada, bahkan makna yang  berbanding terbalik dengan makna sebenarnya. Pemahaman terhadap makna konotasi menjadi penting dalam komunikasi, agar pesan yang disampaikan tidak disalahartikan oleh lawan bicara.

Lalu, ada makna denotasi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif. Dalam berkomunikasi, kita menggunakan kata bermakna denotasi untuk menyampaikan informasi faktual dan jelas, terutama dalam konteks karya ilmiah dan tulisan formal lainnya.

Makna  denotasi adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi terhadap kenyataan, atau dengan kata lain makna yang menunjukkan hubungan langsung antara kata dan benda yang ditunjuknya secara objektif (Harimurti Kridalaksana, 2008). Dalam pandangannya, denotasi menggambarkan hubungan langsung antara kata dan realitas tanpa dipengaruhi apa pun, baik dari segi perasaan, sikap, atau budaya. Makna denotasi adalah makna yang menunjuk pada hal-hal yang bersifat nyata dan dapat ditangkap oleh pancaindra, sehingga makna ini bersifat objektif dan universal (Keraf, 2009). Dalam pandangannya, Keraf menegaskan bahwa makna denotasi menjadi dasar utama dalam komunikasi formal dan ilmiah, karena sifatnya yang pasti dan mudah dipahami. Oleh karena itu, makna denotasi menjadi  fondasi semantik yang menjaga kejelasan dan keobjektifan dalam penggunaan.

Pernahkah kamu mendengar kata cabe-cabean, Saat mendengar kata cabe-cabean, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Kata cabe-cabean adalah kata yang sederhana dan terdengar ringan. Namun, di balik kata ini tersimpan makna yang kompleks, antara makna yang sebenarnya dan makna yang tersirat dalam budaya masyarakat. Kata cabe-cabean tidak hanya menggambarkan seseorang, tetapi juga membawa nilai, stigma dan pandangan sosial masyarakat terhadap perempuan cabe-cabean itu.

Artikel  menganalisis makna konotasi dan denotasi kata cabe-cabean. Untuk mengetahui makna konotasi dan denotasi perempuan yang dilabeli dengan kata cabe-cabean. Cabe-cabean awalnya hanya berkembang di daerah Jakarta dan sekitarnya yang kemudian disebarluaskan oleh berbagai media di Indonesia. Mulai dari media online, film, lagu, talkshow, hingga buku fiksi dan nonfiksi menjadikan cabe-cabean sebagai tema utamanya (Wiradharma & WS, 2016). Istilah cabe-cabean kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan masih digunakan sampai sekarang. Dari sana kita bisa melihat bahwa penyebaran istilah cabe-cabean melalui media dan bahasa menggambarkan bagaimana budaya populer mampu membentuk persepsi dan citra sosial terhadap kelompok tertentu, terutama bagi remaja perempuan.

Makna konotasi dari cabe itu sendiri merupakan kependekan dari, cewek alay bahan entotan/ewean. Istilah cabe-cabean sendiri masih bersifat eksklusif ketika pertama kali dipergunakan sekitar tahun 2011. Istilah ini hanya beredar di kalangan terbatas para pembalap (Karim dan Meulen 2014).  Istilah cabe-cabean kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Kata ini biasanya digunakan oleh orang yang biasanya menonton balapan liar, lalu perlahan menyebar ke bengkel-bengkel, tongkrongan, dan sampai pada masyarakat umum. Sebagian sumber lain juga mengaitkannya dengan gadis remaja yang terlibat dalam prostitusi, yang dimulai dari arena balap liar. Dari sanalah istilah cabe-cabean menjadi istilah yang meluas hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, makna istilah ini tidak hanya terkait balap liar atau prostitusi, tetapi juga melebar menjadi label untuk remaja perempuan yang dianggap kurang baik perilakunya. Sejumlah peneliti sosial melihat fenomena ini sebagai bagian dari perkembangan sosial dan perilaku remaja. Meskipun demikian, pelabelan ini sering kali bersifat negatif dan melekat pada perempuan remaja.

Makna denotasi dari cabe mulai bergeser ketika kata itu mengalami perubahan menjadi cabe-cabean. Perubahan ini melalui pembentukan kata yang berulang, yang sering kali menunjukkan makna yang lebih rendah atau remeh, seperti mobil-mobilan berarti mainan mobil, bukan mobil sungguhan. Dengan demikian, secara linguistik cabe-cabean dapat diartikan sebagai cabai tiruan atau bukan cabai sungguhan.

Untuk memahami makna cabe-cabean, kita harus mengetahui makna dasarnya, yaitu cabe. Secara denotasi, cabe adalah nama lain dari cabai yang merupakan buah dari tumbuhan genus Capsicum. Cabai memiliki macam macam jenis dan varian, cabai dikenal karena rasanya yang pedasnya yang khas, yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk memasak. Kata cabe secara denotasi adalah kata benda yang merujuk pada objek yang bisa dilihat tanpa bantuan alat yang teliti, yang bisa diraba dan diteliti.

Nah, dari penjelasan yang telah ada, kita dapat mengetahui perbedaan maknanya dan juga memberikan pelajaran tentang bagaimana bahasa bisa menjadi media untuk membentuk persepsi dan citra sosial terhadap kelompok tertentu, terutama bagi remaja perempuan yang disebut cabe-cabean.Yang awalnya dari makna kata dasar (denotasi) bisa mengubah suatu makna kata menjadi sangat berbeda dari arti yang sesungguhnya. Hal ini terkait dengan nilai budaya,dan pandangan masyarakat terhadap suatu kata atau ungkapan.

Tags: #Alya Najwa Abdillah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Berita Sesudah

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Berita Terkait

Batu dan Zaman

Seksisme dalam Judul Buku-buku Islami: Analisis Kritis Norman Fairclough

Minggu, 17/5/26 | 15:01 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Seksisme dalam media dan komunikasi massa berasal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Minggu, 17/5/26 | 14:34 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Razia Tambang Timah Ilegal Hutan Lindung Belitung

Minggu, 17/5/26 | 14:11 WIB

Oleh: Derry Sanjaya (Mahasiswa Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Andalas)   Ada yang aneh ketika sebuah kawasan hutan lindung bisa...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Minggu, 10/5/26 | 22:16 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Sekolah atau Menikah? Ironi Nasib Anak Perempuan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Galgah dan Kapitil Kata Baru yang Viral Tahun 2026

Minggu, 10/5/26 | 21:59 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Tahun 2026, beberapa kata baru...

Puisi-puisi M. Subarkah

Ciri Khas Gaya Komunikasi Donald Trump di Depan Publik

Minggu, 10/5/26 | 12:22 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Dalam dunia politik modern, komunikasi menjadi salah satu...

Berita Sesudah

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Tegaskan Dirut PDAM Bekerja Secara Profesional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026