Senin, 26/1/26 | 12:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Memaknai Garis Tangan

Minggu, 22/5/22 | 11:48 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Hal yang menyenangkan dari panjangnya waktu libur Lebaran adalah berkumpul dengan beberapa kawan yang pulang dari rantau. Sembari menikmat kopi hitam dan camilan kentang goreng serta didukung layanan internet gratis, pembicaraan kami bermula dengan nostalgia saat di bangku perkuliahan. Tentu banyak kenangan yang menjadi tema obrolan. Yang jelas guyonan mengapa gedung kampus selalu semakin bagus setelah kami menyandang status alumni tentu mengundang gelak tawa semuanya. Pembicaraan kami pun sampai dengan masalah karier dan nasib. Dua kata itu bagi kami tidak hanya sekadar bahasa Indonesia yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), melainkan “cambuk” sebagai pemicu untuk menggapai cita-cita. Setidaknya, dengan karier bagus, jalan untuk melamar seseorang pun dapat menjadi lebih mulus.

Salah seorang teman pada reunian kecil-kecilan tersebut sempat mengeluarkan pernyataan bahwa setiap individu itu sudah ada “garis tangannya”. Bila ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti magister, tentu itu sudah pilihan terbaiknya. Jika ada rekan-rekan yang diterima bekerja pada perusahaan swasta ternama atau BUMN, itu pun sudah nasibnya. Mungkin saja di antara kita ingin menjadi seorang entrepreneur yang sukses, itu sudah keputusan terbaik, bahkan bila sahabat kita ada yang lulus seleksi ASN, itu pun sudah “garis tangannya”.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Akan tetapi, hal yang kadang menyebalkan ialah komentar tentang jalan yang dipilih untuk berkarier. Misalnya seseorang yang ketika kuliah di jurusan A, justru bekerja di bidang B. Padahal, itu lumrah saja dan tidak sedikit pula yang menjalani hal serupa itu. Setiap orang saya kira dapat mengembangkan kemampuannya di bidang apa pun meskipun tidak sejalan dengan latar pendidikan yang ditempuh. Sebagian orang sibuk menyayangkan hal itu. Padahal, jenjang pendidikan yang ditempuh oleh seseorang juga tidak melulu berurusan dengan karier yang dijalani.

Kita tentu tidak serta merta berpangku tangan untuk menunggu atau menerima tanpa adanya usaha. Setahu saya, teman-teman yang “garis tangannya” itu bagus, tentu memiliki usaha dan kerja keras yang tekun untuk meraihnya. Tidak ada kesuksesan tanpa usaha dan kerja keras. Begitu kata orang bijak. Tidak semua dari kami yang turut berpartisipasi dalam diskusi ringan itu pun setuju atau mengaminkan pernyataan tersebut. Ada pula yang menyanggah dengan memberikan sebuah pertanyaan. Di sisi lain, ada pula yang menyampaikan bahwa kita berusaha dan bekerja keras agar memperoleh nasib yang baik. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak berusaha untuk mengubahnya.

Namun, tidak mungkin pula untuk menyangkal hak istimewa yang diterima. Orang-orang lebih familiar menyebutnya dengan privilege. Hal istimewa menurut saya amat luas. Salah satunya didapatkan oleh seseorang dari latar belakang keluarga. misalnya berasal dari keluarga berkecukupan. Tentu soal materi tidak menjadi beban tersendiri baginya ketika menempuh pendidikan, sehingga ia bisa fokus dalam belajar

Begitulah pembicaraan kami pada malam itu. Setiap pernyataan akan dibenturkan dengan pendapat lainnya. Beragam argumen pun dikemukakan. Menurut saya begini, lain pula menurut teman. Ada benarnya juga masing-masing pendapat itu, tapi akan lebih baik untuk sementara waktu kembali pada pemahaman masing-masing, termasuk pembaca (mana tahu ada pendapat yang berbeda). Setidaknya reunian itu memberikan pemahaman bagi kami akan makna dari “garis tangan”. Semoga.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengenal Penggunaan Tanda Garis Miring

Berita Sesudah

Puisi-puisi Mahareta Iqbal Jamal

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Mahareta Iqbal Jamal

Puisi-puisi Mahareta Iqbal Jamal

Discussion about this post

POPULER

  • DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi Dharmasraya, Dua Lainnya Buron

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Kembali Pimpin PKB Sumbar, Optimis Bawa PKB Capai Puncak pada Pemilu Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Personifikasi dalam Puisi “Lukisan Berwarna” Karya Joko Pinurbo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024