Jumat, 23/10/26 | 14:58 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah dalam jarak dekat, seperti dari rumah ke kedai di ujung gang. Bahkan untuk jarak yang singkat, sepeda motor lebih sering dipilih daripada melangkah kaki. Pandangan ini kemudian berubah ketika saya kembali menjadi mahasiswa lagi di tempat yang jauh dari rumah.

Di kampus baru ini, berjalan kaki menjadi bagian dari keseharian. Saya biasa berpindah dari asrama ke fakultas, dari perpustakaan ke kantin, hingga antar gedung dengan langkah kaki. Jaraknya cukup jauh dan kadang melelahkan. Namun, dari kebiasaan sederhana itu, saya mulai melihat hal-hal yang sebelumnya jarang saya perhatikan. Perlahan, jalan pun terasa seperti ruang belajar yang tenang.

Di sela langkah itu, saya mulai memperhatikan hal-hal sederhana yang dulu sering terlewat. Daun jatuh, perubahan warna langit, dan orang-orang yang berjalan dengan ritmenya masing-masing. Suasananya tenang, tanpa klakson dan tanpa tergesa-gesa. Langkahnya berulang, tetapi selalu terasa berbeda.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Yang berubah bukan hanya jarak, tetapi cara saya memandang waktu. Dulu terasa serba cepat, kini lebih lapang. Berjalan kaki mengingatkan saya bahwa tidak semua hal perlu dipercepat. Ada yang justru lebih baik dijalani pelan agar terasa utuh.

Saya sering teringat kebiasaan di kampung. Untuk jarak sekitar seratus meter, saya biasa memilih kendaraan. Kini saya berjalan lebih jauh setiap hari. Bukan karena terpaksa, melainkan karena sudah terbiasa dan mulai menikmatinya.

Berjalan kaki bukan sekadar cara berpindah tempat. Ia menjadi cara sederhana untuk memberi ruang pada diri sendiri. Tanpa suara mesin dan tanpa banyak gangguan, langkah terasa lebih tenang dan pikiran menjadi lebih jernih. Dari situ saya belajar satu hal sederhana. Perjalanan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru dari langkah kecil yang dijalani dengan tenang, arah menjadi lebih jelas dan perjalanan terasa lebih berarti.

Pada akhirnya, berjalan kaki mengajarkan saya untuk berdamai dengan ritme yang tidak selalu cepat. Ia tidak menawarkan hasil yang segera, tetapi menghadirkan kesadaran yang perlahan tumbuh. Di setiap langkah yang tampak biasa, ada kesempatan untuk memahami hidup dengan cara yang lebih tenang dan jernih. Mungkin memang demikian adanya, bahwa dalam kesederhanaan langkah, kita justru menemukan arah yang selama ini kita cari tanpa tergesa.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cetak Generasi Emas Sawit, 114 Pemuda Dharmasraya Ikuti Sosialisasi Beasiswa SDM Perkebunan

Berita Sesudah

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

POPULER

  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Santri, Firdaus: Momentum Perkuat Peran Santri Membangun Peradaban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026