Senin, 14/9/26 | 00:12 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali Ramadan datang. Ia seolah mengingatkan saya kembali tentang arti sabar. Bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui pengalaman yang saya jalani hari demi hari selama berpuasa. Dari pagi hingga menjelang senja, saya belajar menahan lapar dan haus, menahan emosi, juga menahan berbagai keinginan yang biasanya terasa begitu mudah dipenuhi.

Dalam perjalanan waktu itulah saya sering menyadari bahwa sabar bukan sekadar kata yang sering kita dengar, melainkan sebuah latihan batin yang pelan-pelan membentuk cara kita memandang diri sendiri dan kehidupan. Dari pengalaman menjalani hari-hari puasa itu pula saya semakin memahami bahwa sabar sering terdengar sebagai kata yang besar, bahkan terasa berat diucapkan. Namun dalam kenyataannya, sabar justru tumbuh dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Ketika saya menapaki waktu dari pagi hingga menjelang senja dengan menahan lapar dan haus, di situlah kesabaran perlahan dilatih. Menjelang magrib, ketika waktu terasa berjalan sedikit lebih panjang dari biasanya, saya belajar bahwa menunggu adalah bagian dari latihan itu. Pada saat-saat seperti itulah saya menyadari bahwa puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, melainkan juga menata hati agar tetap tenang hingga tiba waktunya berbuka.

Puasa, bagi saya, juga menghadirkan ruang untuk merenung tentang banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hari-hari yang dilalui dari sahur hingga menjelang berbuka, ada semacam jeda yang membuat saya lebih peka terhadap diri sendiri, bagaimana menahan keinginan, menjaga emosi, dan menjalani waktu dengan lebih tenang. Dari situ saya sering merasa bahwa puasa bukan hanya urusan menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk merapikan kembali cara kita menjalani hari-hari.

Tentu saja perjalanan itu memiliki tujuan yang jelas. Ramadan tidak berlangsung tanpa akhir. Setelah hari-hari yang dilalui dengan kesabaran dan pengendalian diri, akan tiba satu hari yang selalu dinanti dengan penuh kegembiraan, Idulfitri. Hari itu terasa seperti sebuah jeda yang hangat, sebuah momen untuk merasakan lega sekaligus syukur setelah menempuh perjalanan puasa selama sebulan penuh.

Idulfitri sering disebut sebagai hari kemenangan. Tapi kemenangan di sini bukan seperti menang lomba lari yang ada medali dan podium. Kemenangan ini lebih bermakna. Ia hadir ketika kita berhasil melewati hari-hari puasa, ketika kita belajar menahan diri, ketika kita menyadari bahwa ternyata kita mampu sedikit lebih sabar daripada biasanya.

Sering kali kemenangan hadir dengan cara yang tenang, tapi penuh kegembiraan. Ia terasa dalam perjalanan Ramadan yang kita lalui dengan sabar menjalankan puasa dan menunaikan berbagai ibadah dengan penuh harap. Kini Ramadan perlahan mendekati ujungnya, sementara Idulfitri menanti dengan suasana yang selalu membawa syukur dan kehangatan. Barangkali di situlah makna kemenangan itu berdiam, pada perjalanan ibadah yang telah dilalui, pada kesabaran yang tumbuh perlahan di dalam diri, dan pada harapan agar segala amal yang kita kerjakan selama Ramadan diterima dengan penuh rahmat.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Viral di Medsos, Pemkab Dharmasraya Serahkan Bantuan Bagi Ernawati

Berita Sesudah

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Berita Sesudah
Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Benarkah Onomatope Arbitrer?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 34 Calon Ketua Tanfidz Bersaing Pimpin DPAC PKB Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026