Kamis, 14/5/26 | 04:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman data penelitian, saya sering menyadari bahwa apa yang saya temui di sana tidak benar-benar hilang begitu saja. Ia masih tersisa, hanya tidak lagi hadir seperti sebelumnya. Ada yang tersimpan dalam ingatan para petani, ada yang muncul dalam cerita-cerita sederhana, dan ada pula yang saya catat kembali dalam tulisan. Dari situ, saya mulai memahami bahwa yang berubah bukan keberadaannya, melainkan cara ia bertahan.

Pada awalnya, saya membayangkan penelitian sastra lisan dalam dunia agraria sebagai kegiatan mendokumentasikan sebuah tradisi. Namun, ketika berhadapan langsung dengan kenyataan di lapangan, pandangan itu terasa terlalu sederhana. Beberapa sastra lisan tersebut tidak lagi hadir seperti dahul, tidak lagi menyertai setiap tahap menanam, merawat, hingga panen. Meski demikian, ia juga tidak benar-benar hilang. Ia tetap ada, meski dalam ingatan dan kenangan.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Ia masih diingat dan diceritakan oleh para petani sepuh, mereka yang telah lama hidup dan tumbuh bersama ritme sawah dan musim. Dengan penuh semangat, mereka mengisahkan kembali apa yang pernah mereka dengar dan saksikan. Ada yang pernah terlibat langsung, melantunkan atau menggunakannya dalam aktivitas bertani, dan ada pula yang hanya mengingatnya dari masa kecil—saat mereka melihat orang tua atau orang di sekitar mereka melakukannya. Cerita-cerita itu mungkin tidak lagi utuh, kadang terputus di beberapa bagian, tetapi justru di situlah terasa bahwa ia masih hidup, hadir dalam ingatan yang terus dirawat dengan caranya sendiri.

Namun demikian, tidak semuanya berhenti pada ingatan. Sebagian masih terus dilestarikan hingga kini, baik secara individu maupun bersama-sama. Bahkan, ada yang dihadirkan dalam bentuk festival atau kesenian, seperti Alek Kapalo Banda di Batipuh Baruah dan tari Batobo di Koto Baru Simalanggang. Dalam bentuk-bentuk ini, tradisi tersebut tidak hanya dikenang, tetapi juga tetap dijalankan.

Seiring itu, penelitian di lapangan terasa seperti proses mendengar dengan cara yang berbeda. Apa yang saya temui tidak selalu hadir secara utuh. Ada yang berupa potongan kalimat, serpihan ingatan, atau jeda panjang sebelum seseorang kembali mengingat. Akhirnya, saya memahami bahwa sastra lisan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang lengkap, melainkan sebagai pengalaman yang masih tersisa dan terus hidup dalam ingatan.

Pada akhirnya, pengalaman di lapangan membawa saya pada satu pemahaman yang lebih tenang: sastra lisan dalam dunia agraria tidak semata-mata diukur dari keutuhannya, melainkan dari kemampuannya untuk tetap bertahan di tengah perubahan. Ia mungkin tidak lagi hadir dalam bentuk yang sama, tidak lagi mengiringi setiap tahapan kerja sebagaimana dahulu, tetapi ia tetap hidup—dalam ingatan, dalam cerita, dan dalam praktik-praktik yang terus dijalankan, meski dengan cara yang berbeda.

Di titik ini, penelitian tidak lagi sekadar menjadi upaya merekam, melainkan juga usaha memahami bagaimana sebuah tradisi bernegosiasi dengan waktu. Dan selama masih ada yang mengingat, menceritakan, serta memberi ruang bagi kehadirannya, sastra lisan itu sesungguhnya belum pernah benar-benar selesai.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Elly Delfia

Berita Sesudah

Lomba Ayam Kukuak Balenggek Meriahkan Lembah Gumanti, Bupati Solok: Jaga Warisan Budaya

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Berita Sesudah
Bupati Solok, Jon Firman Pandu saat membuka Lomba Ayam Kukuak Balenggek (Foto: Ist)

Lomba Ayam Kukuak Balenggek Meriahkan Lembah Gumanti, Bupati Solok: Jaga Warisan Budaya

POPULER

  • Penandatanganan kerja sama dilakukan langsung oleh Direktur Utama Perumda AM Hendra Pebrizal bersama Kajari Padang Koswara, dan disaksikan Wali Kota Padang Fadly Amran, di ZHM Premiere Hotel, Selasa (12/5/2026).

    Wali Kota Padang Tegaskan Dirut PDAM Bekerja Secara Profesional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Terima Kunjungan Konjen India Peluang Beasiswa Pelajar Kota Padang yang Ingin berkuliah di India

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026