Jumat, 17/4/26 | 01:07 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

 

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)

 

Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa sastra lisan dalam aktivitas pertanian kian jarang terlihat dalam praktik sehari-hari. Namun, di lapangan cerita itu ternyata belum benar-benar selesai. Masih ada yang tersisa, masih ada yang terus diingat dan dijalankan, meski tidak lagi dalam bentuk yang sama. Dari sanalah tulisan ini berangkat, sebagai kelanjutan untuk melihat lebih dekat bagaimana tradisi itu tetap hidup dengan caranya sendiri.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Sejak pengalaman-pengalaman itu, saya mulai melihat penelitian ini secara berbeda. Bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi memahami bagaimana tradisi bertahan dalam perubahan. Di lapangan, saya tidak hanya mencatat apa yang diucapkan, tetapi juga memperhatikan bagaimana ia diingat, diceritakan, dan kembali muncul dalam berbagai situasi.

Sering kali, hal yang tampak sederhana justru menyimpan makna yang lebih dalam. Cerita singkat atau potongan ingatan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan pengalaman hidup dan kebiasaan yang pernah dijalani. Dalam konteks ini, sastra lisan bukan sekadar teks, tetapi juga cara masyarakat memahami dunia di sekitarnya.

Saya mulai menyadari bahwa perubahan tidak selalu berarti kehilangan. Ada yang memang tidak lagi dilakukan seperti dahulu, tetapi sebagian tetap bertahan dalam bentuk yang lebih sederhana tanpa kehilangan maknanya. Di sisi lain, ada pula yang sengaja dihidupkan kembali melalui kegiatan bersama agar tetap diingat.

Pengalaman ini kemudian mengubah cara saya memaknai keberadaan sastra lisan dalam aktivitas pertanian. Ia tidak harus selalu utuh untuk dapat dipahami, dan tidak selalu harus hadir dalam bentuk lama untuk dianggap hidup. Justru dalam perubahan itulah terlihat daya tahannya, bagaimana ia menyesuaikan diri tanpa sepenuhnya kehilangan jejak asalnya.

Di titik ini, penelitian menjadi lebih dari sekadar kegiatan akademik. Ia juga menjadi ruang untuk belajar menghargai proses, mendengarkan dengan lebih sabar, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat direkam secara lengkap. Sebagian hanya bisa dipahami melalui kedekatan, melalui waktu yang diluangkan, dan melalui kesediaan untuk melihat hal-hal kecil sebagai sesuatu yang berarti.

Pada akhirnya, seluruh pengalaman ini menegaskan bahwa sastra lisan dalam aktivitas pertanian tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah cara hadirnya. Ia tetap hidup dalam ingatan, cerita, dan praktik yang masih dijalankan, meski tidak lagi utuh seperti dahulu. Dari lapangan, saya belajar bahwa yang terpenting bukan hanya merekam apa yang tersisa, tetapi memahami bagaimana ia bertahan dan dimaknai. Di sanalah penelitian ini menemukan arahnya, melihat tradisi bukan sebagai sesuatu yang selesai, melainkan sebagai proses yang terus berlangsung.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Longsor di Nagari Banai Dharmasraya, Transportasi Menuju Tiga Nagari Putus

Berita Sesudah

Firdaus Gotong Royong Bersama Masyarakat Hidupkan Pusat Kegiatan Warga

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Berita Sesudah
Firdaus Gotong Royong Bersama Masyarakat Hidupkan Pusat Kegiatan Warga

Firdaus Gotong Royong Bersama Masyarakat Hidupkan Pusat Kegiatan Warga

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “sedang” dan “sedangkan” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026