Rabu, 14/10/26 | 20:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)

Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi oleh ruang fisik. Kehadiran ruang digital telah mendefinisikan ulang cara manusia dalam berinteraksi, bekerja, dan yang paling fundamental: berbahasa. Sebagai bahasa nasional dengan jumlah penutur yang masif, bahasa Indonesia kini tengah menghadapi arus transformasi yang luar biasa di jagat maya melalui wacana digital.

Wacana digital adalah kegiatan  komunikasi masyarakat yang dilakukan  melalui  wacana  yang  dimediasi oleh komputer dan juga ponsel atau telepon seluler (Rohmawati, 2024; Zhang, 2020). Wacana digital dilengkapi oleh kehadiran internet dan media sosial yang turut serta melahirkan fenomena linguistik baru berupa neologisme (pembentukan kata baru) dan komunikasi dengan campur kode yang masif.

Di sisi lain, lompatan teknologi global memaksa penutur bahasa untuk segera mengadopsi sistem Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan artifisial ke dalam struktur bahasa Indonesia. Lompatan tersebut melahirkan perpaduan antara dinamika istilah di ruang digital dan teknologi AI.  Sebuah pertanyaan besar muncul, apakah teknologi digital akan mengikis kemurnian bahasa Indonesia atau justru menjadi katalisator utama yang melambungkan popularitas bahasa Indonesia ke dunia internasional?

Istilah Bahasa Indonesia di Ruang Digital

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Komunikasi di ruang digital menuntut kecepatan dan efisiensi. Hal ini secara langsung memengaruhi perilaku berbahasa warganet. Ada dua fenomena utama dalam pembentukan istilah digital di Indonesia, yaitu adaptasi istilah asing dan padanan resmi yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Badan bahasa terus bergerak aktif untuk mencarikan padanan kata agar bahasa Indonesia tidak tenggelam oleh istilah-istilah berbahasa Inggris. Beberapa padanan istilah yang sudah ditetapkan oleh Badan Bahasa terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia di ruang digital, di antaranya gawai sebagai padanan untuk kata gadget, unduh dan unggah untuk download dan upload, warganet atau netizen untuk menyebut penduduk dunia maya, pranala untuk menggantikan kata link. Meskipun demikian, tantangan terbesar ada pada tingkat adopsi masyarakat. Sebagian pengguna internet masih merasa lebih familiar dengan istilah asli seperti log in dibandingkan dengan padanannya, yaitu masuk log.

Pengaruh Bahasa Prokem dan “Campur Kode”

Ruang digital juga menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan bahasa Indonesia. Di ruang digital, khususnya di berbagai platform media sosial, seperti TikTok, X (dahulu Twitter), dan Instagram, menjadi inkubator lahirnya bahasa slang atau prokem baru yang berbeda dengan bahasa Indonesia baku. Hal ini memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Istilah seperti fomo (takut ketinggalan tren), healing (pemulihan diri), CMIIW (koreksi kalau saya salah), atau akronim lokal seperti mager (malas gerak) dan bucin (budak cinta) kerap digunakan oleh para pengguna media sosial yang pada umumnya gen milenial dan Gen Z. Kata-kata tersebut digunakan berdampingan dengan satu struktur kalimat yang tidak baku. Fenomena ini merefleksikan sifat bahasa Indonesia yang sangat adaptif dan dinamis, namun di saat yang bersamaan juga menyebabkan kekhawatiran akan penurunan kemampuan generasi muda dalam menggunakan kalimat formal yang taat asas dan mengutamakan kata-kata baku dalam bahasa Indonesia. Belum lagi, kehadiran AI (Artificial Intelligence) yang dapat mengubah tatanan bahasa Indonesia pada arah tidak terprediksi.

Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligent) sebagai Mitra Bahasa Indonesia

Perkembangan teknologi AI tidak lagi sekadar berada di balik laboratorium komputasi. Ia telah menyusup ke dalam papan ketik gawai masyarakat. AI memengaruhi cara berbahasa masyarakat dan memberikan andil yang besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Pemanfaatan AI dalam pemrosesan bahasa dikenal sebagai Natural Language Processing (NLP) atau pemrosesan bahasa alami. NLP didefinisikan sebagai subbidang ilmu komputer dan kecerdasan buatan (AI) yang menggunakan mesin pembelajaran (learning machine)  untuk memungkinkan komputer dapat memahami dan berkomunikasi dengan bahasa manusia (Stryker & Holdsworth, 2026).

Nah, saat ini, AI seperti mitra strategis bagi bahasa Indonesia dalam memengaruhi cara berbahasa masyarakat. Namun, apakah AI mitra yang baik bagi proses perkembangan bahasa Indonesia atau malah sebaliknya AI akan menggerus keberadaan bahasa Indonesia? Hal itu dapat kita lihat melalui pemetaan peran AI ke dalam beberapa pemanfaatan strategis pengembangan bahasa Indonesia. Pemetaan peran tersebut di antaranya: A. Pemodelan Bahasa Besar (Large Language Models / LLM). Aplikasi seperti ChatGPT, Claude, dan Google Gemini melatih kecerdasan mereka menggunakan miliaran korpus (kumpulan teks) data, termasuk teks berbahasa Indonesia. Melalui teknologi ini, AI mampu memahami konteks, menerjemahkan dokumen rumit secara akurat, hingga membantu mendeteksi kesalahan sintaksis atau tata bahasa Indonesia secara otomatis. b. Lokalisasi dan Aksesibilitas Data. Dulu, teknologi dikritik karena “keinggris-inggrisan”. Kini, dengan algoritma pembelajaran mendalam (deep learning), asisten suara digital dapat mengenali perintah suara dalam bahasa Indonesia dengan tingkat akurasi yang tinggi. AI bertindak sebagai jembatan yang inklusif agar masyarakat yang tidak menguasai bahasa asing tetap dapat menikmati kemudahan teknologi. C. Pengayaan Data Sintetis dan RAG (Retrieval-Augmented Generation). Untuk mengatasi keterbatasan dokumen digital berbahasa Indonesia yang berkualitas, para ilmuwan data memanfaatkan AI untuk memproduksi data sintetis berkualitas tinggi. Selain itu, sistem RAG digunakan agar AI tidak membeo secara sembarangan, tetapi merujuk pada informasi yang ada di dokumen hukum, budaya, dan sejarah asli Indonesia yang akurat.

Tantangan Eksistensial Bahasa Indonesia di Era AI

Walaupun potensi pemanfaatannya sangat besar, integrasi AI terhadap bahasa Indonesia bukan tanpa hambatan. Terdapat sejumlah tantangan krusial yang harus diselesaikan bersama oleh pemerintah, akademisi, dan pegiat teknologi. Tantangan tersebut di antaranya rendahnya sumber daya data (Low-Resource Language) di tingkat global. Dalam hal ini, bahasa Indonesia sering kali dikategorikan sebagai bahasa dengan sumber daya digital menengah ke bawah jika dibandingkan dengan bahasa Inggris atau bahasa Mandarin. Penyebab bahasa Indonesia dikategorikan sebagai bahasa dengan sumber daya digital menengah ke bawah sebagai berikut.

Pertama, Banyak teks bahasa Indonesia tidak baku di internet. Teks atau percakapan media sosial yang menggunakan bahasa Indonesia tidak baku banyak beredar di internet sehingga AI kesulitan dalam mempelajari struktur bahasa Indonesia yang formal, estetis, dan bernalar logis.

Kedua, Bias Budaya dan Konstruksi Asing. Banyaknya mesin AI pintar saat ini yang struktur berpikir dasarnya dibangun oleh logika bahasa Inggris yang hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, teks yang dihasilkan AI terasa kaku, terlalu literal, dan kehilangan “rasa kebahasaan” (sense of language) atau nilai rasa lokal (local wisdom) khas Indonesia yang amat dinamis dalam berbahasa.

Ketiga, Ancaman “Halusinasi” Informasi. AI generatif terkadang memproduksi informasi palsu, namun dikemas dengan kalimat bahasa Indonesia yang sangat rapi dan meyakinkan. Tanpa kemampuan literasi digital yang baik, pengguna dapat dengan mudah terkecoh oleh tata bahasa AI yang tampak sempurna, padahal isinya keliru dan tidak benar.

Jadi, saat ini keberadaan wacana digital membawa bahasa Indonesia di persimpangan jalan yang akan menentukan masa depannya. Kehadiran istilah-istilah baru dari ruang digital dan juga adaptasi teknologi AI diharapkan bukan sebuah ancaman yang harus ditakuti, melainkan sebuah realitas baru yang wajib dikelola dengan bijaksana dan tepat guna. Hal itu menunjukkan kekuasaan bahasa Indonesia untuk tetap berdaulat di era kecerdasan artifisial. Bahasa kebanggaan yang mempersatukan keberagaman dan perbedaan bangsa Indonesia sejak tahun 1928 dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda.

Sebagai langkah nyata, diperlukan digitalisasi korpus bahasa Indonesia secara masif, mulai dari dokumen karya sastra, dokumen hukum dan kebijakan, hingga artikel ilmiah populer dalam bentuk bahasa baku agar AI dapat menyampaikannya dengan bahasa Indonesia yang tertib dan juga teratur saat digunakan. Sinergi antara Badan Bahasa, pengembang teknologi komunikasi atau para ahli teknologi informasi dan komunikasi, dan masyarakat pengguna internet menjadi kunci utama bagi pengembangan bahasa Indonesia di era digital. Dengan demikian, teknologi AI tidak akan menggeser posisi bahasa Indonesia, tetapi memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa yang modern, saintifik, dan siap menjadi bahasa internasional yang adaptif dalam pertarungan komunikasi global.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Berita Sesudah

APBD 2027 Sumbar Difokuskan Pulihkan Ekonomi Pascabencana

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat ini, AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan...

Berita Sesudah
APBD 2027 Sumbar Difokuskan Pulihkan Ekonomi Pascabencana

APBD 2027 Sumbar Difokuskan Pulihkan Ekonomi Pascabencana

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026