Selasa, 03/11/26 | 12:17 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Minggu, 30/6/24 | 08:30 WIB

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Jika ini dilekatkan dengan warna kulit, kita bisa menarik kesimpulan warna yang dimaksud adalah warna gelap (tetapi juga bukan hitam). Warna kulit yang gelap bisa menjadi positif atau negatif tergantung konteks kalimatnya. Jika kita bisa memahami berbagai warna kulit yang diberikan Tuhan kepada umatnya, kita tidak akan menganggap warna kulit ini negatif. Namun, jika warna kulit ini disematkan dalam ujaran kebencian, kita bisa merasakan makna negatifnya.

Apa persoalan yang terjadi kemudian? Adanya pergeseran makna kata magrib yang suci bagi umat Islam menjadi lebih rendah daripada sebelumnya. Ini tentu sangat meresahkan. Jika kata magrib dianalogikan sebagai warna kulit yang gelap, lalu bagaimana dengan Isya dan Tahajud yang dilakukan saat malam (tidak ada lagi matahari)? Hal ini semakin meresahkan ketika ada komentar tandingan untuk komentar-komentar sebelumnya seperti, “Jika dia Magrib, apakah kalian benar-benar Zuhur?” Mengapa kata Zuhur diambil sebagai perbandingan? Karena salat Zuhur dilaksanakan saat bumi sedang terang benderang yang dianalogikan sebagai kulit putih cerah. Jika ini terus dibiarkan terjadi, nama-nama salat wajib umat Islam benar-benar akan memiliki perubahan makna yang tidak sesuai. Bagaimana bisa ibadah suci dianalogikan sebagai warna kulit manusia? Apakah kita akan membiarkan ini terjadi dengan pemakluman kreativitas berbahasa di media sosial? Kita tidak tidak seharusnya mengubah makna kata magrib menjadi lebih rendah.

Di dalam konsep perubahan makna bahasa Indonesia, perubahan makna kata yang mulanya tinggi nilai maknanya menjadi lebih rendah ini disebut dengan istilah peyorasi. Salah satu kata yang dianggap mengalami peyorasi adalah kata bini. Dulu, kata ini digunakan sebagaimana lazimnya penyebutan untuk seorang perempuan yang sudah menikah. Akan tetapi, dengan semakin seringnya pengguna bahasa Indonesia menggunakan kata istri, kata bini terasa lebih kasar untuk beberapa konteks sosial dan budaya di Indonesia.

Jika ada makna kata yang awalnya tinggi atau netral kemudian berubah menjadi rendah, tentu ada juga kebalikannya. Perubahan makna seperti itu disebut dengan istilah ameliorasi. Ameliorasi adalah perubahahan makna kata yang sebelumnya rendah atau netral menjadi lebih tinggi. Kita bisa mengambil contoh kata jantan. Dulu, kata ini dipahami sebagai penanda jenis kelamin (laki-laki) khusus untuk binatang, seperti ayam jantan. Akan tetapi, semakin berkembangnya zaman, kata ini kemudian juga diberikan kepada manusia yang maknanya “gagah dan berani”. Makna kata jantan ini sudah mengalami perubahan tingkat yang lebih tinggi.

Halaman 3 dari 4
Prev1234Next
Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Berita Sesudah

Setetes Air dalam Bensin

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik FIB Universitas Andalas) Di ruang kelas, saya mendapatkan mahasiswa...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Berita Sesudah
Setetes  Air dalam Bensin

Setetes Air dalam Bensin

Discussion about this post

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Penulisan Gabungan Kata dalam bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026