Selasa, 03/11/26 | 09:59 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Minggu, 30/6/24 | 08:30 WIB

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies)

Sebuah kata bisa memiliki satu atau beberapa makna harfiah. Pemaknaan kata yang secara harfiah ini disebut dengan istilah makna leksikal. Makna kata bisa dikategorikan leksikal ketika kata itu dipahami secara denotatif, konkret, dan sesuai dengan apa yang tertera di dalam kamus. Akan tetapi, di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sebuah kata yang sudah memiliki makna leksikal juga memiliki makna yang sesuai dengan konteks sosial. Oleh sebab itu, kita mengenal istilah makna konotatif dan berbagai teori tentang perubahan makna.

Kita bisa mengambil contoh kata amplop. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ini memiliki makna “sampul surat”. Makna tersebut bersifat netral yang artinya tidak bernuansa positif atau negatif. Akan tetapi, kata amplop juga memiliki makna lain di KBBI yang diberi label ki (kiasan), yaitu “uang sogok”. Makna kiasan ini membuat kata amplop bernuansa negatif untuk konteks kalimat tertentu.

Di dalam bahasa Indonesia, ada banyak kata yang memiliki perubahan makna. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perubahan zaman, perbedaan budaya, proses gramatikal (adanya penambahan imbuhan, kata ulang, dan sebagainya), perbedaan penafsiran di antara pengguna bahasa, kemunculan konteks lain, dan pengaruh teknologi.

Berlandaskan pemikiran tersebut, kita tentu menyadari bahwa bahasa memang akan terus berkembang. Oleh sebab itu, salah satu sifat bahasa yang paling kentara adalah dinamis. Kedinamisan bahasa bisa terjadi, baik dalam tubuh kata itu sendiri, maupun perubahan maknanya. Akhir-akhir ini, dunia media sosial Indonesia diramaikan dengan istilah magrib dan orang gila. Ada apa dengan dua istilah ini? Mari kita bahas satu per satu.

Halaman 1 dari 4
12...4Next
Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Berita Sesudah

Setetes Air dalam Bensin

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik FIB Universitas Andalas) Di ruang kelas, saya mendapatkan mahasiswa...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Berita Sesudah
Setetes  Air dalam Bensin

Setetes Air dalam Bensin

Discussion about this post

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan dan Kisah Tak Sampai pada “Gadis Kretek”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Penulisan Gabungan Kata dalam bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026