Rabu, 14/10/26 | 22:27 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Memahami Makna Peribahasa “Muluik Manih Kucindan Murah”

Senin, 01/6/26 | 08:57 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan)

 

Minangkabau memiliki banyak peribahasa. Peribahasa merupakan kelompok kata atau kalimat yang tetap sususannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan). Selain itu, peribahasa juga diartikan sebagai ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. (KBBI V, 2023).

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Salah satu peribahasa Minangkabau yang mengandung nasihat adalah muluik manih kucindan murah. Peribahasa ini tentunya tidak asing lagi bagi masyarakat Minangkabau. Selain sering didengar, peribahasa ini juga sering ditemukan dalam buku-buku pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) atau dalam buku Muatan Lokal Keminangkabauan.

Muluik manih kucindan murah merupakan sebuah peribahasa Minangkabau yang memiliki makna seseorang yang ramah, pandai bertutur kata manis, dan suka bergurau. Dengan demikian, orang yang memiliki sifat ini akan disukai oleh banyak orang. Kemudian, dengan mimiliki sifat ini akan lebih mudah mendapatkan teman dan simpati (rasa suka) dari orang lain.

Pada dasarnya, peribahasa tersebut mengajarkan kita berbicara dengan lemah lembut, dapat menyampaikan perkataan dengan tenang, dan menyejukkan hati orang yang mendengarkannya. Bertutur dengan demikian tentu tidak kasar terhadap lawan bicara dan tidak pula menyindir orang atau menyakiti perasaan orang lain yang mendengarkannya. Sikap ini mencerminkan keramahan kepada sesama, senang menyapa orang lain, tidak sombong, dan mampu bergaul secara wajar dan santun.

Nilai ini menjadi sangat penting bagi masyarakat Minangkabau, terutama bagi seorang Bundo Kanduang. Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, Bundo Kanduang yang tidak hanya berperan sebagai ibu bagi anak-anak dalam keluarganya, tetapi juga sebagai mande sako, yaitu perempuan yang menerima amanah dalam kaum. Oleh sebab itu, peranan Bundo Kanduang sangat besar dalam membentuk karakter anak kemenakan supaya tetap tumbuh sesuai dengan nilai adat dan budaya Minangkabau.

Apabila kita melihat kondisi saat ini, perkembangan era globalisasi yang begitu cepat melahirkan generasi yang disebut sebagai generasi alpha atau lebih dikenal sebagai anak-anak dari generasi milenial. Pada generasi ini, kita melihat anak dan kemenakan kita lebih akrab dengan media sosial dan dunia digital. Bahkan, mereka lebih cerdas secara digital dibandingan generasi Z. Tentunya, dengan perkembangan globalisasi saat ini menjadi tantangan besar bagi kita dalam membentuk karakter generasi muda. Di samping itu, perkembangan teknologi juga membuka ruang belajar yang luas, tetapi di sisi lain juga dapat menggeser nilai-nilai adat apabila tidak disikapi dengan bijaksana.

Dalam situasi ini, peran Bundo Kanduang menjadi sangat penting. Begitu juga mamak (saudara laki-laki ibu) yang memiliki peranan penting dalam memelihara anak kemenakan. Apabila mamak dan Bundo Kanduang tidak berhati-hati dalam mendidik dan membimbing anak kemenakan, bisa saja pergeseran nilai-nilai adat terjadi, seperti yang disebut ungkapan jalan dialiah urang lalu, cupak dituka dek urang manggaleh, yakni nilai dan aturan yang telah diwariskan mulai bergeser dan digantikan oleh kebiasaan yang tidak sesuai dengan adat.

Kita dapat melihat gejalanya pada sebagian generasi saat ini yang mulai kurang memahami tata krama berbicara dalam adat Minangkabau, seperti kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang. Padahal, empat langgam kata tersebut mengajarkan cara berkomunikasi sesuai dengan lawan bicara dan situasinya. Kini, tidak jarang ditemukan anak yang berbicara kepada orang yang lebih tua, bahkan kepada orang tuanya sendiri, dengan cara yang sama digunakan ketika berbicara kepada teman sebayanya. Begitu pun anak ketika berbicara dengan teman seumurannya, hubungan komunikasi pun kadang kehilangan batas sopan santun yang semestinya dijaga. Padahal, berbicara atau berkomunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Komunikasi merupakan urat nadi dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, organisasi, kaum, maupun masyarakat. Melalui komunikasi yang baik, hubungan antarsesama dapat terjalin dengan seia sekata dan nilai-nilai adat dapat terus diwariskan.

Lidah sebagai alat untuk bertutur memiliki peran yang sangat besar. Dengan menjaga kata-kata yang elok dapat mengangkat derajat seseorang ke tempat yang lebih tinggi. Begitu pun sebaliknya, kata-kata yang tidak baik juga dapat menjatuhkan martabat seseorang ke tempat yang rendah atau ke tempat yang serendah-rendahnya. Saat ucapan melukai hati orang lain, kata maaf sekalipun belum tentu dapat sepenuhnya untuk menghupus luka tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan dalam ungkapan “Luko dek pisau ado ubeknyo, luko dek lidah susah ubeknyo.” Maksudnya, luka karena pisau masih ada obatnya, tetapi luka karena ucapan sulit disembuhkan. Oleh karena itu, perlu untuk menjaga tutur kata, berbicara dengan santun, dan membiasakan muluik manih kuncindan murah yang menjadi bekal penting dalam membangun generasi muda yang berkarakter, beradat, dan tetap mampu menghadapi perkembangan zaman.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kader Fatayat NU Diminta Optimalkan Pemanfaatan Teknologi di Era Digital

Berita Sesudah

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Amalkan Nilai ABS-SBK di Hari Lahir Pancasila

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat ini, AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan...

Berita Sesudah
Ketua DPRD Sumbar Muhidi Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Amalkan Nilai ABS-SBK di Hari Lahir Pancasila

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Amalkan Nilai ABS-SBK di Hari Lahir Pancasila

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026