Rabu, 21/10/26 | 20:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Tata Cara Penulisan Kata Majemuk dan Idiom Berimbuhan

Minggu, 11/10/20 | 06:00 WIB
Oleh: Elly Delfia, Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Saat ini, bulan Oktober. Bulan yang ditetapkan sebagai bulan bahasa Indonesia. Bulan ini mengingatkan kita untuk mencermati kembali pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa kebanggaan yang mempersatukan seluruh keberagaman bangsa Indonesia. Salah satu cara menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah taat pada tata cara penggunaan bahasa, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam lisan atau percakapan memang tidak terlalu banyak aturan karena setiap orang pada hakikatnya bebas berkreativitas dengan bahasa lisan. Hanya saja perlu memahami “rambu-rambu” atau konteks, tempat, dan kesantunan berbahasa saat menggunakan bahasa lisan. Hal ini tentu berbeda dengan bahasa tulis.

Ada banyak aturan yang harus dipahami dalam bahasa tulis, seperti pemakaian tanda baca dan penulisan kata. Salah satunya tata cara penulisan kata majemuk dan idiom berimbuhan. Kata majemuk adalah gabungan dua kata yang menimbulkan satu makna baru (Ramlan, 2012:77). Makna baru yang muncul akibat penggabungan kedua kata tersebut masih berhubungan dengan makna kata dasar pembentuknya. Lalu, idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan makna komponen-komponennya (Kridalaksana, 2009:107). Konstruksi makna dalam idiom memunculkan makna baru yang sama sekali berbeda atau tidak berhubungan dengan makna kata dasarnya. Idiom mengandung makna konotasi atau kiasan.

Beberapa contoh kata majemuk yang bisa bergabung dengan imbuhan atau afiks, di antaranya kerja sama, tanggung jawab, jual beli, terima kasih, daya tahan, daya guna, dan beberapa idiom yang bisa bergabung dengan afiks atau imbuhan, di antaranya kambing hitam, otak udang, tangan besi, banting tulang, buang muka, anak tiri, dan ambil hati.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Tata cara penulisan kata majemuk dan idiom yang bergabung dengan imbuhan ada dua, yaitu:

Pertama, penulisannya dipisah apabila bergabung dengan satu imbuhan yang posisinya di depan kata dasar saja atau di belakang kata dasar saja. Imbuhan ini bisa dalam bentuk prefiks atau awalan dan sufiks atau akhiran. Awalan ber- dan di- dapat bergabung dengan  kata majemuk dan idiom, misalnya: a. bekerja sama, bertanggung jawab, berterima kasih, berdaya guna, bermuka dua, berkepala batu, dan dibujuk rayu. Kata majemuk juga dapat bergabung dengan akhiran -kan. Contohnya dalam kalimat dapat dilihat di bawah ini:

  1. Polisi dan TNI bekerja sama untuk menjaga keamanan demonstrasi.
  2. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan dan masa depan anak.
  3. Setiap orang harus berterima kasih kepada guru atas ilmu dan pendidikan yang diberikan.
  4. Teknologi pertanian yang berdaya guna dapat membantu peningkatan hasil partanian.
  5. Dia orang yang suka bermuka dua saat berbicara di depan bosnya.
  6. Gadis itu tidak bisa dibujuk rayu oleh para pemuda.
  7. “Jangan jual belikan hukum di negara ini!”, ujar pejuang veteran itu.

Kedua, penulisan kata majemuk dan idiom digabung atau dirapatkan apabila posisi imbuhan berada di depan dan belakang kata dasar sekaligus. Imbuhan yang berada di depan dan di belakang kata dasar sekaligus ini disebut dengan konfiks, misalnya me-kan, memper-kan, contoh: mempertanggungjawabkan, dipertanggungjawabkan, mendayagunakan, mengambinghitamkan, dikambinghitamkan, menganaktirikan, dan dianaktirikan. Contohnya dapat dilihat pada kalimat-kalimat di bawah ini:

  1. Koruptor harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di penjara.
  2. Kesalahan para koruptor juga harus dipertanggungjawabkan di pengadilan.
  3. Warga mendayagunakan kincir air untuk menghasilkan energi listrik.
  4. Jangan mengambinghitamkan orang lain atas kejadian buruk yang menimpa diri kita.
  5. Pemerintah tidak boleh menganaktirikan daerah tertinggal dalam hal pembangunan.
  6. Warga Nagari Batu Kalang merasa dianaktirikan dalam penyaluran bantuan sosial dan pendidikan.

Akan tetapi, tidak semua kata majemuk dan idiom dapat bergabung dengan imbuhan atau mengalami proses afiksasi. Beberapa contoh kata majemuk dan idiom yang tidak dapat bergabung dengan imbuhan, di antaranya ber- + jalan raya > *berjalan raya,  ber- + panjang tangan > *berpanjang tangan, ber- + arif bijaksana > *berarif bijaksana, di – + kursi malas > *dikursi malas. Kata majemuk dan idiom berimbuhan *berjalan raya, *berpanjang tangan, *berarif bijaksana, dan *dikursi malas merupakan bentuk yang tidak berterima atau bentuk yang tidak ada dalam proses pengimbuhan atau proses afiksasi bahasa Indonesia.

Dari contoh-contoh di atas, diperoleh kesimpulan bahwa sebagian kata majemuk dan idiom dapat bergabung dengan imbuhan atau afiks dan sebagian yang lain tidak. Penulisannya dipisah apabila bergabung dengan salah satu imbuhan yang letaknya di depan saja atau di belakang saja. Penulisannya digabung atau rapat atau tanpa spasi apabila bergabung dengan dua imbuhan sekaligus yang terletak di depan dan di belakang kata dasar.

Demikian tata cara penulisan kata majemuk dan idiom berimbuhan dalam bahasa Indonesia. Semoga mencerahkan.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penggunaan Kata Depan “dari” dan “daripada” yang Tidak Tepat

Berita Sesudah

Cukup Satu Kali Saja Pakai Tanda Baca!

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Berita Sesudah

Cukup Satu Kali Saja Pakai Tanda Baca!

Discussion about this post

POPULER

  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Asap Karhutla, Nakes di Dharmasraya Diminta Jemput Bola Tangani Pasien ISPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perundungan di Rungkut, Nihayatul Wafiroh Pertanyakan Penanaman Nilai-nilai Adab Sejak Dini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Evaluasi Kinerja Perumda Tirta Solok Nan Indah, Bupati Solok Bidik 30.000 Pelanggan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026