
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Saya kira wawancara selesai ketika kopi susu di gelas tinggal ampasnya. Begitulah yang saya ceritakan dalam tulisan minggu lalu, “Sepanjang Segelas Kopi Susu”, minuman habis, percakapan pun usai. Namun, cerita para narasumber rupanya ikut pulang bersama saya. Saat rekaman diputar kembali, ada kalimat yang baru saya pahami dan ada pula jawaban yang justru melahirkan pertanyaan baru.
Mendengarkan rekaman memberi saya kesempatan untuk menyimak hal-hal yang mungkin terlewat di kedai. Saat berhadapan dengan narasumber, saya mendengarkan sambil mencatat dan menyiapkan pertanyaan berikutnya. Kini, saya bisa berhenti sejenak, mengulang satu penjelasan, lalu menyesuaikannya dengan catatan. Dari situ, saya mulai menyadari bahwa cerita yang sudah saya dengar belum tentu sepenuhnya saya pahami.
Kadang, perhatian saya justru tertuju pada kalimat yang semula terdengar biasa. Penjelasan singkat tentang siapa yang mengajarkan sebuah tradisi, misalnya, dapat membawa saya memahami bagaimana pengetahuan itu diwariskan. Saya lalu menyimak bagian sebelum dan sesudahnya agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Dengan mendengarkan kembali, saya perlahan memahami hubungan antara potongan-potongan cerita yang sebelumnya terasa terpisah.
Keterkaitan antarcerita itu juga menyadarkan saya akan pentingnya memberi jeda dalam wawancara. Ketika narasumber terdiam, ia mungkin sedang mengingat orang yang dahulu mengajarkan sebuah tradisi atau peristiwa yang menyertai pengalamannya. Jika saya terlalu cepat mengajukan pertanyaan berikutnya, alur ceritanya bisa terputus. Saya pun belajar mengikuti arah percakapan dengan lebih sabar, sebab dari jawaban yang panjang sering muncul penjelasan penting yang belum tercakup dalam daftar pertanyaan.
Kesabaran memahami cerita itu juga diperlukan ketika saya mulai menulis. Tuturan yang menjadi bahan penelitian saya mungkin merangkum pengalaman narasumber selama bertahun-tahun, sehingga tidak bisa diringkas begitu saja. Saya perlu memilih bagian yang relevan sambil menjaga maksud dan hubungan antargagasannya. Saat ragu terhadap sebuah istilah atau penjelasan, saya kembali memeriksa catatan dan rekaman, lalu menandai bagian yang perlu ditanyakan lagi. Proses ini membantu saya menyadari bahwa masih ada hal yang belum sepenuhnya saya pahami.
Karena itu, saya tidak ingin terburu-buru menganggap semua pertanyaan telah terjawab ketika wawancara selesai. Kesediaan narasumber berbagi cerita perlu saya hargai dengan kesungguhan memahami dan menuliskannya secara cermat. Kini, segelas kopi susu mengingatkan saya pada percakapan di kedai sekaligus pekerjaan yang menanti setelahnya, menyimak rekaman, memeriksa catatan, dan menimbang kembali pemahaman saya. Gelas sudah kosong, tetapi tugas saya sebagai pendengar belum selesai.




