Minggu, 13/9/26 | 12:27 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku cerita bergambar untuk anak saya yang baru berusia dua tahun. Setelah buku-buku itu dibawa pulang, ternyata kisahnya tidak berhenti pada gambar yang menarik, halaman yang tebal, atau warna yang cerah. Justru sejak berada di tangannya, buku-buku tersebut memulai kehidupan baru, dibuka, dibolak-balik, dipeluk, diacak-acak, dan sesekali dirobek. Dari situlah saya mulai memahami bahwa perkenalan seorang anak dengan buku tidak selalu berlangsung serapi yang saya bayangkan.

Pada awalnya, saya cukup sedih melihat halaman yang sobek. Buku yang baru beberapa hari dibeli mendadak kehilangan sebagian gambarnya. Keinginan untuk menjaga buku tetap rapi pun berhadapan dengan rasa ingin tahu seorang anak yang belum memahami bahwa halaman buku tidak sekuat mainannya.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Lama-kelamaan, saya mencoba melihatnya dengan cara berbeda. Barangkali, mengacak-acak dan membolak-balik halaman merupakan caranya berkenalan dengan buku. Ia belum dapat membaca kata, tetapi sudah mulai memahami bahwa setiap halaman menyimpan sesuatu yang menarik.

Perhatiannya biasanya tertuju pada gambar hewan. Telunjuk kecilnya akan berhenti pada kucing, burung, atau harimau. Ia kemudian menatap saya, menunggu nama benda atau suara hewan tersebut. Ketika saya menirukan suara kucing, ia tersenyum lalu meminta saya mengulanginya.

Permintaan mengulang itu bisa terjadi berkali-kali. Buku yang sama dibuka pada halaman yang sama. Pertanyaan yang sama pun harus dijawab dengan jawaban yang sama. Saya yang membacakannya kadang sudah hafal urutan gambar sebelum halaman dibuka.

Dari sana, saya mulai menyadari bahwa membaca bersama anak ternyata tidak selalu berarti menuntaskan sebuah cerita. Kadang-kadang, satu halaman saja sudah cukup panjang. Kami dapat berhenti pada gambar pohon, membicarakan warnanya, lalu berpindah pada kupu-kupu kecil di sudut halaman.

Anak saya juga sering membuat jalan ceritanya sendiri. Gambar yang tidak berhubungan dapat disatukannya melalui ocehan yang belum seluruhnya saya mengerti. Sesekali ia menunjuk satu tokoh, lalu menyebut nama orang yang dikenalnya. Dalam pikirannya, barangkali buku itu sedang dipenuhi orang-orang dari kehidupan sehari-hari.

Kini, buku-buku tersebut memang tidak lagi serapi ketika pertama kali dibeli. Beberapa sudutnya terlipat, sampulnya mulai kusam, dan satu-dua halaman menyimpan bekas selotip. Namun, justru pada bagian-bagian itulah jejak perkenalannya dengan buku tertinggal.

Ia mungkin belum mengenal huruf. Ia juga belum memahami jalan cerita secara utuh. Akan tetapi, setiap kali mengambil buku dan membawanya kepada saya, ia seperti sedang mengajukan sebuah permintaan sederhana, duduklah sebentar dan lihatlah dunia ini bersamaku.

Pada usia dua tahun, membaca barangkali memang belum berurusan dengan kemampuan mengeja. Membaca adalah menunjuk gambar, menirukan suara, tertawa, dan mengulang halaman yang sama. Lebih dari itu, membaca adalah waktu kecil yang dibagi bersama sebelum seorang anak kelak mampu membuka bukunya sendiri.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

POPULER

  • DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Musancab dan UKK DPAC PKB Padang Selesai, Yusri Latif: PKB Solusi Untuk Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026