
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku cerita bergambar untuk anak saya yang baru berusia dua tahun. Setelah buku-buku itu dibawa pulang, ternyata kisahnya tidak berhenti pada gambar yang menarik, halaman yang tebal, atau warna yang cerah. Justru sejak berada di tangannya, buku-buku tersebut memulai kehidupan baru, dibuka, dibolak-balik, dipeluk, diacak-acak, dan sesekali dirobek. Dari situlah saya mulai memahami bahwa perkenalan seorang anak dengan buku tidak selalu berlangsung serapi yang saya bayangkan.
Pada awalnya, saya cukup sedih melihat halaman yang sobek. Buku yang baru beberapa hari dibeli mendadak kehilangan sebagian gambarnya. Keinginan untuk menjaga buku tetap rapi pun berhadapan dengan rasa ingin tahu seorang anak yang belum memahami bahwa halaman buku tidak sekuat mainannya.
Lama-kelamaan, saya mencoba melihatnya dengan cara berbeda. Barangkali, mengacak-acak dan membolak-balik halaman merupakan caranya berkenalan dengan buku. Ia belum dapat membaca kata, tetapi sudah mulai memahami bahwa setiap halaman menyimpan sesuatu yang menarik.
Perhatiannya biasanya tertuju pada gambar hewan. Telunjuk kecilnya akan berhenti pada kucing, burung, atau harimau. Ia kemudian menatap saya, menunggu nama benda atau suara hewan tersebut. Ketika saya menirukan suara kucing, ia tersenyum lalu meminta saya mengulanginya.
Permintaan mengulang itu bisa terjadi berkali-kali. Buku yang sama dibuka pada halaman yang sama. Pertanyaan yang sama pun harus dijawab dengan jawaban yang sama. Saya yang membacakannya kadang sudah hafal urutan gambar sebelum halaman dibuka.
Dari sana, saya mulai menyadari bahwa membaca bersama anak ternyata tidak selalu berarti menuntaskan sebuah cerita. Kadang-kadang, satu halaman saja sudah cukup panjang. Kami dapat berhenti pada gambar pohon, membicarakan warnanya, lalu berpindah pada kupu-kupu kecil di sudut halaman.
Anak saya juga sering membuat jalan ceritanya sendiri. Gambar yang tidak berhubungan dapat disatukannya melalui ocehan yang belum seluruhnya saya mengerti. Sesekali ia menunjuk satu tokoh, lalu menyebut nama orang yang dikenalnya. Dalam pikirannya, barangkali buku itu sedang dipenuhi orang-orang dari kehidupan sehari-hari.
Kini, buku-buku tersebut memang tidak lagi serapi ketika pertama kali dibeli. Beberapa sudutnya terlipat, sampulnya mulai kusam, dan satu-dua halaman menyimpan bekas selotip. Namun, justru pada bagian-bagian itulah jejak perkenalannya dengan buku tertinggal.
Ia mungkin belum mengenal huruf. Ia juga belum memahami jalan cerita secara utuh. Akan tetapi, setiap kali mengambil buku dan membawanya kepada saya, ia seperti sedang mengajukan sebuah permintaan sederhana, duduklah sebentar dan lihatlah dunia ini bersamaku.
Pada usia dua tahun, membaca barangkali memang belum berurusan dengan kemampuan mengeja. Membaca adalah menunjuk gambar, menirukan suara, tertawa, dan mengulang halaman yang sama. Lebih dari itu, membaca adalah waktu kecil yang dibagi bersama sebelum seorang anak kelak mampu membuka bukunya sendiri.




