
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Segelas kecil kopi susu ternyata bisa habis dalam satu hingga dua jam. Saya menyadarinya saat mewawancarai para pelaku tradisi lisan di kedai, tempat pertemuan kami di beberapa lokasi penelitian. Di sela cerita dan tegukan, isi gelas perlahan berkurang. Menariknya, ketika minuman habis, percakapan kami biasanya ikut selesai.
Kedai-kedai itu menyediakan pisang goreng, ketan, dan makanan ringan. Untuk minuman ada kopi, teh, atau kopi susu sebagai menu dalam wawancara kami. Kopi susu paling saya ingat, karena isinya seolah mengikuti panjang percakapan. Saat minuman masih penuh, saya mulai bertanya dan narasumber membuka cerita. Jawaban mengundang pertanyaan berikutnya, diselingi tegukan kecil sebelum pembicaraan berlanjut.
Segelas kecil kopi susu bertahan berjam-jam karena setiap tegukan diselingi cerita tentang praktik tradisi, orang-orang terdahulu, dan penjelasan yang mengundang pertanyaan baru. Minuman baru disentuh ketika percakapan memberi jeda. Menjelang gelas kosong, pertanyaan saya semakin sedikit dan cerita narasumber mulai terasa cukup. Ketika minuman habis, wawancara pun selesai.
Kami tidak pernah sepakat untuk mengakhiri percakapan setelah tegukan terakhir, tetapi hal serupa berulang di berbagai kedai. Seolah-olah kami sama-sama tahu kapan waktu bercerita telah cukup. Dua sampai tiga jam terasa wajar untuk wawancara lapangan, tetapi pengalaman ini membuat saya lebih memperhatikan bagaimana waktu itu dijalani. Dalam catatan penelitian, durasinya tertulis sebagai angka, di meja kedai, waktu terasa lewat cerita yang semakin terbuka dan minuman yang perlahan berkurang.
Di kedai, narasumber bercerita sambil menikmati minuman, sementara saya menyimak di tengah kesibukan orang memesan makanan dan berbincang. Suasana akrab itu mengajarkan saya untuk memberi waktu, sebab sebagian cerita baru muncul setelah kami cukup lama duduk bersama. Saya datang membawa pertanyaan, tetapi juga perlu sabar mengikuti arah penjelasan narasumber. Segelas kopi susu menemani kami hingga percakapan selesai.
Kini, segelas kecil kopi susu mengingatkan saya pada cerita-cerita yang mengalir hingga minuman di meja nyaris terlupakan. Saya datang untuk meneliti tradisi lisan dan pulang dengan penghargaan atas waktu yang diluangkan para narasumber untuk berbagi ingatan dan pengetahuan. Setelah gelas kosong dan percakapan usai, cerita mereka tetap tinggal bersama saya.






