
Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)
Novel Saman karya Ayu Utami terbit pada 1998, di ujung masa Orde Baru, dan sejak itu hampir selalu dibicarakan lewat dua hal: keberaniannya menuliskan seksualitas perempuan serta gaya bahasanya yang dianggap menyegarkan prosa Indonesia. Pembicaraan semacam itu wajar, tetapi ia meninggalkan satu bagian novel yang jarang ditanyakan dengan cara yang sama, yaitu kisah Athanasius Wisanggeni di dusun Lubukrantau. Bagian ini membawa pembaca ke wilayah transmigrasi Sei Kumbang, tempat petani karet berhadapan dengan perusahaan yang hendak mengubah kebun mereka menjadi perkebunan kelapa sawit. Di sinilah novel paling terang-terangan berpihak kepada rakyat kecil. Justru karena keberpihakan itu tampak begitu jelas, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi apakah novel ini memihak korban, melainkan melalui suara siapa korban itu hadir.
Dalam pemikiran Spivak, subaltern merujuk pada kelompok yang terputus dari jalur mobilitas sosial dan dari akses terhadap wacana yang diakui, baik karena kelas, gender, maupun posisi geografis dan kolonial. Tesisnya yang terkenal, bahwa subaltern tidak dapat berbicara, sering dibaca terlalu harfiah. Yang dipersoalkan Spivak bukan ketiadaan kata-kata, melainkan ketiadaan posisi tempat ucapan itu dapat didengar dan diakui sebagai ucapan yang sah. Ucapan kelompok tertindas hampir selalu harus melewati perantara, entah negara, akademisi, atau juru bicara yang bersimpati, dan di sepanjang perjalanan itulah maknanya berubah.
Dua pengertian “mewakili” yang dibedakan Spivak dengan merujuk pada Marx berguna bagi pembacaan sastra. Yang pertama adalah mewakili dalam arti politik, yakni berbicara atas nama pihak lain (Vertretung). Yang kedua adalah mewakili dalam arti penggambaran, yakni menghadirkan atau menampilkan (Darstellung). Dalam fiksi, keduanya berjalan bersamaan: pengarang menggambarkan tokoh yang tertindas (Darstellung), sementara tokoh intelektual di dalam cerita berbicara dan bertindak bagi mereka (Vertretung). Spivak juga menekankan bahwa posisi perempuan dalam kelompok subaltern berlapis, sebab ia tertekan oleh struktur kelas dan kolonial sekaligus oleh struktur patriarki, termasuk yang bekerja di dalam komunitasnya sendiri.
Lubukrantau digambarkan sebagai dusun di daerah transmigrasi Sei Kumbang (hlm. 75), tempat petani menyadap karet di lahan proyek perkebunan inti rakyat. Hidup mereka sudah sulit sebelum perusahaan datang: pohon karet roboh dimakan jamur akar putih, pasokan pupuk tersendat, dan jarak ke pembeli membuat getah rusak di jalan (hlm. 85–86). Ancaman baru datang ketika petugas PT Anugrah Lahan Makmur membawa surat keputusan yang menyatakan bahwa lokasi transmigrasi itu harus dijadikan kebun sawit, dan menyebut dusun ini satu-satunya yang belum “patuh” menandatangani kesepakatan (hlm. 92). Di desa-desa sekitar, para kepala keluarga sudah membubuhkan tanda tangan pada lembar kosong dengan imbalan bibit sawit, dengan dalih bahwa tidak semua orang bisa membaca (hlm. 93–94).
Bagian ini harus dibaca dengan cermat sebab tuduhan bahwa warga hanyalah massa pasif terlalu mudah dan tidak sesuai dengan teks. Warga Lubukrantau justru bertindak. Wis, Anson, dan tiga penatua desa menolak berunding sebelum perusahaan menyertakan kertas perjanjian bagi setiap kepala keluarga dan bersedia berhadapan langsung dengan warga (hlm. 94–95). Dusun itu membangun rumah asap dan rumah kincir sebagai pembangkit listrik kecil (hlm. 91), mengatur patroli malam, dan ketika penyerbuan mendekat, perempuan-perempuan melantunkan salawat di surau sementara anak-anak muda berkeliling berjaga (hlm. 102). Pembacaan Spivakian yang mengatakan warga hanya menunggu pencerahan dari luar. Oleh karena itu, perlu dikoreksi: kritik yang dapat dipertahankan harus lebih tajam daripada itu.
Bagian yang problematis bukanlah ketiadaan agensi warga, melainkan penguasaan atas saluran menuju ruang publik. Ketika persoalan memuncak, yang pergi ke Palembang, Lampung, dan Jakarta, membawa foto dan data ke kantor surat kabar serta lembaga swadaya masyarakat, adalah Wis (hlm. 95). Strategi itu berhasil menunda penggusuran hampir setahun setelah wartawan datang ke dusun, tetapi ia memperlihatkan siapa yang menguasai bahasa yang dapat didengar pers: orang yang berpendidikan, bermobilitas, dan terbiasa dengan kota. Posisi Wis pun ambigu. Ketika ia menyela atas nama dusun, petugas perusahaan menuntut KTP-nya, dan negara membacanya sebagai orang luar; Anson menjawab bahwa Wis adalah “abang saya” (hlm. 94). Wis diterima sebagai bagian keluarga, tetapi ia tetap membawa modal sosial yang tidak dimiliki warga. Dengan kata lain, Lubukrantau tidak bisu; ia hanya tidak memiliki jalur sendiri menuju wacana yang menentukan nasibnya. Itulah inti persoalan Spivak.
Persoalan representasi menjadi paling tajam pada tokoh Upi. Ia pertama kali muncul bukan melalui suaranya, melainkan lewat penuturan ibunya kepada Wis, setelah Wis melihat gadis itu dikerangkeng dan memprotes: “Lepaskan! Dia cuma anak perempuan!” (hlm. 72). Dalam penuturan Upi disebut tidak pernah bisa bicara sejak lahir. Kondisinya dijelaskan dengan kepercayaan bahwa ayahnya pernah membunuh penyu ketika istrinya hamil, keluarga menduga setan mengajaknya bercakap karena ia tidak menguasai bahasa manusia, dan pemasungan dibenarkan sebagai tindakan terpaksa setelah ia menganiaya ternak dan melukai kakaknya (hlm. 72–73). Seluruh biografi Upi dengan demikian tiba dalam bentuk wacana pihak lain, dengan kategori “gila”, “setan”, dan “berbahaya”.
Penghapusan Upi bekerja berlapis, dan lapisan itu perlu dipisahkan. Lapis pertama adalah kelas dan geografi: ia anak keluarga petani transmigran miskin di dusun terpencil, dan ibunya berkata bahwa mereka “tak tahu cara lain” (hlm. 72). Lapis kedua adalah gender: bahaya yang dilekatkan padanya dikaitkan dengan siklus haid dan hasratnya (hlm. 73), sehingga tubuh perempuan diposisikan sebagai sumber ancaman yang harus dikurung. Lapis ketiga adalah komunikasi: ia tidak berbahasa dengan cara yang dimengerti lingkungannya, sehingga tidak ada klaim tentang dirinya yang dapat ia bantah. Istilah “penghapusan berlapis” di sini
Melalui kerangka Spivak, esai ini menunjukkan bahwa Saman memuat paradoks representasi yang kompleks di balik keberhasilannya mengungkap ketidakadilan agraria dan kekerasan pada masa Orde Baru. Warga Lubukrantau bukan massa pasif, sebab mereka menolak menandatangani lembar kosong, membangun usaha sendiri, dan mempertahankan dusun; tetapi saluran mereka menuju publik dikuasai oleh Wis, seorang pendidik yang bermobil dan terhubung dengan kota.
Pada Upi, paradoks itu menjadi paling jelas. Ia dibungkam berlapis oleh kelas, gender, dan cara orang lain memahami keterbatasannya, jauh sebelum perusahaan datang. Kasih sayang Wis nyata, tetapi bergerak dalam logika pengurungan yang sama; tubuh Upi ditafsirkan oleh ibunya, oleh Wis, dan oleh Anson; kematiannya hadir hanya sebagai dugaan dan ingatan seorang laki-laki yang selamat. Novel ini patut dihargai karena memperlihatkan keterbatasan itu, dan patut dikritik karena belum memberi Upi ruang naratif yang mengganggu struktur tersebut. Di antara dua penilaian itulah Saman menjadi bahan kajian yang berharga tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan sastra bagi mereka yang suaranya dipinjamkan.








