Minggu, 16/8/26 | 22:06 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

 

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa cepat kita bisa menguasainya. Prosesnya juga bisa mengubah cara kita melihat hal-hal di sekitar. Sejak belajar mengedit video, saya mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya sering saya abaikan. Saya jadi lebih peka terhadap cara memotong gambar, menempatkan suara, menentukan durasi adegan, hingga menyadari bahwa satu detik tambahan bisa membuat sebuah video terasa berbeda.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata membutuhkan kepekaan. Kita tidak cukup hanya mengetahui fungsi setiap tombol. Ada keputusan-keputusan sederhana yang harus dibuat agar sebuah cerita dapat tersampaikan dengan baik. Dari sana saya mulai memahami, bahwa pekerjaan yang tampak sederhana di layar komputer sesungguhnya memiliki proses berpikir yang cukup panjang.

Menariknya, proses tersebut membuat saya melihat dokumentasi penelitian dengan cara yang berbeda. Dulu, saya menganggap dokumentasi sebagai bagian dari kewajiban, mengambil foto, merekam wawancara, mendokumentasikan kegiatan, lalu menyimpan semuanya. Kini, saya mulai menyadari bahwa setiap rekaman memiliki cerita. Ekspresi narasumber, suasana lokasi penelitian, suara lingkungan, aktivitas masyarakat, hingga hal-hal kecil yang sering terlewat dapat memberikan gambaran yang tidak selalu bisa disampaikan melalui tulisan ilmiah.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Barangkali di situlah saya menemukan alasan lain mengapa belajar mengedit video terasa menyenangkan. Saya tidak sekadar belajar mengoperasikan perangkat lunak, tetapi juga belajar menyusun kembali pengalaman menjadi sebuah cerita yang dapat dilihat dan dirasakan orang lain.

Tentu saja, prosesnya masih jauh dari sempurna. Kadang-kadang saya menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk mencari musik yang sesuai. Ada pula saat ketika setelah beberapa kali mencoba, hasilnya tetap terasa biasa saja. Belum lagi ketika sebuah video sudah selesai, lalu setelah ditonton ulang muncul keinginan untuk memperbaiki bagian ini dan itu. Pada titik tertentu saya belajar bahwa pekerjaan kreatif memang hampir tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada kemungkinan untuk membuatnya sedikit lebih baik.

Pemanfaatan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi bagian penting dalam proses belajar tersebut. Saat ini, berbagai perangkat dan aplikasi editing video sudah dilengkapi fitur berbasis AI yang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih mudah dan cepat. Mulai dari memilih bagian video, memperbaiki suara, membuat teks, hingga menyesuaikan gambar dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Bagi saya, kehadiran teknologi ini menjadi kemudahan sekaligus membuka kesempatan untuk belajar lebih banyak. Saya tidak lagi hanya belajar bagaimana menggunakan alat, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan sebuah cerita dengan lebih baik.

Pada akhirnya, belajar mengedit video mengajarkan saya bahwa teknologi bukan sekadar alat untuk mempercepat pekerjaan. Ia juga dapat membuka cara baru untuk melihat, mengingat, dan menceritakan kembali sebuah pengalaman. Foto, suara, gambar, dan potongan-potongan kecil dari lapangan yang sebelumnya hanya tersimpan sebagai dokumentasi, kini dapat dirangkai menjadi cerita yang lebih hidup. Mungkin saya belum menjadi editor video yang hebat, tetapi dari proses sederhana ini saya belajar satu hal penting, setiap pengalaman memiliki cerita, dan teknologi membantu saya menemukan cara yang berbeda untuk menyampaikannya.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Sebanyak 29 Sekolah Sepak Bola (SSB) Perebutkan Piala Wali Kota Cup U-12

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

POPULER

  • Pemko Padang Apresiasi Pembukaan Festival Kota Tua 2026.

    Pemko Padang Apresiasi Pembukaan Festival Kota Tua 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Apresiasi Semifinal Turnamen PSTS Tabing U-14 Piala Wali Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Resmikan Penutupan Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup II 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026