
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang selalu menawarkannya. Kini, anak saya mulai mencarinya sendiri. Perubahan kecil itu terasa begitu berarti. Biasanya, ia mencari buku menjelang tidur, atau ketika bosan dengan mainannya. Langkahnya segera menuju rak kecil. Tangannya memilih buku tanpa banyak pertimbangan. Kadang, pilihannya jatuh pada buku lama, buku yang telah sobek, atau buku yang penuh coretan.
Ia lalu membawanya kepada saya. Buku itu disodorkan tanpa banyak kata. Namun, saya memahami maksudnya dengan baik. Ia ingin kami membacanya bersama. Ada kalanya saya sedang sibuk. Pekerjaan rumah belum selesai seluruhnya. Telepon genggam juga masih menyala. Pesan-pesan menunggu untuk dibaca dan dibalas.
Namun, seseorang yang menunggu dan memerlukan saya kali ini melebihi apapun. Ia menunggu sambil mulai membuka halaman pertama. Tatapannya membuat pekerjaan lain terpaksa menunggu untuk diselesaikan. Kami kemudian memulai kebiasaan sederhana itu. Saya membaca, sedangkan ia memperhatikan. Terkadang, kami memerlukan waktu cukup lama di satu halaman. Kadang pula, satu halaman lain tidak terbaca sampai selesai karena tangan kecilnya beralih ke halaman berikutnya.
Ia juga mulai menentukan pilihannya sendiri. Buku tertentu lebih sering dibawanya. Buku lainnya hampir tidak pernah disentuh. Rupanya, pembaca kecil juga memiliki selera. Saya tidak selalu memahami pilihannya. Cerita yang menurut saya menarik diabaikan. Sebaliknya, cerita sederhana terus diminta. Bahkan, cerita itu dibaca berulang-ulang.
Dahulu, pengulangan tersebut terasa membosankan. Kini, saya mencoba menikmatinya perlahan. Setiap pembacaan ternyata tidak selalu sama. Ada perhatian baru pada setiap pertemuan. Kadang, ia menemukan gambar kecil. Gambar itu sebelumnya tidak kami perhatikan. Kadang, ia tertawa pada bagian berbeda. Saya pun ikut melihatnya kembali.
Dari kebiasaan itu, saya memahami sesuatu. Kedekatan dengan buku tumbuh perlahan. Ia tidak muncul melalui perintah panjang. Ia tumbuh dari perjumpaan yang menyenangkan. Anak tidak perlu segera lancar membaca. Ia juga tidak harus cepat mengenal huruf. Mula-mula, buku perlu terasa dekat. Buku perlu hadir tanpa tekanan.
Karena itu, saya mulai menyediakan waktu. Tidak lama, cukup beberapa menit saja. Namun, waktu tersebut diusahakan tetap ada. Terutama ketika ia membawa buku. Barangkali, kebiasaan membaca memang bermula demikian. Seorang anak mengambil sebuah buku. Orang dewasa menghentikan kesibukannya sebentar. Lalu, keduanya duduk berdampingan.
Kelak, ia mungkin membaca sendiri. Ia tidak lagi membutuhkan suara saya. Namun, sebelum masa itu tiba, biarlah buku menjadi alasan kami duduk bersama. Sebab, minat membaca mungkin tumbuh dari kenangan sederhana: pernah ditemani ketika membuka sebuah cerita.





