Kamis, 15/10/26 | 01:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa
(Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)

 

Siapa yang tidak mengenal jasa titip atau jastip? Di era digital saat ini, membeli barang dari luar kota, bahkan luar negeri, bukan lagi hal yang sulit. Masyarakat dengan mudah menemukan teman, selebgram, hingga mahasiswa yang menawarkan jasa titip melalui media sosial. Secara sederhana, jastip merupakan layanan untuk membantu orang lain memperoleh barang yang sulit dijangkau dengan imbalan biaya jasa (Jannah, 2021).

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Aktivitas titip-menitip sebenarnya sudah lama dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga dan pertemanan. Namun, perkembangan media sosial seperti Instagram dan TikTok mengubah aktivitas ini menjadi peluang usaha. Pelaku jastip tidak lagi sekadar membantu, tetapi juga mempromosikan produk, membangun kepercayaan, dan menarik pelanggan. Mereka juga memanfaatkan momen tertentu seperti flash sale, konser, atau pembukaan toko baru untuk meningkatkan penjualan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam membentuk model bisnis baru sekaligus memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Selain itu, interaksi antara penjual dan pembeli melalui media sosial terasa lebih dekat karena konsumen dapat bertanya, menyaksikan proses pembelian, dan menentukan pilihan barang secara real-time. Kondisi tersebut menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih interaktif serta meningkatkan kepercayaan konsumen (Siregar et al., 2025). Dalam konteks ini, jastip menjadi peluang usaha menarik bagi mahasiswa karena dapat dijalankan tanpa modal besar dan tanpa menyimpan stok barang.

Dari sudut pandang ekonomi, tingginya minat terhadap jastip dapat dijelaskan melalui konsep search cost atau biaya pencarian (Bakos, 1997). Konsep ini berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan konsumen untuk memperoleh informasi atau barang yang diinginkan. Ketika suatu produk tidak tersedia di daerah tertentu, konsumen perlu mengeluarkan waktu dan biaya tambahan untuk mendapatkannya. Dalam kondisi tersebut, jastip dapat menjadi solusi yang lebih efisien karena proses pencarian produk dapat dialihkan kepada pihak lain. Sebagai contoh, seseorang di Padang yang ingin membeli barang eksklusif di Jakarta tentu memerlukan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit. Dengan adanya jastip, proses tersebut menjadi lebih praktis karena konsumen dapat memperoleh barang yang diinginkan tanpa harus datang langsung ke lokasi pembelian.

Namun, apakah jastip selalu memberikan keuntungan? Di balik kemudahan yang ditawarkan, jastip juga memiliki berbagai risiko, salah satunya asymmetric information atau ketidakseimbangan informasi (Varian, 2019). Kondisi ini terjadi ketika konsumen tidak memiliki informasi yang sama dengan pelaku jastip. Dalam banyak kasus, pembeli sering kali tidak mengetahui harga asli barang maupun besarnya keuntungan yang diambil. Akibatnya, konsumen cenderung menerima harga yang ditawarkan tanpa dapat menilai apakah harga tersebut masih wajar atau tidak. Selain itu, kemudahan yang ditawarkan jastip berpotensi menimbulkan ketergantungan. Konsumen menjadi terbiasa membeli barang membeli barang melalui jasa titip tanpa mempertimbangkan cara lain yang mungkin lebih hemat. Jika terus dilakukan, kebiasaan ini dapat membuat masyarakat lebih konsumtif.

Meskipun terlihat sederhana, jastip tetap merupakan usaha yang memerlukan pengelolaan keuangan yang baik. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak memisahkan keuangan pribadi dan usaha. Dalam akuntansi, hal ini dikenal sebagai business entity concept. Banyak pelaku jastip, khususnya mahasiswa, masih mencampur kedua jenis keuangan tersebut sehingga kesulitan mengetahui apakah usaha yang dijalankan benar-benar menghasilkan laba. Tanpa pencatatan yang jelas, saldo rekening yang terlihat besar belum tentu mencerminkan keuntungan karena bisa saja merupakan uang titipan konsumen yang belum digunakan (Ermawati, 2022).

Saat ini, aplikasi pencatatan keuangan sudah semakin mudah digunakan oleh pelaku usaha, termasuk jastip. Namun, masih banyak pelaku usaha yang belum memanfaatkannya karena kurang menyadari pentingnya pencatatan keuangan. Padahal, pencatatan yang rapi membantu memahami kondisi keuangan, mengevaluasi kinerja usaha, serta menyusun strategi penjualan yang lebih efektif.

Selain pengelolaan keuangan, aspek perpajakan juga harus diperhatikan dalam bisnis jastip. Pada dasarnya, setiap penambahan pendapatan adalah objek pajak sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia (Direktorat Jenderal Pajak, 2022). Untuk jastip dari luar negeri, regulasi bea cukai juga sangat penting karena barang yang masuk ke Indonesia memiliki batasan nilai tertentu dan bisa dikenakan pajak impor. Tindakan seperti menghapus label harga atau membagi barang bawaan untuk menghindari pajak adalah pelanggaran terhadap peraturan (PMK No. 199/2019) dan bisa merugikan negara. Oleh karena itu, pelaku jastip perlu memahami bahwa menjalankan usaha tidak hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang menaati aturan yang berlaku.

Fenomena jastip menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya mengubah cara masyarakat berbelanja, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi di era digital. Banyak konsumen tertarik membeli barang yang sedang viral atau sulit diperoleh di daerah tertentu. Dalam kondisi seperti ini, jastip menjadi pilihan yang dianggap lebih praktis dan efisien. Tidak sedikit konsumen yang rela mengeluarkan biaya tambahan demi mendapatkan barang yang sedang populer atau mengikuti tren yang berkembang di media sosial. Keinginan untuk tidak tertinggal tren tersebut dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO), yang secara tidak langsung juga mendorong perkembangan bisnis jastip di kalangan anak muda.

Dengan demikian, fenomena jastip mencerminkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital saat ini. Di satu sisi, jastip menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan, terutama bagi mahasiswa yang ingin memperoleh penghasilan tambahan secara fleksibel. Namun, di sisi lain, bisnis ini juga membutuhkan tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan, transparansi harga, dan kepatuhan terhadap aturan pajak. Jika dijalankan secara jujur dan profesional, jastip dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan. Sebaliknya, tanpa pengelolaan yang baik, jastip berisiko hanya menjadi tren sementara yang mendorong perilaku konsumtif masyarakat.

Tags: #Najwa Maliha Zharfa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Berita Sesudah

Kader Fatayat NU Diminta Optimalkan Pemanfaatan Teknologi di Era Digital

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Kader Fatayat NU Diminta Optimalkan Pemanfaatan Teknologi di Era Digital

Kader Fatayat NU Diminta Optimalkan Pemanfaatan Teknologi di Era Digital

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026