Sabtu, 17/1/26 | 04:00 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Minggu, 28/4/24 | 10:58 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

“Lah, emang cewe kalo lagi ngerumpi gak ngomongin cowo buncit? Jerawatan? Kelink? Pendek? Gaji kecil? Cowo broken home? Miskin?” tulis seseorang sebagai bentuk responsnya terhadap suatu hal yang dibahas di sebuah menfess. Seorang komika dalam salah satu siniarnya berkata bahwa ia melihat fisik perempuan dari mata kakinya. Apabila mata kakinya tidak hitam, berarti yang lainnya mulus. Sejumlah pengguna X bereaksi atas pernyataan komika tersebut.

Sebagian bereaksi karena si komika dianggap mengungkapkan informasi yang nyeleneh dan belum tentu benar. Sebagian lagi berkomentar karena pernyataan tersebut seolah menuntut perempuan untuk sempurna secara menyeluruh. Sebagian lainnya menganggap pernyataan itu bukanlah suatu yang patut dipersoalkan karena itu adalah sebuah kriteria seseorang.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Saya sendiri tidak heran dengan pernyataan si komika. Sebab, tidak hanya kali ini ia menyatakan hal yang nyeleneh terkait perempuan. Saya justru heran dengan salah satu tuduhan untuk merespons komentar-komentar netizen yang kontra dengan pernyataan si komika. Apakah perempuan bila berkumpul selalu merumpi? Apakah merumpinya seputar fisik laki-laki? Berdasarkan pengalaman sendiri tentu jawabnya ‘tidak’.

Saya memiliki beberapa kelompok pertemanan. Pertemanan semasa SMA, pertemanan semasa kuliah, pertemanan sesama organisasi, dan pertemanan lainnya yang dipertemukan oleh kesempatan-kesempatan tak terduga. Sesekali kami berkumpul dan mengobrol banyak hal. Akan tetapi, bila ditinjau ke belakang tidak pernah rasanya kami merumpi atau ngomongin laki-laki buncit, jerawaran, keling, pendek, bergaji rendah, broken home, dan miskin. Kami tidak punya waktu dan sama sekali tidak terpikirkan untuk mengobrolkan hal-hal yang tidak penting itu.

Semasa SMA, obrolan masa remaja tidak melulu soal kriteria pacar. Teman-teman saya lebih tertarik untuk mengobrolkan hal-hal yang ingin mereka lakukan lima hingga sepuluh tahun ke depan. Kami membahas cita-cita, hendak kuliah di mana, mengambil jurusan apa, profesi yang ingin digeluti, dan lain sebagainya tanpa menggibah fisik laki-laki seperti yang dituduhkan lewat cuitan tersebut.

Beberapa tahun kemudian, kami bertemu lagi. Akan tetapi tetap saja menggibah tentang laki-laki sama sekali tidak menarik. Obrolan berkembang sesuai usia. Kami mulai mengobrolkan politik sebatas yang kami pahami, kehidupan perkuliahan dan pekerjaan bagi yang sudah bekerja, rencana berkeluarga, mengeluhkan kondisi mental, dan sedikit-sedikit tentang parenting.

Stereotipe gibah atau rumpi terlanjur diidentikan dengan perempuan. Entah siapa yang memulai prasangka yang subjektif dan tidak tepat ini. Alih-alih merumpi berisikan mencemooh fisik laki-laki, kami perempuan nyatanya lebih tertarik untuk merumpikan drama-drama Korea yang kami tonton, merumpikan produk perawatan kulit yang mahal namun tidak begitu bagus, dan merumpikan perpolitikan busuk negara alakadarnya.

Tentu saja tulisan ini juga berisikan pendapat yang subjektif. Akan tetapi setidaknya membuktikan bahwa tidak semua obrolan perempuan berisikan gunjingan belaka. Adakalanya kami bertemu untuk berbagi informasi seputar karier (dengan teman yang sudah bekerja), pendidikan (dengan teman yang gila bersekolah), pola asuh (dengan teman yang sudah memiliki buah hati), dan topik-topik yang dirasa penting lainnya.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Berita Sesudah

Puisi-puisi Daris Kandadestra dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Daris Kandadestra dan Ulasannya oleh Dara Layl

Puisi-puisi Daris Kandadestra dan Ulasannya oleh Dara Layl

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024