
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya kira semuanya akan terasa seperti dulu, mudah, akrab, dan mengalir begitu saja. Namun rupanya ada jarak yang diam-diam terbentuk selama sekian lama.
Duduk dengan sebuah buku di tangan tidak lagi sesederhana membuka halaman pertama lalu tenggelam di dalamnya. Ada kebiasaan baru yang harus disesuaikan, ada ritme lama yang perlu dicari kembali. Dan dari proses kecil itulah saya mulai memahami satu hal, kadang yang paling sulit bukan memulai, melainkan belajar merasa nyaman untuk kembali.
Yang menarik, saya mulai sadar bahwa membaca bukan hanya soal menyelesaikan satu buku sampai tamat. Ada masa ketika saya terlalu keras pada diri sendiri, merasa gagal hanya karena berhenti di halaman sembilan atau dua belas, hingga menundanya sampai berminggu-minggu.
Sekarang saya mulai membiarkan diri membaca dengan lebih santai. Kadang beberapa halaman sebelum tidur, kadang beberapa halaman sambil menunggu kelas dimulai, kadang hanya membaca satu paragraf lalu berhenti untuk memikirkannya. Ternyata, cara seperti itu justru membuat saya membaca terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan tidak lagi seperti beban.
Ada rasa senang yang sederhana setiap kali saya berhasil menyelesaikan beberapa halaman atau satu bab buku. Bukan karena sudah membaca banyak, tetapi karena saya merasa sedang memberi waktu untuk diri sendiri belajar sesuatu yang baru. Dari buku, saya sering menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan.
Saya juga mulai menerima bahwa tidak semua buku harus selesai. Ada buku yang mungkin datang di waktu yang belum tepat. Ada yang harus ditinggalkan sejenak, lalu kembali dibuka ketika pikiran sudah lebih siap. Dulu saya menganggap itu bentuk ketidakdisiplinan, sekarang saya melihatnya sebagai bagian dari perjalanan membaca.
Masih banyak buku yang belum sempat saya baca, masih banyak halaman yang menunggu untuk dibuka. Tapi sekarang saya tidak lagi melihatnya sebagai beban atau sesuatu yang terus tertunda. Saya justru melihatnya sebagai pengingat bahwa selalu ada kesempatan untuk belajar hal baru. Selalu ada waktu untuk kembali membaca, kembali menemukan cerita, dan kembali menambah pemahaman tentang banyak hal. Mungkin memang seperti itu hubungan saya dengan buku, kadang dekat, kadang jauh, tetapi tidak pernah benar-benar selesai.





