Senin, 20/7/26 | 14:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

 
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Ada kebiasaan, cara pandang, bahkan cara merasakan sesuatu yang ternyata tidak selalu serupa. Dari situlah kita belajar bahwa hidup berdampingan tidak hanya soal kedekatan, tetapi juga tentang penyesuaian.

Hal sederhana itu saya temukan dalam kehidupan asrama. Di kamar yang saya tempati, kami hanya berdua. Kebetulan, teman sekamar saya berasal dari Padang, sama seperti saya. Kami menempuh pendidikan di tempat yang sama melalui program beasiswa yang sama pula. Sebelum tinggal bersama, hubungan kami sudah cukup dekat. Kesamaan latar belakang dan pengalaman membuat kami mudah saling memahami. Setidaknya, itulah yang saya pikirkan pada awalnya.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Namun, kedekatan ternyata tidak selalu berarti kesamaan dalam segala hal. Ada satu perbedaan kecil yang terus hadir dalam keseharian kami, kipas angin. Bagi saya, kipas angin bukanlah sesuatu yang mutlak diperlukan, terutama pada malam hari.

Jika siang hari udara sedang terik dan panas terasa menyengat, keberadaan kipas angin tentu cukup membantu. Akan tetapi, ketika malam tiba, saya justru merasa lebih nyaman tanpa hembusan angin yang terus-menerus. Tidur dengan kipas angin yang menyala sepanjang malam sering kali membuat tubuh terasa tidak nyaman, tenggorokan menjadi kering, dan kualitas istirahat terasa berkurang.

Sebaliknya, bagi teman saya, kipas angin adalah bagian penting dari tidur. Tanpanya, ia merasa sulit memejamkan mata. Udara, menurutnya, selalu terasa panas, baik siang maupun malam. Bahkan ketika saya merasa suhu malam sudah cukup sejuk, ia tetap merasakan gerah yang sama.

Padahal, daerah tempat kami menempuh studi bukanlah wilayah yang memiliki curah hujan tinggi. Siang hari memang cukup panas, dan itu dapat dirasakan oleh siapa saja. Namun ketika malam datang, menurut pengalaman saya, udara menjadi lebih bersahabat. Panas siang perlahan mereda, meninggalkan suhu yang lebih tenang. Akan tetapi, persepsi teman saya berbeda. Bagi dirinya, panas seolah tetap tinggal.

Perbedaan ini pada awalnya tampak sepele. Hanya soal kipas angin. Namun dari persoalan sederhana itu, saya menyadari satu hal penting, kenyamanan adalah sesuatu yang sangat personal. Apa yang terasa nyaman bagi seseorang belum tentu memberikan rasa yang sama bagi orang lain.

Dalam keseharian, kami akhirnya belajar mencari jalan tengah. Kadang kipas angin dinyalakan untuk beberapa waktu lalu dimatikan. Kadang arah anginnya diubah agar tidak langsung mengenai saya. Di waktu lain, salah satu dari kami memilih untuk mengalah demi kenyamanan bersama.

Dari pengalaman itu, saya memahami bahwa hidup bersama bukanlah tentang memaksakan kebiasaan sendiri kepada orang lain. Sebaliknya, hidup bersama adalah tentang kesediaan untuk saling menyesuaikan, meskipun dalam perkara yang tampak sederhana.

Kipas angin, pada akhirnya, bukan lagi sekadar benda elektronik di sudut kamar. Ia menjadi pengingat bahwa perbedaan selalu hadir, bahkan di antara dua orang yang berasal dari tempat yang sama, memiliki latar belakang yang serupa, dan menjalani perjalanan hidup yang hampir sejalan. Dan mungkin, justru dari perbedaan-perbedaan kecil itulah kita belajar arti sebenarnya dari toleransi.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Firdaus Desak Pemprov Sumbar dan Pertamina Atasi Antrean Panjang di SPBU

Berita Sesudah

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Berita Sesudah
Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

POPULER

  • Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

    Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hubungan Sinonim Kata “Mempunyai” dan “Memiliki”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026