
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah dibeli sejak lama, sebagian lagi baru saja saya susun rapi di lemari. Ironisnya, beberapa di antaranya bahkan belum pernah benar-benar saya buka.
Buku-buku itu sengaja saya siapkan untuk dibaca “nanti”. Masalahnya, kata “nanti” itu ternyata bisa berlangsung berbulan-bulan. Buku-buku tetap memenuhi rak, tetapi semakin jarang disentuh. Hingga akhirnya saya kembali kuliah dan menyadari bahwa hubungan saya dengan buku perlu diperbaiki.
Padahal, hubungan saya dengan buku sebenarnya tidak pernah benar-benar putus. Saya masih sesekali membaca buku kumpulan cerpen, meskipun sering berhenti di tengah jalan. Saya juga membuka beberapa buku nonfiksi ketika membutuhkan referensi.
Namun, kegiatan membaca saat itu lebih banyak didorong oleh kebutuhan daripada keinginan. Buku dibuka ketika diperlukan, lalu kembali disimpan setelah urusannya selesai. Lama-kelamaan, membaca tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas, melainkan sekadar aktivitas yang datang dan pergi sesuai kebutuhan.
Kembali kuliah membuat saya melihat buku dengan cara yang berbeda. Buku-buku yang selama ini hanya sesekali saya buka mulai kembali mengambil peran dalam keseharian. Ada materi yang perlu dipahami, ada tugas yang harus diselesaikan, dan ada rasa ingin tahu yang sering kali mengantar saya pada halaman-halaman yang sebelumnya terabaikan. Dari situlah saya mulai menyadari bahwa membaca bukan sekadar kebutuhan sesaat, melainkan bagian penting dari proses belajar itu sendiri.
Namun, seperti hubungan yang lama berjarak, kedekatan dengan buku juga perlu dibangun kembali secara perlahan. Saya mulai membuka lagi buku-buku yang selama ini hanya tersusun rapi di rak. Kadang hanya beberapa halaman sebelum beralih ke pekerjaan lain, kadang lebih lama ketika menemukan bacaan yang benar-benar menarik.
Tidak ada target yang muluk-muluk. Saya hanya berusaha menghadirkan kembali kebiasaan yang sempat hilang dari keseharian. Kembali menjadi mahasiswa memberi saya alasan sekaligus dorongan untuk memulai proses itu.
Kini saya mulai memahami bahwa yang selama ini saya rindukan bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan kebiasaan belajar yang menyertainya. Buku-buku yang dulu hanya tersusun rapi di rak perlahan kembali menemukan jalannya ke meja belajar. Mungkin saya belum bisa membaca sebanyak yang saya inginkan, tetapi setidaknya saya sudah memulai. Dan untuk saat ini, membuka satu buku lalu membaca beberapa halaman terasa lebih berarti daripada terus-menerus menundanya untuk hari lain yang belum tentu datang.




