Rabu, 14/10/26 | 18:32 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar hiasan dinding. Di balik kalimat yang singkat, ternyata tersimpan cara pemilik kedai menyapa para pelanggannya. Ada yang mengajak tertawa, ada yang mengingatkan, dan ada pula yang membuat kita berpikir sejenak.

Kini setiap kali singgah di sebuah rumah makan, sebelum melihat daftar menu, mata saya justru mencari slogan yang terpampang di dinding. Rasanya selalu ada kejutan yang menarik untuk dibaca. Tidak jarang, kalimat sederhana itu justru lebih lama saya ingat dibandingkan rasa makanan yang disajikan.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Suatu hari perhatian saya tertuju pada sebuah slogan, “Bila Anda puas beritahu teman, bila tidak puas beritahu kami”. Kalimatnya singkat, tetapi pesannya jelas. Kepuasan rupanya layak dibagikan, sedangkan kekecewaan sebaiknya disampaikan kepada yang bisa memperbaikinya. Rasanya, itulah bentuk komunikasi yang sering kali terlupakan.

Di tempat lain saya menemukan tulisan yang membuat pengunjung tersenyum, “Silakan makan sepuasnya, yang penting jangan lupa bayar.” Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi pesannya jelas. Dengan sedikit humor, pengelola berhasil menyampaikan aturan tanpa terkesan menggurui. Cara sederhana seperti ini justru terasa lebih akrab.

Menariknya, tidak semua slogan berbicara tentang makanan. Ada yang berisi nasihat, motivasi, bahkan pengingat untuk menjaga kesehatan dan keselamatan. Barangkali pemilik kedai sadar bahwa pengunjung datang bukan hanya untuk mengisi perut. Ada yang sedang melepas lelah, berbincang dengan teman, atau sekadar mencari tempat beristirahat.

Bagi saya, slogan-slogan di kedai makanan adalah bukti bahwa kata-kata memiliki tempatnya sendiri. Kalimat yang singkat, jika disusun dengan tepat, mampu meninggalkan kesan yang panjang. Siapa sangka, dari tempat yang awalnya hanya dituju untuk mengisi perut, kita juga bisa membawa pulang sepotong pesan yang terus teringat sepanjang perjalanan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pengurus PC Nahdlatul Ulama Dharmasraya Dilantik, Bupati Annisa: Perkuat Kemitraan

Berita Sesudah

Lestarikan Budaya Minangkabau, Festival Sipak Rago Piala Bergilir Evi Yandri Kembali Digelar

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Lestarikan Budaya Minangkabau, Festival Sipak Rago Piala Bergilir Evi Yandri Kembali Digelar

Lestarikan Budaya Minangkabau, Festival Sipak Rago Piala Bergilir Evi Yandri Kembali Digelar

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026