Rabu, 22/4/26 | 01:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Minggu, 28/4/24 | 10:58 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

“Lah, emang cewe kalo lagi ngerumpi gak ngomongin cowo buncit? Jerawatan? Kelink? Pendek? Gaji kecil? Cowo broken home? Miskin?” tulis seseorang sebagai bentuk responsnya terhadap suatu hal yang dibahas di sebuah menfess. Seorang komika dalam salah satu siniarnya berkata bahwa ia melihat fisik perempuan dari mata kakinya. Apabila mata kakinya tidak hitam, berarti yang lainnya mulus. Sejumlah pengguna X bereaksi atas pernyataan komika tersebut.

Sebagian bereaksi karena si komika dianggap mengungkapkan informasi yang nyeleneh dan belum tentu benar. Sebagian lagi berkomentar karena pernyataan tersebut seolah menuntut perempuan untuk sempurna secara menyeluruh. Sebagian lainnya menganggap pernyataan itu bukanlah suatu yang patut dipersoalkan karena itu adalah sebuah kriteria seseorang.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Saya sendiri tidak heran dengan pernyataan si komika. Sebab, tidak hanya kali ini ia menyatakan hal yang nyeleneh terkait perempuan. Saya justru heran dengan salah satu tuduhan untuk merespons komentar-komentar netizen yang kontra dengan pernyataan si komika. Apakah perempuan bila berkumpul selalu merumpi? Apakah merumpinya seputar fisik laki-laki? Berdasarkan pengalaman sendiri tentu jawabnya ‘tidak’.

Saya memiliki beberapa kelompok pertemanan. Pertemanan semasa SMA, pertemanan semasa kuliah, pertemanan sesama organisasi, dan pertemanan lainnya yang dipertemukan oleh kesempatan-kesempatan tak terduga. Sesekali kami berkumpul dan mengobrol banyak hal. Akan tetapi, bila ditinjau ke belakang tidak pernah rasanya kami merumpi atau ngomongin laki-laki buncit, jerawaran, keling, pendek, bergaji rendah, broken home, dan miskin. Kami tidak punya waktu dan sama sekali tidak terpikirkan untuk mengobrolkan hal-hal yang tidak penting itu.

Semasa SMA, obrolan masa remaja tidak melulu soal kriteria pacar. Teman-teman saya lebih tertarik untuk mengobrolkan hal-hal yang ingin mereka lakukan lima hingga sepuluh tahun ke depan. Kami membahas cita-cita, hendak kuliah di mana, mengambil jurusan apa, profesi yang ingin digeluti, dan lain sebagainya tanpa menggibah fisik laki-laki seperti yang dituduhkan lewat cuitan tersebut.

Beberapa tahun kemudian, kami bertemu lagi. Akan tetapi tetap saja menggibah tentang laki-laki sama sekali tidak menarik. Obrolan berkembang sesuai usia. Kami mulai mengobrolkan politik sebatas yang kami pahami, kehidupan perkuliahan dan pekerjaan bagi yang sudah bekerja, rencana berkeluarga, mengeluhkan kondisi mental, dan sedikit-sedikit tentang parenting.

Stereotipe gibah atau rumpi terlanjur diidentikan dengan perempuan. Entah siapa yang memulai prasangka yang subjektif dan tidak tepat ini. Alih-alih merumpi berisikan mencemooh fisik laki-laki, kami perempuan nyatanya lebih tertarik untuk merumpikan drama-drama Korea yang kami tonton, merumpikan produk perawatan kulit yang mahal namun tidak begitu bagus, dan merumpikan perpolitikan busuk negara alakadarnya.

Tentu saja tulisan ini juga berisikan pendapat yang subjektif. Akan tetapi setidaknya membuktikan bahwa tidak semua obrolan perempuan berisikan gunjingan belaka. Adakalanya kami bertemu untuk berbagi informasi seputar karier (dengan teman yang sudah bekerja), pendidikan (dengan teman yang gila bersekolah), pola asuh (dengan teman yang sudah memiliki buah hati), dan topik-topik yang dirasa penting lainnya.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Berita Sesudah

Puisi-puisi Daris Kandadestra dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Daris Kandadestra dan Ulasannya oleh Dara Layl

Puisi-puisi Daris Kandadestra dan Ulasannya oleh Dara Layl

Discussion about this post

POPULER

  • Memahami Kembali Imbuhan memper-

    Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-Puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026