Jumat, 23/10/26 | 19:27 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Ribut-Ribut Soal Pembalut

Minggu, 31/3/24 | 13:55 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Tulisan ini didasarkan pada topik yang cukup ramai menjadi perdebatan di jagat aplikasi X beberapa hari belakangan. Topik yang diperdebatkan tersebut membuat pemilik akun antara laki-laki dan perempuan beradu argumen dengan cukup sengit. Beberapa argumen yang terlontar bahkan terkesan merendahkan dan menyepelekan salah satu gender dan persoalan yang sedang dibahas.

Beberapa hari sebelumnya seorang perempuan membuat sebuah utas berisi kritiknya terhadap jumlah maksimal personal hygiene item yang dibatasi beacukai. Item yang dimaksud ialah berupa pembalut, popok, dll. dengan jumlah maksimal lima buah untuk digunakan selama penerbangan. Menurutnya, aturan tersebut tidak masuk akal, terlebih bila penerbangan berlangsung hingga belasan jam dan memerlukan transit.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Ia mengemukakan pengalaman pribadi ketika naik pesawat saat menstruasi. Ia pernah mengganti pembalut sebanyak empat kali untuk kondisi menstruasinya dengan aliran yang tergolong normal. Lalu ia juga mengungkap kekhawatiran terhadap perempuan lain yang mengalami menstruasi dengan aliran yang deras. Lima pembalut tentu saja tidak cukup bagi mereka.

Akun lain menyela utas tersebut sekaligus merincikan berbagai kemungkinan maksimal berapa kali perempuan harus ganti pembalut selama penerbangan. Selaan itu berasal dari laki-laki yang besar kemungkinan tidak pernah berhubungan dengan soal ganti-mengganti pembalut seumur hidup. Akan tetapi, laki-laki itu berkomentar seolah ia pernah mengalami menstruasi.

Pengalaman menstruasi setiap perempuan tidak bisa digeneralisasi begitu saja. Bahkan, seorang perempuan bisa saja mengalami proses menstruasi yang berbeda setiap bulannya. Mulai dari gejala terhadap fisik dan psikis yang tidak selalu sama, hingga aliran yang kadang normal kadang deras berlebihan.

Sebagian perempuan cukup dengan pembalut biasa yang tidak lebih dari 25 cm dan cukup pula hanya menggantinya setiap 4 jam atau setiap buang air kecil. Namun, Sebagian perempuan lain harus menggunakan pembalut khusus malam atau 2 hingga 3 pembalut sekaligus untuk mengatasi aliran yang deras. Bahkan ada pula yang harus berganti pembalut setiap 15 dan 10 menit di hari-hari awal masa menstruasinya. Sebagian perempuan ada pula yang harus kekurangan kadar hemoglobin di angka 5 gram/dL di kala menstruasi saking derasnya aliran yang keluar. Rumitnya lagi, dari semua kondisi itu tidak selalu bisa diprediksi, kapan alirannya akan deras atau biasa saja.

Akun lain mencoba memberi solusi untuk mengatasi aturan beacukai dengan mengganti pembalut dengan menstrual cups. Sebagian perempuan mungkin saja bisa dengan mudah melakukan hal itu. Akan tetapi, apapun bentuk item yang digunakan ketika menstruasi, hal itu tergantung pada pilihan yang didasarkan pada kenyamanan dan kesehatan si pemakai. Satu merek pembalut saja belum tentu cocok untuk semua perempuan. Ada perempuan yang hanya cocok dengan merek tertentu sebab merek lain dapat menimbulkan iritasi. Begitu juga dengan pemakaian menstrual cups, ada yang cocok ada yang tidak.

Kerumitan bahasan ini baru terbatas pada pembalut, belum termasuk popok yang tentu saja tidak kalah rumitnya bagi orang tua yang harus melakukan penerbangan dengan membawa bayi. Bila beacukai merumuskan aturan ini untuk mencegah jastip yang sering mengakali birokrasi dan pajak, mengapa semua orang harus kena dampaknya? Semoga pihak berwenang dapat membuat aturan yang lebih mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan bersama.

Tags: Lastry Monika
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penulisan Huruf Kapital pada Peristiwa Bersejarah

Berita Sesudah

Ribut-Ribut Soal Pembalut

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah

Perampokan Bersenjata Api Beraksi di Dharmasraya, Aksinya Terekam CCTV

Discussion about this post

POPULER

  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Santri, Firdaus: Momentum Perkuat Peran Santri Membangun Peradaban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026