Minggu, 21/6/26 | 15:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Melek Bahaya Pestisida, Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat

Minggu, 04/9/22 | 07:24 WIB

Silvia Permata Sari
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

Kesehatan tubuh kita sangat tergantung dari apa yang kita makan. Dengan mengosumsi makanan yang aman dan sehat, akan dihasilkan tubuh yang sehat juga. Dalam menjaga hidup tetap sehat, sebagian orang mengonsumsi pangan yang dibudidayakan secara organik. Produk pangan yang dihasilkan dari budidayakan secara organik diyakini lebih sehat dan memiliki rasa yang lebih manis atau lezat. Hal itu karena produk pangan tersebut tidak mengandung residu kimia yang beracun.

Pestisida sintetik merupakan zat beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Hal ini disebabkan pestisida sintetik mengandung bahan kimia dan dapat menyebarkan radikal bebas. Bahan kimia seperti fungisida sintetik (untuk jamur), herbisida (untuk gulma), dan insektisida (untuk serangga) sering kali digunakan dalam pertanian konvensional (non-organik) yang residunya bisa saja tertinggal pada tanaman. Sedangjan radikal bebas dari pestisida dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, seperti mutasi gen dan gangguan susunan syaraf pusat. Selain itu, residu bahan kimia beracun yang tertinggal pada produk pertanian dapat memicu kerusakan sel, penuaan dini, dan munculnya penyait degeneratif.

BACAJUGA

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Produk pangan konvensional yang menggunakan pestisida dan pupuk kimia biasanya meninggalkan residu. Dalam sebuah artikel penelitian yang ditulis oleh Marbun pada tahun 2015, residu dinyatakan paling banyak terdapat dalam sayuran adalah pada penggunaan pestisida organofosfat, pestisida jenis ini sangat digemari oleh petani karena memiliki daya basmi yang kuat yang biasanya digunakan pada sayuran tomat dan wortel. Dalam penelitian tersebut, dijelaskan bahwa rata-rata penggunaan pestisida pada sayuran meninggalkan residu 0,5 mg/kg, namun demikian bila dikonsumsi secara terus-menerus akan mengakibatkan penumpukan residu pada tubuh yang tentu saja berbahaya bagi kesehatan.

Menurut WHO (World Health Organization), selama beberapa tahun terakhir banyak bermunculan penyakit akibat keracunan bahan kimia yang digunakan dalam budi daya pertanian konvensional (seperti pestisida sintetik dan pupuk kimia). Hal ini disebabkan pestisida sintetik yang disemprotkan ke tanaman akan masuk dan meresap ke dalam sel-sel tumbuhan, termasuk ke bagian akar, batang, daun, dan buah. Jika daun dan buah dimakan manusia, racun atau residu bahan kimia beracun tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia.

Dari beberapa penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa pestisida sintetik merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit kanker, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, racun kimia klorin yang terdapat pada pestisida sintetik dapat menyebabkan penyakit kanker payudara. Zat kimia tersebut juga mampu terakumulasi (menumpuk) lama di dalam tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak seimbang. Dari hasil berbagai penelitian, juga diketahui bahwa konsentrasi metabolit pestisida sintetik pada anak-anak yang mengonsumsi pangan non-organik lebih tinggi dibandingkan konsentrasi metabolit pestisida anak-anak yang mengonsumsi tanaman organik. Faktor kesehatan sangat diutamakan dalam budidaya tanaman secara organik, karena secara langsung berhubungan dengan kesehatan tanaman maupun kesehatan konsumen (manusia). Berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium diperoleh tanaman dari hasil budidaya secara organik mengandung 58% zat polifenoloid. Zat polifenoloid adalah salah satu antioksidan yang berguna untuk mencegah penyakit kanker.

Selain itu, berbagai penelitian mengenai residu pestisida sintetik juga sudah dilakukan di beberapa negara Asia terhadap pekerja wanita yang bekerja di perkebunan dan berhubungan langsung dengan pestisida, seperti para pekerja yang ada di Malaysia. Hampir setiap hari mereka mengaplikasikan pestisida paraquat, methamidophos, dan monocrotophos di lahan perkebunan. Akibatnya para pekerja tersebut mengalami gangguan kesehatan yang kronis dan akut, seperti gatal-gatal, sesak nafas, sakit dada, nyeri otot, mata rabun, pusing, mual, dan sakit kanker. Penelitian juga dilakukan di Amerika terhadap para pekerja wanita yang tinggal di daerah yang aplikasi pestisidanya tergolong tinggi. Hasilnya para pekerja wanita tersebut memiliki resiko dua kali lebih tinggi melahirkan bayi dalam keadaan cacat dibandingkan dengan wanita yang tinggal di daerah yang tidak menggunakan pestisida sintetik.

Berdasarkan uraian di atas, mari kita tingkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap apa yang kita konsumsi. Aspek kesehatan dapat dijadikan alasan bagi kita untuk mulai berubah, dan menyayangi tubuh kita. Sudah saatnya kita beralih pada gaya hidup sehat, seperti memperhatikan kebersihan dan mengolah bahan pangan tersebut dengan benar. Selalu cuci terlebih dahulu sebelum dimakan, sebaiknya dicuci pada air mengalir. Kemudian kupas dan buang kulit terluar dari sayuran/bahan pangan tersebut sebelum dikonsumsi. Terakhir, masaklah produk pangan tersebut sampai matang (artinya tidak dikonsumsi dalam keadaan mentah), sehingga aman bagi kesehatan kita.

Tags: #Silvia Permata Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Keberadaan Huruf H dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Berbincang dengan Diri Sendiri

Berita Terkait

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Berita Sesudah
Optimalisasi Penyuntingan di Media Massa Digital

Berbincang dengan Diri Sendiri

Discussion about this post

POPULER

  • Indra Gunalan Kembali Pimpin PKB Tanah Datar, Pasang Target Besar

    Indra Gunalan Kembali Pimpin PKB Tanah Datar, Pasang Target Besar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Objek Wisata Batu Malin Kundang Berubah Jadi Kolam Saat Hujan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “sudah” dan “telah”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cempaka Tanjung Pimpin Perempuan Bangsa Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026