Selasa, 13/1/26 | 19:54 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Minggu, 07/12/25 | 16:00 WIB

 

Oleh: Derry Sanjaya
(Mahasiswa Departemen Adminsitrasi Publik Universitas Andalas)

Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk untuk menjadi lembaga pusat yang mengoordinasikan kebijakan gizi nasional, menetapkan standar nutrisi, serta mengawasi implementasi program besar seperti Makan Gizi Gratis (MBG). Sebagai lembaga teknokratik, BGN seharusnya berisi para ahli nutrisi, epidemiolog, pakar pangan, peneliti kesehatan masyarakat, dan birokrat sipil yang memiliki kompetensi teknis. Namun, masuknya figur-figur berlatar belakang militer dalam struktur lembaga ini memunculkan pertanyaan besar mengenai urgensi dan motif di balik keputusan tersebut.

BACAJUGA

No Content Available

Pemerintah mungkin berargumen bahwa TNI memiliki kemampuan manajerial, kedisiplinan, serta pengalaman mengelola operasi skala nasional. Namun, konteks kerja BGN sangat berbeda dengan operasi militer. Pengelolaan gizi bukanlah persoalan keamanan negara, melainkan persoalan teknis kesehatan masyarakat yang memerlukan keahlian berbasis riset dan ilmu. Oleh karena itu, sulit menemukan dasar urgensi yang kuat bagi penempatan perwira aktif maupun purnawirawan TNI dalam jabatan strategis di BGN. Argumen kedisiplinan saja tidak cukup untuk menggantikan kebutuhan akan kompetensi ilmiah.

Alih-alih berbasis kebutuhan teknis dan pelibatan orang-orang TNI dalam BGN lebih tampak sebagai keputusan politis. BGN adalah lembaga baru dengan anggaran besar dan peran krusial dalam program unggulan pemerintah. Dalam dinamika politik Indonesia, lembaga besar seperti ini sering menjadi ruang penempatan figur yang dianggap perlu untuk diamankan oleh pemerintah. Dengan memasukkan unsur militer, pemerintah bisa memastikan kontrol yang lebih kuat atas lembaga dan program yang menjadi sorotan publik. Pendekatan seperti ini mengirimkan sinyal bahwa stabilitas politik dan kepentingan pemerintah mungkin lebih diutamakan dibandingkan kebutuhan teknokratis lembaga.

Keterlibatan TNI di BGN juga menimbulkan kekhawatiran melemahnya batas antara ranah sipil dan militer. Indonesia memiliki sejarah panjang pengaruh militer dalam institusi sipil. Ketika lembaga teknis seperti BGN diisi oleh aktor militer, ada risiko normalisasi kembali peran militer dalam pengambilan kebijakan sosial. Keadaan ini dapat memperlambat proses profesionalisasi birokrasi serta menghambat upaya memperkuat institusi sipil yang selama ini masih membutuhkan pembenahan.

Selain itu, penempatan personil TNI di BGN berpotensi mengurangi keterbukaan dan objektivitas dalam perumusan kebijakan gizi. Kebijakan gizi memerlukan pendekatan berbasis bukti, analisis ilmiah, dan riset nutrisi yang mendalam. Ketika jabatan-jabatan strategis ditempati oleh figur yang bukan berasal dari disiplin ilmu terkait, keputusan yang dihasilkan bisa dipengaruhi oleh pertimbangan politik dan kepentingan institusional, bukan lagi oleh data ilmiah. Hal ini berbahaya karena menyangkut hajat hidup masyarakat luas, terutama anak-anak yang menjadi sasaran program MBG.

Di sisi lain, kehadiran figur militer dalam BGN juga mereduksi ruang bagi para ahli sipil. Lembaga baru seperti BGN seharusnya menjadi wadah bagi para pakar nutrisi dan ahli kesehatan masyarakat untuk mendorong inovasi dan memperkuat bukti ilmiah dalam kebijakan. Ketika posisi penting justru diisi oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang keilmuan gizi, momentum penguatan institusi bisa terganggu. Kultur kerja ala militer yang hierarkis juga belum tentu cocok dengan dunia penelitian dan kebijakan gizi yang membutuhkan fleksibilitas dan pendekatan partisipatif.

Meski demikian, bukan berarti TNI tidak boleh terlibat sama sekali dalam pelaksanaan Program MBG. Peran mereka tetap sejalan dalam konteks tertentu, misalnya memperlancar distribusi logistik di wilayah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal) atau membantu pemerintah daerah yang mengalami keterbatasan infrastruktur. Peran tersebut semestinya berada di luar struktur inti BGN. Keterlibatan sebagai eksekutor lapangan tidak harus diterjemahkan menjadi penempatan figur militer di dalam lembaga perumus kebijakan.

Pada akhirnya, urgensi keterlibatan TNI dalam Badan Gizi Nasional perlu diuji secara terbuka. Apakah benar diperlukan untuk meningkatkan efektivitas lembaga atau sekadar pengisian posisi strategis demi kepentingan politik? Tanpa alasan yang jelas dan berbasis kebutuhan teknis, publik wajar meragukan keputusan ini. Jika tidak hati-hati, langkah ini justru dapat mengurangi kualitas kebijakan gizi nasional dan menghambat tujuan utama yang ingin dicapai oleh MBG itu sendiri.

Tags: #Derry Sanjaya
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemko Bukittinggi Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana di Tanah Datar

Berita Sesudah

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tuntut Hak Plasma 20 Persen, Ribuan Warga Asam Jujuhan Unjuk Rasa ke PT TKA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Rimbo Nan Tak Luko” Karya Tasya Syafa Kamila dan Ulasannya Oleh Azwar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Tinjau Jalan Berlubang di Ampang Kuranji, Gerak Cepat dengan PU Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024