
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Saya masih ingat buku panduan yang terselip di kotak ponsel pertama dibeli. Waktu itu, saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Buku itu cukup tebal, padahal ponselnya muat di telapak tangan. Kalau ada tombol yang belum diketahui fungsinya, saya tinggal membuka halaman yang menjelaskannya.
Sekarang, ketika membeli alat baru, saya sering hanya menemukan selembar kertas dengan kode batang. Untuk membaca buku panduannya, saya harus mengambil ponsel dan memindai kode itu terlebih dahulu. Begitu kode itu dipindai, buku panduan versi digital muncul di layar.
Kadang saya membukanya, menggeser beberapa halaman, lalu pindah ke YouTube. Dalam beberapa tahun terakhir, rupanya itulah yang lebih sering saya lakukan setiap kali berhadapan dengan alat baru. Saya mengetik nama alat itu di kolom pencarian, lalu memilih video yang langsung menjawab kebingungan tadi.
Hal yang membuat saya betah menonton adalah cara para pembuat video menjelaskan langkah-langkahnya. Di buku panduan, saya bisa membaca petunjuk seperti “tekan dan tahan tombol daya”. Di video, saya bisa melihat tombol mana yang dimaksud, berapa lama jari orang itu menahannya, dan apa yang muncul sesudahnya.
Kalau gerakannya terlalu cepat, saya tinggal menjeda video atau memutarnya kembali. Kadang saya ikut menekan tombol sambil melirik layar, lalu tersenyum sendiri ketika alat di tangan saya akhirnya merespons seperti yang diperagakan. Ada juga pembuat video yang sempat menunjukkan kekeliruannya sendiri. Ia salah menekan tombol, tertawa sebentar, lalu mengulangi langkahnya. Bagian seperti itu sering lebih mudah saya ingat.
Ketika melakukan kekeliruan yang sama, saya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Rasanya seperti duduk di sebelah seseorang yang sudah lebih dulu membuka kotaknya dan bersedia menunggu sampai saya bisa. Kalau mengingat ponsel pertama itu, saya masih bisa membayangkan buku kecil yang terselip di dalam kotaknya.
Saat menjeda video untuk mencoba sendiri, saya merasa seperti ditemani. Padahal, orang di layar itu bahkan tak tahu nama saya. Dari layar, saya bisa melihat tombol mana yang perlu ditekan. Dari buku panduan, saya bisa memahami kapan tombol itu digunakan, bagaimana alat dirawat, dan apa yang perlu diperiksa jika alat berhenti bekerja.
Di situlah kebiasaan membaca tetap penting. Ada petunjuk yang baru saya temukan ketika mau berhenti sejenak dan membaca pelan-pelan. Kadang, setelah video selesai, saya kembali membuka panduan yang tadi sempat terlewat. Rasanya seperti membuka lagi buku kecil dalam kotak ponsel pertama, dengan rasa ingin tahu yang sama seperti ketika masih berseragam sekolah.





