
Oleh: Tri Sutrisman
(Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Pernahkah kamu mendengar sebuah cerita menyeramkan yang konon benar-benar terjadi, tetapi tidak pernah diketahui secara pasti kebenarannya? Cerita itu mungkin bermula dari percakapan sederhana, kemudian menyebar dari satu orang ke orang lain hingga menjadi legenda yang dipercaya oleh sebagian masyarakat. Menariknya, cerita semacam ini tidak selalu berhenti sebagai kisah lisan. Dalam perkembangan budaya populer, legenda dapat diangkat menjadi film dan diperkenalkan kembali kepada khalayak yang lebih luas. Fenomena tersebut dapat kita telusuri melalui film horor The Doll Ghawiah, yang mengangkat legenda urban Boneka Uci dari Bandung. Film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga membuka ruang untuk memahami bagaimana sebuah cerita misterius bertahan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Film The Doll Ghawiah disutradarai oleh Guntur Soeharjanto dan berlatar di Bandung pada 1988. Ceritanya berpusat pada keluarga Arya dan Evi yang pindah dari Jakarta bersama kedua anak mereka, Gita dan Nala, untuk memulai kehidupan baru. Mereka kemudian membuka restoran di kawasan Babakan Siliwangi. Namun, keadaan berubah ketika Nala bertemu dengan seorang anak perempuan misterius di hutan dan mendapatkan sebuah boneka bernama Ghawiah. Setelah boneka itu dibawa pulang, berbagai kejadian aneh mulai mengganggu keluarga tersebut. Misteri semakin berkembang ketika mereka mengetahui legenda tentang Uci, seorang anak perempuan yang meninggal akibat kecelakaan tabrak lari dan dikaitkan dengan boneka kesayangannya. Kisah Uci menjadi bagian penting dalam rangkaian teror yang dialami keluarga Arya dan Evi.
Hal yang menarik dari film ini bukan hanya kehadiran boneka yang menyeramkan, melainkan hubungan ceritanya dengan legenda yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks tersebut, ilmu folklor dapat digunakan untuk memahami bagaimana sebuah cerita diwariskan, diceritakan kembali, dan memperoleh makna di tengah kelompok masyarakat. Folklor merupakan bagian dari kebudayaan yang hidup melalui tradisi, cerita, kepercayaan, dan berbagai bentuk ekspresi kolektif. Penyebarannya tidak selalu berlangsung melalui tuturan langsung. Pada masa kini, cerita folklor juga dapat beredar melalui media digital, buku, film, dan berbagai produk budaya populer lainnya.
Salah satu bentuk folklor yang relevan untuk membahas The Doll Ghawiah adalah legenda urban. Legenda urban merupakan cerita yang beredar dalam masyarakat modern dan sering disampaikan seolah-olah berkaitan dengan kejadian nyata. Ceritanya biasanya berhubungan dengan tempat, tokoh, atau peristiwa tertentu sehingga terasa dekat dengan kehidupan pendengarnya. Jan Harold Brunvand dikenal luas melalui kajiannya mengenai legenda urban dan penyebarannya dalam kebudayaan kontemporer. Melalui perspektif ini, legenda tidak hanya dipahami berdasarkan isi ceritanya, tetapi juga melalui cara cerita tersebut disampaikan, dipercaya, dan mengalami perubahan ketika beredar dari satu orang ke orang lain.
Legenda Boneka Uci menjadi menarik karena dikaitkan dengan lokasi tertentu di Bandung, yaitu kawasan Jalan Siliwangi dan Babakan Siliwangi. Keterkaitan antara cerita dan tempat membuat legenda tersebut terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Sebuah lokasi yang dikenal masyarakat dapat menjadi bagian penting dari pembentukan suasana misterius dalam cerita. Ketika seseorang mendengar legenda yang dikaitkan dengan tempat yang dapat dikunjungi, batas antara ruang keseharian dan dunia imajinasi seolah-olah menjadi lebih tipis. Tempat yang sebelumnya biasa saja dapat memperoleh makna baru setelah dikaitkan dengan kisah tragis atau kejadian yang dianggap ganjil.
Namun, penting untuk membedakan antara keberadaan legenda dan kebenaran seluruh peristiwa yang diceritakan di dalamnya. Cerita tentang Uci yang menjadi inspirasi film merupakan legenda urban yang perlu ditelusuri sumber dan dokumentasinya. Penggambaran mengenai arwah, boneka berhantu, atau kejadian supernatural tidak dapat langsung dianggap sebagai fakta hanya karena muncul dalam cerita yang dikenal masyarakat. Dalam kajian folklor, hal yang dapat diteliti justru mencakup bagaimana cerita tersebut beredar, bagaimana masyarakat memaknainya, dan mengapa kisah tertentu terus diceritakan. Dengan demikian, penelitian folklor tidak bertujuan membuktikan keberadaan makhluk gaib, melainkan memahami cerita dan kepercayaan sebagai bagian dari fenomena kebudayaan.
Jika ditinjau melalui pemikiran William R. Bascom, legenda merupakan salah satu bentuk narasi prosa rakyat yang memiliki karakteristik berbeda dari mitos dan dongeng. Legenda umumnya dikaitkan dengan dunia manusia dan tempat yang dikenal, serta sering diperlakukan oleh sebagian penuturnya sebagai cerita yang pernah terjadi. Karakteristik tersebut membantu menjelaskan mengapa legenda urban dapat terasa meyakinkan bagi pendengarnya. Hubungan dengan tokoh, tempat, dan peristiwa yang dianggap nyata membuat cerita lebih mudah diingat dan disampaikan kembali. Meski demikian, penggolongan sebuah cerita sebagai legenda tetap memerlukan pemeriksaan terhadap bentuk dan konteks penyebarannya.
Dalam film The Doll Ghawiah, boneka tidak sekadar hadir sebagai benda yang menimbulkan ketakutan. Boneka tersebut menjadi penghubung antara kehidupan keluarga Arya dan Evi dengan kisah Uci yang berasal dari masa lalu. Dari sudut pandang folklor, benda seperti boneka dapat menjadi pusat cerita karena memperoleh makna melalui kepercayaan dan narasi yang menyertainya. Boneka pada dasarnya merupakan benda yang akrab dalam kehidupan manusia, terutama dalam dunia anak-anak. Namun, ketika dikaitkan dengan kehilangan, kematian, dan misteri, benda yang sama dapat berubah menjadi simbol yang menakutkan. Perubahan makna ini memperlihatkan bahwa rasa takut dalam cerita tidak hanya dibangun oleh wujud suatu benda, tetapi juga oleh kisah yang dilekatkan masyarakat kepadanya.
Hal lain yang patut diperhatikan adalah proses perubahan legenda menjadi film. Ketika sebuah cerita yang beredar di masyarakat diadaptasi ke layar lebar, cerita tersebut tidak selalu dipindahkan secara utuh. Pembuat film dapat mengembangkan tokoh, menyusun konflik, menambahkan peristiwa, dan membangun suasana untuk menciptakan pengalaman sinematik. Karena itu, film yang terinspirasi oleh legenda urban perlu dibaca sebagai hasil pengolahan kreatif, bukan otomatis sebagai salinan persis dari cerita yang beredar sebelumnya. Untuk mengetahui perubahan tersebut secara lebih mendalam, penonton perlu membandingkan adegan film dengan versi legenda yang terdokumentasi melalui sumber lain.
Perubahan ini juga memperlihatkan bahwa folklor tidak selalu identik dengan sesuatu yang kuno atau hanya diwariskan dari generasi ke generasi melalui tuturan lisan. Cerita rakyat dan legenda dapat terus hidup dengan mengikuti perkembangan media. Jika dahulu sebuah cerita mungkin dikenal melalui percakapan antartetangga, sekarang cerita serupa dapat menyebar melalui media sosial, video, artikel, dan film. Media baru memberikan kesempatan bagi sebuah legenda untuk dikenal oleh orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mendengarnya. Pada saat yang sama, penyebaran tersebut juga memungkinkan munculnya versi baru yang berbeda dari cerita sebelumnya.
Pada akhirnya, The Doll Ghawiah dapat dipahami bukan hanya sebagai film horor tentang boneka misterius, melainkan juga sebagai pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara legenda urban dan kebudayaan populer. Melalui kajian folklor, kita dapat melihat bagaimana cerita memperoleh kekuatan dari keterkaitannya dengan tempat, tokoh, dan kepercayaan masyarakat. Kita juga dapat memahami bahwa sebuah legenda tidak harus terbukti sepenuhnya benar agar menarik untuk diteliti sebagai fenomena budaya. Yang terpenting ialah menelusuri sumbernya, memahami konteks penyebarannya, dan membedakan cerita yang berkembang dalam masyarakat dari fakta yang telah terverifikasi.
Mungkin, pertanyaan yang paling menarik bukanlah apakah boneka Ghawiah benar-benar menyimpan kekuatan gaib, melainkan mengapa kisah tentang sebuah boneka dapat terus memancing rasa ingin tahu dan ketakutan manusia. Sebab, terkadang yang membuat sebuah legenda bertahan bukan hanya misteri di dalam ceritanya, tetapi juga manusia yang terus menceritakan ulang kisah tersebut. Selama ada orang yang mendengar, mengingat, dan menyebarkannya, sebuah legenda berpeluang menemukan kehidupan baru bahkan di layar bioskop.








