
Oleh: Tri Sutrisman
(Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan sesuatu yang mungkin cukup sederhana dan sering dilakukan banyak orang, yaitu scrolling Reels di Instagram. Saat itu, saya tidak sedang mencari materi kuliah, tidak sedang membaca bahasa, bahkan tidak memiliki tujuan tertentu. Saya hanya menggulir video demi video yang muncul di beranda. Ada berbagai macam video yang lewat, sampai akhirnya muncul sebuah video dari sebuah akun yang sedang membahas satu kata dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut terdengar asing bagi saya, tetapi pada saat yang sama terasa begitu indah ketika diucapkan, yaitu kata itu adalah “semburat”.
Sebelum melihat video tersebut, saya sebenarnya pernah mendengar berbagai kosakata bahasa Indonesia yang terdengar puitis, tetapi saya tidak menyadari bahwa semburat juga merupakan salah satunya. Orang dalam video tersebut menjelaskan mengenai arti dan penggunaan kata semburat. Dari penjelasan sederhana itu, saya kemudian merasa penasaran. Bagaimana mungkin ada sebuah kata yang selama ini tidak pernah saya gunakan, tetapi ternyata memiliki makna yang begitu spesifik dan memiliki kesan estetis ketika digunakan dalam kalimat?
Rasa penasaran akhirnya membuat saya mencari tahu lebih jauh mengenai kata semburat. Dari pencarian itu, saya menemukan bahwa semburat bukan sekadar kata yang dibuat untuk memperindah kalimat. Kata tersebut memang tercatat dalam bahasa Indonesia dan memiliki makna yang jelas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), semburat merupakan verba yang berarti “memancarkan cahaya; bersinar”. KBBI juga memberikan keterangan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, yang ditandai dengan kode “Jw”. Dengan demikian, secara leksikal, semburat berkaitan dengan tindakan atau keadaan ketika sesuatu memancarkan cahaya atau menunjukkan sinar.
Pada tahap ini, saya mulai menyadari bahwa kata semburat dapat menjadi objek yang menarik untuk dikaji melalui ilmu semantik. Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna bahasa. Jika sebelumnya saya hanya melihat semburat sebagai sebuah kata yang terdengar indah, melalui semantik saya mulai melihatnya sebagai sebuah satuan bahasa yang mempunyai bentuk, makna, referen, konteks penggunaan, dan hubungan dengan kata-kata lainnya.
Secara sederhana, makna leksikal semburat dapat dipahami melalui hubungan dengan kata seperti cahaya, sinar, bersinar, atau memancar. Akan tetapi, meskipun memiliki hubungan makna dengan kata-kata tersebut, semburat tidak selalu memberikan kesan yang sama, misalnya kalimat “matahari bersinar” memberikan informasi secara langsung bahwa matahari menghasilkan cahaya. Sementara itu, apabila dikatakan “semburat cahaya matahari muncul di ufuk timur”, ungkapan tersebut terasa lebih visual dan menggambarkan suatu pancaran cahaya yang sedang tampak. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa makna sebuah kata tidak selalu cukup dipahami hanya melalui persamaan arti dengan kata lain. Konteks penggunaan juga ikut membentuk bagaimana kata tersebut dipahami oleh pembaca atau pendengar.
Dalam karya sastra, misalnya, kata semburat dapat memberikan kesan lembut, estetis, dan imajinatif. Kata tersebut dapat membantu pembaca membayangkan perubahan cahaya atau warna pada suatu keadaan tertentu. Menariknya, ketika saya mencoba melihat kata tersebut dari sumber kebahasaan yang lain, saya menemukan informasi yang semakin memperluas pemahaman saya. Kamus Bahasa Jawa-Indonesia (KBJI) yang dikelola Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat semburat dengan makna yang berkaitan dengan sesuatu yang “tercampur dengan warna lain”. Salah satu contohnya adalah semburat abang, yang berarti “agak merah” atau “ada merahnya”. KBJI juga mencatat bentuk yang berhubungan, seperti sumamburat, yang bermakna mengeluarkan cahaya.
Informasi tersebut membuat saya menyadari bahwa makna kata dapat memiliki hubungan yang lebih luas daripada satu definisi yang terdapat dalam kamus. Dalam penggunaan tertentu, semburat dapat berhubungan dengan cahaya, sedangkan dalam bahasa Jawa terdapat pula penggunaan yang berkaitan dengan warna. Hal tersebut memperlihatkan bahwa makna suatu kata perlu dilihat berdasarkan sistem bahasa dan konteks penggunaannya.
Dari sini, saya mencoba memahami semburat dengan pendekatan semantik. Salah satu hal yang dapat dilihat adalah makna leksikal, yaitu makna yang melekat pada satuan kata sebagai bagian dari kosakata bahasa. Dalam hal ini, semburat mempunyai makna yang berhubungan dengan pancaran cahaya atau bersinar. Namun, ketika kata tersebut digunakan dalam kalimat tertentu, muncul pula nuansa makna yang berbeda, misalnya, ungkapan “semburat merah di langit senja” tidak hanya menyampaikan informasi bahwa ada warna merah, tetapi juga menciptakan gambaran visual tertentu kepada pembaca.
Di sinilah, saya mulai memahami bahwa bahasa sebenarnya sangat dekat dengan pengalaman manusia. Kita melihat cahaya matahari, perubahan warna langit, cahaya pagi, atau cahaya senja, kemudian manusia memberikan nama terhadap pengalaman tersebut melalui bahasa. Kata-kata seperti semburat menjadi salah satu cara manusia mengungkapkan sesuatu yang mereka lihat dan rasakan.
Pemahaman tersebut kemudian membawa saya kepada hubungan antara semantik dan antropologi. Saya memilih antropologi karena antropologi mempelajari manusia dan kebudayaan, sedangkan bahasa merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Hubungan antara keduanya dapat dilihat melalui kosakata yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk menggambarkan lingkungan, pengalaman, kebiasaan, dan kebudayaan mereka.
Menurut Charles Butar-butar dalam buku Semantik yang diterbitkan oleh UMSU Press (2021), semantik memiliki hubungan dengan berbagai bidang ilmu lain, termasuk antropologi. Dalam pembahasannya mengenai hubungan semantik dan antropologi, analisis makna melalui pilihan kata yang digunakan penutur dapat memberikan gambaran mengenai klasifikasi praktis kehidupan budaya penuturnya.
Pendapat tersebut menjadi menarik jika dikaitkan dengan kata semburat. KBBI mencatat bahwa kata ini berasal dari bahasa Jawa. Sementara itu, KBJI juga menunjukkan bahwa kata tersebut mempunyai penggunaan dan hubungan makna dalam bahasa Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kata dapat membawa jejak dari masyarakat dan bahasa tempat kata tersebut berkembang.
Hubungan semantik dan antropologi dalam kata semburat tidak berarti bahwa kata tersebut secara langsung menjelaskan suatu kebudayaan tertentu. Namun, asal dan penggunaannya memperlihatkan bahwa bahasa merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Masyarakat menggunakan bahasa untuk memberi nama terhadap pengalaman yang mereka temui. Dengan demikian, kosakata dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat bagaimana manusia mengelompokkan dan menggambarkan realitas di sekitarnya.
Hal tersebut juga membuat saya berpikir bahwa sebuah kata sebenarnya mempunyai perjalanan yang panjang. Ketika kita menggunakan sebuah kata dalam percakapan sehari-hari, kita mungkin tidak pernah memikirkan dari mana kata tersebut berasal atau bagaimana maknanya terbentuk. Kita hanya menggunakannya karena sudah memahami maksudnya. Padahal, jika diteliti melalui linguistik, satu kata saja dapat membawa kita kepada pembahasan tentang makna, konteks, perubahan bahasa, masyarakat, dan kebudayaan.
Pengalaman menemukan kata semburat di Instagram akhirnya membuat saya melihat hal tersebut secara berbeda. Sebelum melihat video itu, saya tidak pernah merasa bahwa ada kata yang “hilang” dari perbendaharaan bahasa saya. Saya tetap dapat berbicara dan menulis tanpa menggunakan kata semburat. Namun, setelah mengetahuinya, saya justru menyadari bahwa bahasa Indonesia memiliki begitu banyak kosakata yang mungkin belum saya kenal.
Saya juga menyadari bahwa media sosial dapat menjadi tempat seseorang menemukan pengetahuan kebahasaan secara tidak sengaja. Video yang awalnya hanya saya lihat sebagai hiburan ternyata membawa saya kepada pembahasan yang berkaitan langsung dengan materi kuliah semantik. Dari sebuah Reels, saya kemudian mencari definisi kata, melihat asal-usulnya, membandingkan penggunaannya, dan mencoba memahami hubungan antara makna bahasa dengan kehidupan manusia.
Bagi saya, hal paling menarik dari kata semburat bukan hanya arti “memancarkan cahaya” atau “bersinar”. Hal yang lebih menarik adalah bagaimana sebuah kata dapat menghasilkan gambaran tertentu di dalam pikiran seseorang. Ketika mendengar ungkapan “semburat cahaya pagi”, kita tidak hanya memahami adanya cahaya, tetapi juga dapat membayangkan suasana pagi, perubahan warna, kelembutan cahaya, dan keadaan alam yang sedang mengalami perubahan.
Dengan demikian, semburat dapat menjadi contoh sederhana bahwa makna dalam bahasa memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar definisi kamus. Makna leksikal menjadi dasar pemahaman, sedangkan konteks penggunaan dapat memberikan nuansa tertentu. Asal-usul kata juga memperlihatkan bahwa bahasa memiliki hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan penuturnya.
Pada akhirnya, saya merasa pengalaman menemukan kata semburat di Reels Instagram menjadi pengalaman kecil yang justru relevan dengan pembelajaran semantik. Saya awalnya hanya sedang menggulir layar tanpa tujuan, kemudian menemukan sebuah kata yang belum saya kenal. Dari kata tersebut, saya mulai bertanya mengenai artinya, asal-usulnya, penggunaannya, dan hubungannya dengan bidang ilmu lain. Dari sana saya memahami bahwa mempelajari semantik sebenarnya tidak selalu harus dimulai dari teori yang rumit. Kita dapat memulainya dari kata-kata yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, semburat akhirnya bukan hanya sebuah kosakata yang berarti memancarkan cahaya atau bersinar. Kata tersebut menjadi contoh bagaimana bahasa mampu menyimpan pengalaman manusia dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebuah kata dapat menggambarkan sesuatu yang kita lihat, membangkitkan sesuatu yang kita rasakan, dan bahkan membawa kita untuk memahami hubungan antara bahasa dan kebudayaan.









