Minggu, 01/11/26 | 13:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Matilah kau mati, kau akan lahir berkali-kali.
— Laut Bercerita

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB
Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan oleh sebuah negara yang pernah berada di bawah penjajahan merupakan bagian dari sejarah panjang suatu bangsa. Namun, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Setelah berhasil melepaskan diri dari penjajahan, sebuah negara masih harus menghadapi berbagai persoalan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia, misalnya, mengalami sejumlah gejolak politik setelah kemerdekaan. Berbagai pergolakan tersebut meninggalkan persoalan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab, salah satunya adalah kasus penghilangan paksa terhadap sejumlah orang yang menyisakan cerita tentang penculikan, penyiksaan, dan ketidakpastian nasib mereka.

Tahun 1998 menjadi salah satu periode yang membekas dalam perjalanan sejarah Indonesia. Tahun tersebut menyimpan beragam ingatan: luka, kekecewaan, kemarahan, sekaligus kebanggaan atas keberhasilan meruntuhkan rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Peristiwa tersebut kemudian direfleksikan melalui berbagai medium, termasuk karya sastra. Salah satunya adalah Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Sejak pertama kali diterbitkan, novel ini telah menarik perhatian pembaca. Hal tersebut tidak terlepas dari penggunaan bahasa yang relatif mudah dipahami serta penggambaran detail mengenai perjuangan, perlawanan, dan kekerasan yang dialami oleh para anggota kelompok Winatra.

Pada rentang 2017 hingga 2023, sejumlah kegiatan pemutaran bersama (nonton bareng) film pendek Laut Bercerita yang berdurasi sekitar 30 menit telah beberapa kali diselenggarakan. Kegiatan tersebut selalu menarik perhatian publik. Antusiasme penonton, misalnya, terlihat dari ketersediaan kursi yang habis hanya dalam hitungan menit. Pengalaman tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa cerita Laut Bercerita memiliki daya tarik yang tidak hanya terbatas pada pembaca novelnya. Oleh karena itu, kehadiran Laut Bercerita dalam format film layar panjang menjadi sesuatu yang dinantikan, baik oleh mereka yang telah membaca novelnya maupun penonton yang baru mengenal cerita tersebut. Antusiasme ini juga terlihat dari tiket presale yang habis terjual untuk beberapa sesi pemutaran di salah satu bioskop di Kota Padang.

Antusiasme terhadap film ini menghadirkan persoalan yang menarik untuk dibicarakan. Pembaca yang telah lebih dahulu mengenal novel tentu membawa pengalaman dan imajinasi tertentu ketika menyaksikan versi filmnya. Mereka memiliki gambaran mengenai tokoh, peristiwa, bahkan suasana yang terbentuk selama membaca. Namun, apakah pengalaman tersebut akan sepenuhnya sama ketika cerita yang sebelumnya hadir melalui kata-kata kemudian ditampilkan melalui gambar dan suara? Di sinilah adaptasi menjadi proses yang menarik untuk dicermati. Sebuah cerita tidak sekadar berpindah medium, tetapi juga mengalami proses interpretasi dan penciptaan kembali.

Linda Hutcheon dalam A Theory of Adaptation (2006) menawarkan perspektif untuk memahami proses tersebut. Ia memandang adaptasi bukan sekadar reproduksi atau pemindahan sebuah karya ke bentuk lain. Adaptasi merupakan proses kreatif yang melibatkan interpretasi sekaligus penciptaan ulang. Salah satu gagasan penting yang dikemukakannya adalah repetition without replication, yakni pengulangan tanpa reproduksi yang identik. Artinya, sebuah karya yang diadaptasi tetap memiliki hubungan dengan karya sebelumnya, tetapi tidak harus menghadirkan keseluruhan unsur secara sama persis.

Pemikiran Hutcheon menjadi menarik karena adaptasi karya sastra ke film sering kali dinilai berdasarkan tingkat kesetiaannya terhadap karya sumber. Film yang menghilangkan tokoh, mengubah urutan peristiwa, atau memadatkan sejumlah bagian cerita kerap dianggap tidak mampu mempertahankan keutuhan novel. Padahal, perbedaan antara kedua karya tidak selalu menunjukkan kelemahan adaptasi. Perbedaan tersebut dapat muncul karena setiap medium memiliki karakteristik dan cara tersendiri dalam membangun serta menyampaikan cerita. Dengan kata lain, sesuatu yang dapat dijelaskan melalui narasi panjang dalam novel belum tentu dapat dihadirkan dengan cara yang sama dalam film.

Hutcheon juga menjelaskan tiga modes of engagement atau cara keterlibatan audiens dengan karya, yaitu telling, showing, dan interacting. Dalam konteks adaptasi novel ke film, perpindahan utamanya berlangsung dari telling menuju showing. Novel menyampaikan cerita melalui narasi, deskripsi, dialog, serta imajinasi yang dibangun oleh pembaca. Sementara itu, film menghadirkan cerita melalui gambar bergerak, suara, ekspresi, dialog, dan berbagai unsur sinematik. Perubahan medium tersebut memungkinkan munculnya pengalaman yang berbeda, meskipun cerita yang menjadi sumber adaptasinya tetap sama.

Hal ini terlihat dalam beberapa tokoh yang memiliki peran cukup penting dalam novel, tetapi tidak demikian dalam film. Misalnya, tokoh Naratama cukup menarik perhatian pembaca karena deskripsi sosok cowok yang cuek dan misterius, sehingga menimbulkan kecurigaan dari anggota Winatra lainnya. Namun, tidak demikian dalam film karena dia hanya seperti pemeran sampingan yang tidak memiliki arti penting dalam alur cerita.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa adaptasi tidak hanya berkaitan dengan persoalan pemindahan cerita, tetapi juga menyangkut keputusan kreatif dalam menentukan unsur-unsur yang perlu ditampilkan kepada penonton. Dalam proses ini, sejumlah tokoh atau peristiwa yang memperoleh ruang cukup luas dalam novel dapat mengalami pemadatan ketika dihadirkan dalam film.

Tidak hanya itu, penyampaian isu pada film akhirnya juga menimbulkan kekecewaan para penonton, terutama bagi mereka yang sudah membaca novelnya. Jika dikatakan bahwa yang digarisbawahi di dalam film adalah isu kekerasan atau penculikan, tetapi ternyata juga hanya dibahas pada bagian akhir saja atau tentang kehidupan mereka yang ditinggalkan juga tidak tergambar dengan jelas, misalnya, bagaimana sakitnya Asmara dan konfrontasi yang ia lakukan ketika orang tuanya masih menyiapkan piring, membersihkan kamar untuk Laut tidak tergambar dengan jelas, seperti narasi novel, bahkan isu pengkhianatan juga tidak tergambar dengan jelas.

Dalam hal ini, pemikiran Hutcheon tentang adaptasi sebagai repetition without replication tidak berarti bahwa setiap perubahan dalam film dapat dilepaskan dari konsekuensi naratifnya. Kebebasan untuk melakukan interpretasi dan penciptaan ulang tetap berkaitan dengan bagaimana sebuah cerita dibangun dan makna apa yang ingin dihadirkan. Perubahan atau penghilangan unsur tertentu dapat memengaruhi penekanan cerita, termasuk bagaimana penonton memahami kekerasan, kehilangan, dan ingatan yang menjadi persoalan utama dalam Laut Bercerita. Dengan demikian, persoalannya bukan lagi apakah film mampu mengikuti novel secara keseluruhan, melainkan apakah interpretasi baru yang ditawarkan film mampu mempertahankan kekuatan persoalan kemanusiaan yang menjadi dasar cerita tersebut.

Pada akhirnya, terlepas dari berbagai respons yang muncul setelah menyaksikan film ini, Laut Bercerita tetap menjadi pengingat bahwa cerita tentang sejarah dan kemanusiaan dapat terus dihadirkan melalui medium yang berbeda. Adaptasi tidak harus menjadi reproduksi yang identik dengan karya sumber, sebagaimana yang dijelaskan Hutcheon melalui gagasan repetition without replication. Namun, penciptaan ulang juga membawa konsekuensi terhadap penyampaian kembali cerita dan persoalan yang mendasarinya. Sebab, yang membuat Laut Bercerita terus diingat bukan semata-mata kisah tentang para aktivis yang dihilangkan, melainkan juga tentang mereka yang tetap hidup, menunggu, dan berusaha menerima kehilangan. Barangkali, di situlah cerita ini akan terus menemukan cara untuk lahir berkali-kali.

Tags: #Laut Bercerita#Rizky Amelya Furqan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mahyeldi: Guru Tak Boleh Menyeragamkan Kemampuan Siswa, Kenali Potensi Setiap Anak

Berita Sesudah

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Berita Terkait

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Berita Sesudah
Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

POPULER

  • Pemprov Sumbar Terapkan Syarat Inovasi untuk Kenaikan Jabatan ASN

    Pemprov Sumbar Terapkan Syarat Inovasi untuk Kenaikan Jabatan ASN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Bangsa Sumbar Soroti PPN Pembalut, Cempaka Tanjung: Kebutuhan Menstruasi Bukan Barang Mewah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satlantas Polres Pariaman Siap Laksanakan Operasi Patuh Singgalang 2026, Kerahkan 26 Personel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Percepat Pembangunan Asam Jujuhan, Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hadapi Ancaman Banjir, Pemkab Dharmasraya Cek Kesiapan Armada dan Logistik BPBD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Sosialisasikan Perda Koperasi dan Usaha Kecil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahyeldi Ingatkan Pemuda Sumbar: Narkoba dan Adu Domba Ancam Persatuan Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026